Jumat, 13 Maret 2009

Akan Dilarang, Masuk Kuta dengan Kendaraan Pribadi

Kian padatnya aktivitas wisata di pantai Kuta membuat lalu-lintas semrawut dan tak teratur. Selain jalur yang sempit, deretan kendaraan yang diparkir di tepi jalan membuat ruas-ruas jalan utama di kawasan Kuta kerap macet. Pada waktu-waktu tertentu, kemacetan tersebut bahkan sangat parah. Akibatnya kenyamanan pelancong jadi terganggu. Untuk mengatasi kondisi tersebut, Komisi A DPRD Badung mengusulkan untuk melarang kendaraan pribadi masuk kawasan Kuta. Seluruh pelancong yang hendak masuk kawasan kuta harus menggunakan angkutan khusus yang disediakan oleh Pemerintah.

Lalu, di mana wisatawan yang menyewa/membawa kendaraan sendiri memarkir mobilnya jika mereka hendak masuk kawasan Kuta? Untuk masalah ini, para anggota dewan tersebut merancang tiga lahan parkir baru di wilayah Kuta. Dari areal parkir tersebut, para wisatasan kemudian menggunakan kendaraan khusus memasuki wilaya Kuta. Adapun areal yang diusulkan adalah di bekas Pasar Pagi depan LPD Kuta, di Jalan Arjuna (Jalan Double Six) Seminyak, dan di Pasar Kuta.

"Saya kira ini salah satu cara untuk mengatasi masalah lalu-lintas Kuta yang kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan," papar Gusti Ngurah Sudiarsa, Ketua Komisi A DPRD Badung kepada wartawan beberapa hari lalu.

Pokoknya, tekad Sudiarsa, lahan parkir tersebut diupayakan untuk segera rampung pada bulan Agustus tahun ini. Dan, untuk membuat masyarakat menurut dan mau memarkir kendaraan mereka di tiga area parkir tersebut, Dewan Badung mengajak semua pihak yang berkepentingan dengan nyamannya kawasan Kuta turut terlibat, termasuk Desa Adat dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kuta.

Rabu, 11 Maret 2009

Kadal Yang Aneh Dan Unik


Australian's Thorny Devil Lizard




Italian Wall Lizard





Armadillo Lizard




Indonesian's Lizard





Black Amazonian Lizard


San Diego Lizard





Dragon Lizard




Pondok Rasa, Warung Makan Pilihan di Utara Denpasar

Ini adalah satu dari sekian warung makan di Bali yang menyajikan makanan yang ciamik dengan harga murah dan pelayanan yg memuaskan. Namanya “Warung Makan Pondok Rasa”. Makanan yang tersedia di warung ini adalah untuk semua kalangan, dari anak-anak sampai dewasa. Konsep ini tercetus dari pengamatan Kiki Melanie, sang pemilik warung, yang kerap melihat pertentangan selera orangtua dan anak-anak saat memilih makanan di warung/restoran dan seringkali satu dari mereka tak terpenuhi keinginannya karena tak terdapat pilihan di warung/restoran tersebut.
Masakan di “Warung Makan Pondok Rasa” cukup variatif. Di sana tersedia berbagai olahan hasil laut (ikan, kerang, cumi, udang), ayam, dan sayuran. Harganya Rp 12.500 per porsi. Ada juga hidangan atau penganan yang harganya rata-rata Rp 5 ribu per porsi.

Selain makanan, di warung yang terletak di Jalan Raya Kapal ini tersedia juga berbagai pilihan dessert seperti pisang goreng, es krim, es buah dengan es krim, pancake dengan es krim, dan lain-lain. Untuk minuman, tersedia beberapa macam seperti fresh juice, lassie, iced blended coffee, dan lain-lain.

Warung makan dengan andalan kerang bakar ini bisa menjadi pilihan bagi kamu yang datang ke Bali menggunakan kendaraan sendiri. Dari arah Gilimanuk, sebelum masuk kota Denpasar atau menuju Kuta, kamu dapat dapat mampir dulu untuk menghilangkan penat dan mengganti energi yang terkuras setelah menempuh perjalanan jauh. Dari arah ini, posisi “Warung Makan Pondok Rasa” sekitar satu kilometer setelah Rumah Sakit Umum Daerah Kapal, di sisi sebelah kiri jalan.

Atau, warung makan ini bisa juga menjadi pilihan bagi kamu yang hendak melancong ke Bedugul, Taman Ayun, atau menuju Bali Barat. Dari arah Denpasar atau Kuta, warung ini terletak sekitar tujuh kilometer dari terminal Ubung, di sisi sebalah kanan jalan raya.

Jika bingung memilih kombinasi makanan, kalian dapat memesan paket-paket yang tersedia seperti paket ayam (nasi,ayam bakar/goreng, srombotan/plecing) seharga Rp 15.000; paket biasa (nasi, ikan bakar 300 gr, srombotan/plecing) seharga Rp 27.500;
paket spesial (nasi, ikan 250 gr, kerang, cumi bakar, srombotan/plecing) seharga Rp 30 ribu; paket komplit (nasi, ikan250gr, kerang, cumi, udang bakar, srombotan/plecing)
Rp 40 ribu.

Setelah beberapa tahun berdiri, warung makan Pondok Rasa membuka cabang di kota Denpasar. Lokasinya di dekat Hotel Nikki atau Rumah Sakit Puri Bunda di Jalan Gotot Subroto Denpasar.

Kontak:
Warung Makan Pondok Rasa
Jl. Raya Kapal No. 16 Badung
Telp. 0361 7472643

Segera Hadir Beberapa TV Lokal di Bali

Tak lama lagi masyarakat Bali bakal memiliki banyak alternatif tontonan dari stasiun televisi lokal. Soalnya, Forum Rapat Bersama (FRB) untuk menentukan izin siaran TV lokal di Bali memutuskan untuk menerima hasil Tim Seleksi yang telah me-ranking para pemohon dan mengusulkannya kepada Menkominfo untuk disetujui.

Dalam FRB yang diselenggarakan di Hotel Ibis Kemayoran, Jakarta, Rabu (18/2/2009) itu dibahas soal pengajuan permohonan Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) oleh empat 'pengelola' stasiun televisi swasta lokal yang telah diseleksi oleh Tim Seleksi yang ditetapkan oleh Menkominfo.

Pada kesempatan tersebut, Tim Seleksi melaporkan kepada forum dalam bentuk Berita Acara Hasil Seleksi, di mana isinya antara lain adalah rekapitulasi hasil penilaian yang disusun berdasarkan rangking.

Adapun pemohon Izin Penyelenggaraan Penyiaran tersebut adalah:
1. PT. Bali Music Channel (BMC)
2. PT. Alam Bali Semesta Televisi (ATV)
3. PT. Bali Ranadha Televisi (Bali TV)
4. PT. Mediantara Televisi Bali (Dewata TV)

FRB dipimpin oleh Direktur Usaha Penyiaran, Direktorat Jenderal Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi, Departemen Komunikasi dan Informatika RI, dan dihadiri oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat beserta Sekretariatnya; Direktorat Jenderal Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi, Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi termasuk Balmon Kelas II Denpasar, Departemen Komunikasi dan Informatika; KPID Bali; dan Dinas Perhubungan Komonikasi dan Informatika Provinsi Bali.

Saat ini, TV lokal yang telah beroperasi di Bali hanya berbekal Surat Rekomendasi Kelayakan dari KPID Bali. Stasiun tersebut adalah Bali TV, Dewata TV dan BMC. Sempat juga mengudara Jimbarwana TV namun segera ditutup karena tak memiliki ijin sama sekali (abe).

Sumber: Depkominfo

Perajin Patung Bali Kesulitan Bahan Baku

Beberapa tahun belakangan ini para perajin patung Bali mengalami kesulitan mendapatkan bahan baku. Sejak adanya pembangunan pabrik kayu olahan di Bali dan pengiriman kayu terutama kayu jenis albesia keluar daerah telah merugikan masyarakat perajin di Bali. Hal itu sempat tercetus pada pertemuan antara masyarakat perajin di desa Mas Gianyar dengan Menteri Pariwisata dan Kebudayaan RI, Jero Wacik, saat Sang Menteri melantik pengurus himpunan seniman "Graha Krya Kencana" di desa setempat, Selasa (10/3) lalu.

Kepada Wacik, Bupati Gianyar Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati mengatakan bahwa masalah ini sudah mengarah serius dan harus segera ditangani. Memang, menurut beberapa catatan media, sudah bertahun-tahun persoalan ini muncul namun hingga kini belum ada pemecahan yang strategis dan berkesinambungan. Tahun 2008 lalu, misalnya, perajin Bali yang mengalami kesulitan mendapatkan bahan baku terpakasa bersandar pada kiriman kayu dari Jawa dan daerah lainnya.

Buntut dari kesulitan tersebut menurut Ketut Dharma Siadja, seorang ekportir kerajinan kayu dari Mas - Gianyar, bukan saja membuat perajin sulit berproduksi tetapi juga menyulitkan eksportir dalam pemasaran. Di tengah persaingan yang semakin ketat di pasar internasional, hal tersebut membuat harga produk kerajinan kayu asal Bali menjadi lebih mahal sehingga sulit bersaing dengan produk kerajinan serupa asal negara lain seperti Vietnam dan Thailand.

Menurut laporan koran “Bisnis Bali”, tahun lalu saja harga kayu Suar mencapai Rp 8 Juta per truk. Padahal kayu jenis ini sangat diperlukan sebagai bahan baku pembuatan aneka kerajinan patung terutama jenis patung Buddha dan naga untuk dikirim ke pasar di Amerika Serikat, Eropa, Asia dan Australia.

Selain kayu Suar, kayu jenis Albasia juga sulit didapat. Terbatasnya persediaan kayu albasia, membuat harganya melonjak mencapai Rp3 juta per meter kubik. Harga yang sangat memberatkan perajin kayu.

Diduga, kesulitan bahan baku kayu ini disebabkan oleh didirikannya pabrik kayu lapis di kabupaten Bangli beberapa tahun lalu (abe).


Senin, 09 Maret 2009

Tujuh Desa Wisata Baru di Badung

Wisata pedesaan rupanya memiliki daya tarik yang cukup besar bagi pelancong. Beberapa desa wisata seperti Ubud, Penglipuran, Tenganan, Kerta Langu telah terbukti punya daya pikat yang kuat untuk menyedot pelancong dari dalam dan luar negeri untuk datang bertandang. Belajar dari pengalaman tersebut, kini Pemerintah Kabupaten Badung tengah menyiapkan tujuh desa untuk dijadikan desa wisata. Ke-tujuh desa tersebut adalah Petang, Munggu, Bongkasa, Mengwi, Sangeh, Kapal dan Baha.

Upaya menjadikan ke-tujuh desa di atas menjadi desa wisata tak akan mengubah struktur dan kondisi desa tersebut. Tata ruang dan lingkungan alam akan dipertahankandan dijaga. Malah, beberapa lingkungan yang rusak akan diperbaiki dan dikembalikan keasriannya.

“Ini adalah sebuah upaya mengembangkan industri pariwisata dengan tetap menjaga kelestarian alam,” ungkap AA RakaYudha, Kepala Bidang Penataan Obyek Pariwisata Dinas Pariwisata Daerah Kabupaten Badung, kepada wartawan.

Di samping itu, menurut RakaYudha, konsep ini akan menjadikan pariwisata sebagai milik masyarakat desa. “Akan semakin banyak masyarakat mendapat cipratan bahkan limpahan rejeki dari obyek pariwisata model ini,” imbuhnya.

Namun rialisasi niat baik tersebut masih sedikit terkendala. Kurangnya sarana akomodasi nerupakan kendala utama menjadikandi desa-desa tersebut sebagai desa wisata. Namun demikian, Raka Yudha tetap optimistik bahwa kendala ini akan segera dapat diatasi. Ia berencana melakukan pendekatan ke pelaku-pelaku wisata untuk mencari jalan keluar untuk hal ini.

Tujuh desa yang disebut di atas memang layak dikembangkan menjadi desa wisata sebab masing-masing desa itu memiliki potensi yang hebat. Desa Petang memiliki potensi ekowisata yang sangat baik, Sangeh memiliki hutan kera yang unik, Bongkasa memiliki Sungai Ayung yang selain menawan juga menyenangkan untuk rafting, desa Kapal memiliki pura Sada yang menarik dan tradisi perang ketupat, desa Munggu memiliki tradisi makotek (perang bambu), desa Baha memiliki pemandangan persawahan yang indah, dan desa Mengwi memiliki pura Taman Ayun yang cantik.