Sabtu, 28 Maret 2009

Pasar Majalangu, Pasar Dadakan di Pantai Kuta

"Happy New Year Saka 1931 to all of our visitor. Watch your bag! Watch your bag! Look after your belonging, please! Once again, watch your bag and look after your belonging, please. Thank you," terdengar himbauan Pecalang Desa Adat Kuta via pengeras suara untuk mengingatkan para pengunjung terutama wisatawan asing yang memadati Pasar Majalangu pada hari Jumat, 27 Maret 2009.

Pasar Majalangu adalah "pasar dadakan"
di Pantai Kuta yang digelar setiap tahun, sehari setelah perayaan hari Nyepi. Para pedagang yang berpartisipasi biasanya para Pedagang Kaki Lima yang pada hari-hari biasa dilarang untuk menggelar barang dagangannya di seputar Pantai Kuta. Mulai dari pakaian, sepatu, sandal, tas, jam, kacamata, barang kerajinan, permainan anak-anak hingga makanan/minuman, semua tersedia dan tentu dengan harga yang sedikit lebih murah dari hari biasa (disertai pintar-pintar menawar tentu saja).

Tradisi ini sudah dilaksanakan Desa Adat Kuta sejak bertahun lamanya. Untuk kelancaran Pasar Majalangu, Desa Adat Kuta menghimbau seluruh outlet (toko maupun restoran) di sekitar pantai Kuta untuk tidak buka sebelum pukul 12.00 WITA, yakni pada saat penyelenggaraan Pasar Majalangu.

Pengunjung yang datang bukan saja dari wisatawan lokal, tapi juga wisatawan manca negara yang ingin menikmati Nyepi di Bali. Seperti Edward, seorang wisatawan dari Adelide-Australia, mengungkapkan bahwa ini kali pertama dia dan temannya menikmati Nyepi di Bali. Ini karena keingintahuannya tentang bagaimana sebenarnya penyelenggaraan Nyepi di Bali. Dia dan temannya amat menikmati suasana Nyepi, tanpa suara, tanpa kegiatan dan bebas polusi. Edwardpun berencana akan datang lagi pada Nyepi tahun depan bersama lebih banyak teman dan keluarganya. Dia juga menikmati pawai ogoh-ogoh pada malam Pengerupukan, tanggal 25 Maret, malam sebelum Nyepi, hal yang tidak bisa ditemui pada hari-hari biasa. Tentu saja, Nyepi kan setahun sekali...

Video Tanggul Situ Gintung Jebol..! Exclusive Amatir Video

Tanggul air di sekitar Situ Gintung, Ciputat, jebol akibat tidak dapat menahan debit air setelah hujan turun di wilayah yang terletak 2 kilometer dari perbatasan DKI Jakarta dengan Provinsi Banten tersebut. Beberapa rumah warga di sekitarnya terbawa arus setelah tanggul tersebut jebol, Jumat (27/3) sekitar pukul 02.00.



Video: Exclusive Amatir Video Tanggul Situ Gintung Jebol

pukul 06.00, warga di sekitarnya mengungsi ke Universitas Muhammadiyah. Genangan air menyusut setelah menggenangi rumah warga hingga lebih dari 2 meter.

Beberapa warga sempat terkurung karena tingginya air sehingga harus berlindung di atap rumah. Sebagian besar rumah yang terendam berada di wilayah lembah, seperti perumahan Cirendeu Permai.


Ikan Seberat 50 Kilogram Ditemukan di Gintung

Ada pepatah mengatakan di mana ada musibah, di situ pasti ada hikmah. Saat melakukan pencarian korban akibat jebolnya tanggul Situ Gintung, Tim search and rescue (SAR) justeru menemukan ikan seberat 50 kilogram.

Peristiwa tersebut terjadi saat Ikmal Ramdhan dan Iman, anggota tim SAR sedang menyisir reruntuhan di RT4/8 pukul 16.00 WIB. Saat itu, Ikmal melihat gerakan di antara reruntuhan rumah.

"Saya kira awalnya ada manusia yang selamat, namun saat didekati ternyata ikan patin berukuran besar. Karena berat, saya meminta bantuan Iman untuk mengangkat," kata Ikmal kepada wartawan di lokasi reruntuhan, Cirendeu, Tangerang, Jumat (27/3/2009).

Setelah diangkat, lanjut dia, ikan tersebut berukuran panjang 1,5 meter dengan berat 50 kilogram. Ikan dengan tekstur mayoritas putih dan sirip merah itu kemudian ditaroh di ember.

Ikan ini menjadi perhatian dan tontonan warga. Pasalnya, ikan berukuran besar ini sangat jarang terlihat warga. (okezone.com)

Arkeolog Italia Temukan Kuil Tertua di Siprus

Seorang arkeolog Italia menyatakan telah menemukan apa yang diyakini sebagai lokasi tertua pemujaan keagamaan di Siprus, sebuah kuil yang berusia sekitar 4.000 tahun.

Foto: Para pekerja sedang menggali kuil berusia 1500 tahun yang ditemukan di situs Vasu Bihara di Bogra, Bangladesh.

Kuil itu, yang ditemukan di daerah Pyrgos-Mavroraki dekat kota wilayah selatan Limassol, lebih tua dari temuan-temuan lain di Siprus yang berusia sekitar 1.000 tahun, kata arkeolog Maria Rosaria Belgiorno.

"Ini bukti pertama mengenai agama di Siprus pada awal milenium kedua Sebelum Masehi," kata wanita peneliti itu kepada surat kabar Cyprus Weekly dari Roma.

Departemen Purbakala Siprus mengatakan, penelitian lebih lanjut harus dilakukan sebelum temuan itu dikukuhkan.

"Kami tidak bisa menolak klaim itu namun kami juga tidak bisa membenarkannya," kata pejabat departemen itu, Maria Hadjicosti, kepada Reuters.

Belgiorno mengatakan, ia telah menemukan garis bentuk sebuah kuil bangunan segitiga yang terdiri dari dua ruangan di lokasi itu. Terdapat sebuah altar pengorbanan yang diapit oleh sebuah saluran di kedua sisi.

"Kami tidak menemukan patung, namun ada bukti bahwa itu sebuah kuil monotheistik," katanya. Kuil itu mungkin hancur dalam gempa bumi dan ditinggalkan pada tahun 1800 Sebelum Masehi. (kompas.com)

Ditemukan Alquran Kering Digenangan Air Situ Gintung

Sebuah peristiwa yang sulit dipercaya dengan akal terjadi di tengah tragedi jebolnya tanggul Situ Gintung di Cirendeu, Ciputat, Tangerang. Satu buah Alquran ditemukan di atas meja yang penuh air dan lumpur, dalam keadaan kering.

Alquran tersebut ditemukan di atas meja di ruang Sekretariat Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Saat ditemukan, Alquran tersebut dalam keadaan kering sedangkan meja sudah terendam air dan lumpur.

Pantauan okezone di lokasi, Jumat (27/3/2009), sejumlah barang seperti meja, televisi, dan komputer terhempas air dan lumpur.

"Sejarahnya Alquran ini merupakan hadiah dari Kedutaan Arab Saudi pada tahun 1990-an lalu. Memang Alquran ini sering digunakan para dosen," kata salah satu dosen UMJ Yati Suyati.

Alquran berukuran besar dan berwarna hijau itu saat ini telah diamankan di tempat yang lebih aman. (okezone.com)

Pasca Nyepi, Muda-mudi Ciuman Massal di Jalan

SEHARI setelah Nyepi, muda-mudi Denpasar bakal bergembira. Hari itu identik dengan ritual omed-omedan (tarik-tarikan) di Sesetan, Denpasar.


Ritual ini sangat menarik karena dibumbui dengan adegan ciuman massal antara wanita dan laki-laki yang diakhiri dengan siraman air.

Ritual ini wajib diikuti oleh para muda-mudi Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar yang digelar di jalan raya, Sesetan, kemarin (27/3). Sekitar 200 muda-mudi warga banjar ini turut serta dalam ritual yang telah berlangsung ratusan tahun. Sebelum omed-medan, para peserta bersembahyang di areal Balai Banjar memohon ritual ini berjalan lancar.

Sedangkan untuk mengantisipasi membludaknya ratusan penonton, ritual ini dijaga pecalang dan polisi. Tampak wisatawan asing berdesakan menyaksikan ritual unik ini. “Saya pernah menonton tapi tetap ingin menyaksikannya karena ini unik,” ujar Stephanie, wisatawan Australia.

Ritual ini digelar dengan aturan, perserta pria berbaris di hadapan kelompok wanita. Begitu aba-aba dimulai, kedua kelompok ini merangsek ke depan.

Mereka pun terlibat adegan tarik-menarik. Tak lama kemudian, wakil terdepan dari kedua kelompok ini berciuman ditengah sorak-sorai penonton.

Adegan memagut bibir ini berkesudahan setelah mereka disiram air oleh panitia. Adegan tersebut berlangsung berulangkali hingga semua peserta mendapatkan bagian.

“Tadinya malu, tapi sekarang senang,” ujar Ketut Wianti. Omed-omedan pun menjadi ajang mencari jodoh para pemuda desa. Banyak pasangan di banjar ini yang menikah setelah terlibat omed-omedan. Ketua Panitia omed-omedan Gede Anindya Perdana Putra mengatakan ritual ini telah berlangsung turun temurun selama ratusan tahun. Adengan ciuman pada ritual ini sebagai simbol menjalin keakraban dan silaturahmi. (posmetro-medan.com)

Gigolo Masuk Perda Trafficking

Gayung besambut. Setelah muncul konferensi trafficking se-Asia Tengara di Bali, DPRD Bali juga semakin getol melakukan pembahasan perda trafficking atau perdagangan sesama manusia. Namun, dalam pembahasannya lebih lanjut, ada perubahan nama perda. Yakni, bukan hanya masalah anak dan perempuan, laki-laki juga akan dilindungi. Ini lantaran gigolo alias pelacuran laki-laki juga termasuk trafficking.

Ketua Pansus Trafficking DPRD Bali, AA Anie Asmoro menegaskan bahwa pembahasan ranperda trafficking itu terus bergulir berbagai macam sudut pandang yang melingkupinya. Bahkan pada Senin - Selasa (23-24/3) lalu, ada dua hari pembahasan mesalah Perda trafficking. Pertama, dengan menghadirkan LSM hingga KPAI Bali. Di antaranya LK Suryani, Anggreni dan banyak lagi.

Seusai dengan para LSM dan KPAI, pansus melanjutkan lagi pembahasan dengan eksekutif yaitu biro hukum. Hasilnya? Srikandi DPRD Bali ini mengatakan bahwa hasil yang cukup penting adalah perubahan nama perda yang sebelumnya hanya mengakomodir perdagangan anak dan perempuan.

Sekarang, dalam perkembangan lebih lanjut, jadi Perda Penghapusan Perdagangan Manusia atau trafficking. "Ini lantaran (ranperda) masih terkesan meminggirkan kaum laki-laki, yang juga mesti mendapatkan perlindungan dari perda ini," sebut anak dari tokoh Denpasar, Ngurah Pong, ini.

Gung Ani, demikian sapaan akrabnya menjelaskan bahwa yang mengusulkan adanya perubahan ini adalah LK Suryani. Ini lantaran dalam praktiknya tak hanya perempuan dan anak-anak menjadi objek penjualan manusia trafficking. Laki-laki juga menjadi objek penjualan serupa.

Sebutnya, di Bali banyak ada gigolo, yang bisa dibeli oleh perempuan. Praktik gigolo ini juga dinilai dalam kondisi mengkawatirkan di Bali. "Gigolo juga dimasukan dalam kategori trafficking, jadi objek perdagangan manusia. Sehingga perda berubah nama jadi perda penghampusan penjualan manusia atau trafficking," cetus Gung Anie, menandaskan.

Tak hanya itu, dia juga menegaskan bahwa setelah ada konvensi atau kesepakatan trafficking di Sanur Paradise Plaza, yang menyebutkan bahwa pusat memberi angina segar. Yakni, akan mendanai jika Bali mau menyiapkan lahan untuk Child Protection Home (CPH), rumah bagi korban untuk penyembuhan dan memberikan keahlian untuk bekerja. Gung Anie mengaku sepakat dengan angin segar pusat itu. Sehingga, dia mendesak gubernur agar memberi lahan bagi terwujudnya CPH itu. "Bahkan dalam perda nanti memang ada kewajiban pemerintah untuk membuatkan rumah untuk korban. Sehingga sangat pas, jika nanti pusat mendukung anggarannya," tuntasnya.

Sekadar mengingatkan, perda perdagangan anak ini nantinya akan mengancam keberadaan praktik kawin kontrak di Bali. Yang belakangan sangat marak, lantaran kawin kontrak juga termasuk proses perdagangan manusia. (kepritoday.com)

Selasa, 24 Maret 2009

Ngintip Orang Di WC Yuk!!!


duh rusaknya.......



Awas tuh blecetan kemana - mana..hehe



Waduh... asik banget yah...




Gila kerja mpe segitunya yah....



Awas ntar kemakan yang laen....hahahaha



Waduh,,. yang mana yang atas n yang mana yang bawah nih....?? hehehe