Kamis, 05 Maret 2009

Serba Tiga Nanoe di Pasar Badung

Nanoe Biroe, penyanyi pop Bali yang dijuluki The President of Baduda Republic, Selasa, 3 Maret 2009, dini hari merilis albumnya di Pasar Badung. Karena album ini merupakan album ke-tiga, acara diselenggarakan pada pukul 03.33 Wita, tanggal 3 bulan 3. Album yang dirilis tersebut bertajuk M3tamorforia (baca:metamorforia) yang berisi lagu-lagu ciptaan Nanoe dalam tiga bahasa: Bali, Indonesia, dan Inggris.

Dini hari itu, para fans Nanoe yang berjuluk Baduda dan Badudawati dengan sabar menanti momen peluncuran album sang pujaan. Mereka berbaur akrab dengan ibu-ibu pedagang sayuran dan pedagang bahan kebutuhan sehari-hari yang mengais rejeki di pasar tersebut.

Kata “baduda” adalah kata dari bahasa bali yang berarti kumbang tanah. Jenis kumbang ini paling suka berkutat di tanah menggemburkan kotoran yang telah mengering. Nanoe mengambil nama serangga itu untuk menjuluki dirinya yang memproklamirkan diri sebagai seniman yang dekat dengan masyarakat ‘bawah’.

Tanpa dinyana pilihan Nanoe untuk menjuluki dirinya mendapat simpati yang luas. Ribuan kawula muda Bali serta-merta dengan bangga menjuluki diri mereka sendiri sebagai Baduda (dan Badudawati). Persis seperti para penggemar Slank yang dengan bangga menyebut dirinya sebagai “The Slankers”. Diperkirakan, saat ini ada sekitar 100 ribu Baduda dan Badudawati tersebar di seluruh Bali. Sebuah jumlah yang menjadikan Nanoe sebagai penyanyi paling popoler di Bali saat ini.

Kembali ke soal peluncuran album, dini hari itu, di atas sebuah panggung kecil yang sederhana Nanoe menembangkan beberapa lagu terbarunya sembari memaparkan bahwa konsep kreatif album M3taforia didasari tiga semangat: bermimpi, beraksi dan berbagi.

Keisitimewaan lain album M3taforia ini adalah pada keberhasilan Nanoe mengajak para maestro musik Bali seperti Putu Indrawan, Putu Kabe, Manto dan Dodot untuk mengiringi salah satu lagu ciptaannya. Keempat musisi tersebut adalah pentolan grup band Halrey Angels yang pada tahun 1985 dinobatkan sebagai grup rock terbaik Indonesia. Grup band ini bubar karena beberapa personelnya memilih panggilan hidup menjadi spiritualis dan enggan untuk bermusik lagi.

Musisi kondang lainnya yang turut bermain dalam album M3taforia antara lain si magic fingers Wayan Balawan.

Rabu, 04 Maret 2009

Di Sanur, Bhikkhu Inggris Ungkap Rahasia Hidup Senang Mati Tenang

Venerable Ajahn Brahmavamso Mahathero atau juga dikenal dengan sebutan Ajahn Brahm, kembali mengunjungi Bali. Kali ini, bhikkhu senior kelahiran Inggris yang sudah lama mukim di Australia itu tampil sebagai narasumber tunggal di acara Dhammatalk (bincang-bincang Dhamma) dengan topik “Hidup Senang Mati Tenang” yang digelar di Sanur Paradise Plaza Hotel, Selasa 3 Maret 2009 mulai pk. 18.00 wita. Ini kali ketiga Ajahn Brahm bertandang ke Pulau Dewata, setelah acara Dhammatalk “Getting Better With Metta” (2006), dan “The Secret of Happiness” (2007).

Kehadiran Ajahn Brahm di Bali kali ini merupakan rangkaian terakhir dari roadshow di enam kota di Indonesia, setelah Palembang, Sukabumi, Jakarta, Medan, dan Surabaya. Acara ini sendiri terselenggara berkat kerjasama Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI) Bali bekerjasama dengan Ehipassiko Foundation. “Kehadiran Ajahn Brahm yang begitu dikenal piawai dalam membabarkan Dhamma akan sangat membantu menunjukkan jalan yang berguna agar hidup kita menjadi lebih baik, lebih bermanfaat dan berbahagia. Beliau terkenal karena kesederhanaannya, rasa humornya dan metoda pengajaran Dhamma-nya yang amat mudah dipahami,” demikian Pmd. N. Setiabudi, ketua panitia dhammatalk bersama Ajahn Brahm di Bali.

Pantia sendiri menyiapkan tak kurang dari 1.300 tiket secara cuma-cuma untuk mengikuti acara yang terbilang khusus ini, mengingat sangat sulit bisa bertatap muka langsung dengan Ajahn Brahm di tengah kesibukan dan aktivitas kebhikkuannya. Pemegang tiket juga bisa berdana secara sukarela, yang keseluruhan hasilnya akan disumbangkan untuk pembangunan Vihara Mpu Astapaka di Gilimanuk. Antusias untuk mengikuti acara ini datang dari berbagai kalangan lintas agama juga lintas golongan. Tak heran jika lima hari sebelum acara, tiket sudah habis dipesan. “I come to bring peace, happiness and harmony to all people in Bali,” ujar Ajahn Brahm sesaat sebelum bertolak ke Bali, dari Surabaya.

Tentang Ajahn Brahm
Ajahn Brahmavamso (atau lebih dikenal dengan sebutan Ajahn Brahm) terlahir dari keluarga pekerja di London, Inggris, 7 Agustus 1951 dengan nama Peter Betts. Beliau pernah memenangkan beasiswa untuk kuliah di Cambridge University mempelajari Fisika Teori.

Setelah menamatkan gelar dan mengajar selama setahun, Beliau pergi ke Thailand untuk menjadi Bhikkhu dan akhirnya ditahbiskan di Bangkok pada usia 23 tahun oleh Kepala Vihara Wat Saket kemudian melewatkan sembilan tahun untuk belajar dan berlatih meditasi dalam tradisi hutan di bawah bimbingan Venerable Ajahn Chah Bodhinyana Mahathera (Ajahn Chah). Pada tahun 1983, Beliau diminta membantu pendirian sebuah vihara hutan, Bodhinyana Monastery yang luasnya 100 hektar di dekat Perth, Australia Barat.

Selama 30 tahun sebagai Bhikkhu, lahir dan dididik di Barat, namun terlatih dalam tradisi hutan Thai, Ajahn Brahm telah menghimpun berbagai kisah yang menyentuh, menggelikan dan bermakna mendalam. Dalam kisahnya terdapat banyak cerita mengenai kebenaran hidup yang dapat digunakan meluncur ke tataran kesadaran, kebijaksanaan, cinta kasih dan belas kasih yang lebih mendalam. Pada setiap kisahnya kebenaran tampak nyata.

Ajahn Brahm terkenal karena kesederhanaannya, rasa humornya dan metoda pengajaran Dhamma-nya yang amat mudah dipahami. Saat ini dia menjabat sebagai Kepala Bodhinyana Monastery, Serpentine, Western Australia, Spiritual Director of The Buddhist Society of Western Australia, Spiritual Advisor to the Buddhist Society of Victoria and South Australia, dan Spiritual Patron of the Buddhist Fellowship.

Tahun 2004 Ajahn Brahm menerima penghargaan John Curtin Medal dari Curtin University.


Moving Shop, Setiap Hari Keliling Denpasar

Ada begitu banyak cara pedagang untuk menjaring pembeli. Salah satu cara adalah dengan mendatanginya ke kantong-kantong keramaian. Ini yang dilakukan D-Media dengan moving shop nya. Sebuah bus berukuran sedang mereka ubah menjadi toko berjalan untuk menjajakan barang-barang dagangan mereka. Dagangan yang mereka tawarkan bermacam-macam. Dari tas dan dompet kulit, arloji, kerajinan perak, aksesoris, hingga T-Shirt.

Setiap hari mereka berkeliling mendatangi titik-titik keramaian di kota Denpasar dan sekitarnya antara lain di tempat parkir rumah makan Bumbu Desa Renon, depan Yayasan Pendidikan Santo Yoseph, Lapangan Lumintang, trade center jalan Hayam Wuruk, Lapangan Bajra Sandhi Renon, dan di dekat markas mereka di Sentral Parkir Kuta Galeria.

Untuk meladeni pembeli, dalam moving shop tersebut terdapat seorang manager dan dua sales promotion girls (SPG). Dalam sehari, target penjualan yang mereka tetapkan sebesar Rp 3 juta. Namun kenyataannya, penjualan tiap harinya fluktuatif.

“Kalau sedang beruntung, kami bisa mencapai dua kali lipat dari target. Sedangkan kalau lagi sepi, hanya sepertiga saja yang kami capai,” ujar Komang Kembar, pengemudi moving shop yang sekaligus bertugas meladeni pembeli.


Selasa, 03 Maret 2009

Pentas “Sri Tanjung” Dipadati Ekspatriat dan Mahasiswa

Drama-tari “Sri Tanjung – The Scent of Innocent” garapan sutradara kondang Kadek Suardana yang dipentaskan di Pusat Kesenian (Art Center) “Werdhi Budaya” Denpasar 27-28 Pebruari yang lalu berlangsung sukses. Drama-tari yang menghadirkan berbagai inovasi dalam garapan musik, kidung dan pemeranannya itu memukau ratusan pengunjung yang menyaksikannya.

Paduan antara alunan musik, liuk kidung, dan geliat tari yang begitu kompak membuat penonton terpesona. Padahal, hampir semua dialog yang dilontarkan oleh para pemeran adalah bahasa Jawa Medahan (pertengahan) yang tak dimengerti oleh sebagian besar penonton. Dialog verbal yang terlontar itu luluh menjadi bagian dari musik-kidung yang begitu padu. Dan, hal itu memang disengaja oleh Kadek.

Di antara para penonton yang tampak terpesona tersebut terdapat sekitar 100 orang ekspatriat dan 79 orang pelajar dan mahasiswa dari Universitas Udayana. “Mereka adalah penonton yang memesan secara berkelompok sehingga kami tahu dari komunitas mana mereka berasal,” papar Maria Ekaristi yang mengoordinasikan penjualan tiket.

Menurut Eka, total penonton dan undangan yang hadir menyaksikan pementasan ini tak kurang dari 700 orang. Dan, dalam perbincangan setelah pertunjukan usai, beberapa penonton ekspatriat yang hadir menyatakan puas dan berharap agar pementasan semacam ini bisa lebih sering diselenggarakan.

Berita Terkait: Jelang Pentas, 80 Persen Tiket "Sri Tanjung" Terjual
Blog Resmi klik "Sri Tanjung"

Kuta dan Nusa Dua Steril Kampanye

Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Badung mengeluarkan kebijakan mengenai larangan berkampanye untuk pemilihan umum di dua kawasan wisata Bali yakni Kuta dan Nusa Dua. Segala macam bentuk atribut kampanye tidak diperkenankan dipasang di dua kawasan tersebut. Berbagai kegiatan kampanye berupa pengerahan massa dan semacamnya pun tidak diperkenankan di dua wilayah tersebut.

Kebijakan tersebut ditetapkan setelah beberapa pemuka masyarakat Kuta melakukan pertemuan dengan beberapa calon anggota legislatif (caleg) dan menyatakan keberatan masyarakat terhadap pemasangan berbagai atribut kampanye seperti poster dan baligo yang membuat jalan-jalan tampak kacau dan tak sedap dipandang. Apalagi beberapa baligo caleg yang dipasang secara serampangan rubuh tertiup angin. Hal itu selain merusak estitika kawasan, juga membahayakan pengguna jalan yang sebagian di antaranya adalah wisatawan.

Bersihnya kawasan Kuta dan Nusa Dua dari kampanye politik bukan baru terjadi sekarang. Sejak pemilihan presiden (pilpres) tahun 2004 dan pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung untuk memilih gubernur tahun 2008, dua kampung turis tersebut sepi dari aktivitas kampanye.

Keterangan foto: Atribut kampanye caleg di Desa Pemogan, Denpasar.

Senin, 02 Maret 2009

Luna Maya Bikin Denpasar Matot

Kehadiran Luna Maya ke kota kelahirannya membuat sebagian ruas jalan utama kota Denpasar matot alias macet total. Maklum, kehadiran Luna kali ini bukan sekadar pulang kampung, melainkan mengantarkan artis-artis ibukota untuk menyapa masyarakat masyarakat Denpasar dengan hiburan-hiburan segarnya.

Minggu sore itu (1/3), Luna Maya bersama Raffi Ahmad dan Olga Syahputra membuka acara dengan sapaan hangat yang membuat penonton yang memadati panggung di depan sebuah pusat perbelanjaan tersebut sontak berteriak penuh histeria. Kemudian mereka menggiring penonton untuk menikmati satu demi satu penampilan dari Nineball, The Titan, Pasto, dan Magneto. Selain pementasan live music, acara dimeriahkan dengan pemutaran video klip grup-grup band terdahsyat versi TV swasta tersebut di layar LCD.

Acara sore itu memang acara pentas hiburan gratis yang digelar oleh sebuah stasiun TV swasta Jakarta. Acara tersebut bertajuk Panggung Dahsyat yang diselenggarakan di berbagai kota dan daerah di Indonesia. Di Bali sediri, acara digelar di beberapa tempat. Sehari sebelumnya, Minggu (28/2) Luna dan kawan-kawan menghibur publik Kuta dengan acara serupa yang di gelar di depan Hard Rock Café.

Tempat gelaran yang sempit tak pelak membuat suasana acara menjadi nyaris kacau. Penonton yang penasaran ingin melihat artis idola mereka dari jarak dekat terus merangsek ke panggung dan melanggar pagar pembatas. Untunglah aparat keamanan bertindak sigap sehingga tak terjadi kericuhan. Beberapa penonton menyesalkan pelaksanaan acara ini di tenpat yang sempit dan di ruas jalan utama. Terlebih masyarakat Bali yang tak terlalu silau dengan kehadiran artis ibukota. Mereka menggerutu karena jalanan macet dan aktivitas mereka menjadi terganggu.

Foto: Nyoman Wija/Radar Bali