Jumat, 26 Juni 2009

Pelancong Aussie Positif Flu Babi

Bobie Masoner, 22, dinyatakan positif terinfeksi flu A H1N1 atau flu babi. Kepastian itu didapat setelah perempuan Inggris yang mukim di Melbourne Australia menjalani perawatan selama tiga hari di ruang isolasi Nusa Indah, RSU Sanglah. Pelancong yang datang ke Bali, Jumat (19/6) lalu menggunakan Garuda Indonesia GA 719 rute Victoria-Denpasar tersebut kini ditangani secara intensif. Pihak Dirjen Departemen Kesehatan RI bahkan langsung terbang ke Bali begitu mendapatkan kepastian itu. Mereka hendak mengetahui secara langsung kondisi wanita tersebut.

Sebagai langkah pengamanan dan pengendalian, Kepala Dinas Kesehatan Bali, dr Nyoman Sutedja MPH, memerintahkan jajarannya untuk melakukan pengontrolan dan mengidentifikasi 40 penumpang pesawat Garuda Indonesia GA 719 yang terbang dari Victoria-Bali. Sebagian dari penumpang tersebut telah diidentifikasi dan kini tengah dikontak dan diharapkan untuk untuk datang untuk melakukan observasi ke RSU Sanglah.

“Penumpang lain yang belum bisa kami identifikasi kami harapkan untuk datang juga melakukan observasi," imbau Sutedja.

Dinas Kesehatan juga melakukan kerja sama dengan Persatuan Hotel Republik Indonesia (PHRI) guna menyiagakan dokter klinik di setiap hotel untuk deteksi lebih cepat jika ada pasien yang memiliki gejala serupa dengan Bobie.

Kerabat Bobie yang bermukim di Jimbaran diminta untuk tidak keluar rumah untuk sementara waktu. Mereka juga tidak diizinkan menjenguk Bobie. Kini tim dokter yang menangani Bobie, melakukan penanganan sesuai dengan protap yang direkomendasikan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Hasilnya, kondisi Bobie sudah membaik. Suhu tubuhnya sudah dalam kondisi normal.

Selain menangani Bobie, RS Sanglah juga tengah menangani seorang suspect flu babi yang datang ke rumah sakit tersebut hari Selasa (23/6/2009) lalu. Dia adalah George Coltman, 12, remaja Australia yang datang ke Bali satu pesawat dengan Bobie.

Selain Bobie dan George, Kamis (25/6/2009) tujuh wisatawan asal Australia juga dirujuk ke RSU Sanglah untuk hal serupa. Mereka dirujuk ke rumah sakit terbesar di Bali itu setelah mereka memeriksakan diri ke klinik swasta di Jimbaran karena mengalami flu. Mengetahui ketujuh pelancong tersebut berasal dari negara tertular, apalagi mereka terbang dengan pesawat yang sama dengan yang ditumpangi Bobie.

Setelah menjalani pemerikasaan, dari ketujuh warga Australia itu hanya dua orang yang ditengarai memiliki indikasi terserang virus H1N1 sehingga harus dirawat intensif. Mereka adalah Tayla Marlo (14) dan James Antonuccio (10). Lima lainnya; Cam Antonuccio (48), Joana Antonuccio (46), Ameron Antonuccio (15), Diana Marlo (45) dan Silvia Marlo (45) diberi obat dan diperbolehkan pulang serta disarankan untuk selalu mengisi Health Allert Card (HAC) dan tidak keluar dulu dari tempat mereka menginap. (abe/jjb- dari bali post, radar bali)


Berita Terkait:
Bali Tingkatkan Bio Security untuk Tangkal Flu Babi

Kamis, 25 Juni 2009

“Mimpi” Putu Bule, Menyentakkan Kesadaran

Arena Pesta Kesenian Bali ke-31 dimeriahkan oleh penampilan seniman-seniman luar negeri. Satu di antara mereka adalah kelompok seniman dari Departmen of Theatre, The College of Holy Cross, Worcester-Massachusetts, USA. Bekerja sama dengan Sanggar Seni Citta Usadhi, Kabupaten Badung mereka mementaskan drama tari musikal lintas budaya (Bali-Amerika) berjudul “Mimpi”.

Dipentaskan pertama kali tahun 2004, di Holy Cross College, Massachusetts-Amerika Serikat, garapan ini adalah hasil kolaborasi antara Lynn Kremer (USA) dengan dua seniman Bali: Desak Made Suarti Laksmi dan I Nyoman Catra. Cerita inti yang dikisahkan dalam garapan ini di ambil dari cerita anak-anak, Bangau Putih yang juga terdapat di banyak negara seperti Jepang dan Rusia.

Untuk persiapan pementasan di arena PKB ini, Prof. Kremer dan krewnya telah berlatih di Sanggar Seni Citta Usadi di Mengwi Tani, Kabupaten Badung, dan melakukan uji coba di sanggar seni GEOKS Singapadu, Senin (22/06/09) lalu.

Drama musikal ini berkisah tentang pertemuan seorang pemuda tukang tenun bernama Putu (dimainkan oleh Thomas Layman), dengan seorang gadis jelmaan seekor bangau putih yang pernah diselamatkannya dari badai salju yang mengancam jiwanya. Setelah perkawinan mereka, sang istri menawarkan diri untuk menenun selembar kain yang bisa dijual di pasar guna memenuhi kebutuhan hidup mereka yang miskin. Satu syarat yang diajukan, sang suami tidak boleh melihatnya ketika sang istri sedang menenun di dalam ruangan gelap. Lahirlah kain tenun yang indah.

Ketika menjualnya di pasar, si Putu bule itu teramat takjub begitu kain buatan istrinya dibeli dengan harga sangat mahal. Hal itu menjadikan Putu terpesona dan lupa diri. Ia meminta istrinya untuk menenun lagi kain yang lebih baik agar bisa dijual dengan harga yang lebih mahal. Sang istri menyanggupinya, namun mengatakan bahwa itulah yang terakhir kali baginya.

Namun, begitu kain ke dua laku dengan harga yang melambung tinggi, Putu kembali memaksa istrinya untuk sekali lagi menenun kain yang lebih indah. Karena cintanya, si putri bangau terpaksa menurutinya sembari mengingatkan bahwa permintaan itu bisa menyebabkan kematian dirinya.

Ketika sang istri tidak muncul-muncul dari ruang penenunan dalam waktu yang lebih lama daribiasanya, Putu diam-diam mengintip dari balik kelambu. Ia begitu terkejut ketika mengetahui bahwa istrinya yang tiada lain seekor bangau putih yang sedang mencabik-cabik bulunya untuk ditenun menjadi selembar kain. Terkejut dan ketakutan, bangau putih pun terbang dan tidak pernah kembali lagi.
Peristiwa dramatis itu membuat Putu tersentak dari mimpinya dan menyadari bahwa keserakahan kerap justru membuahkan kehilangan besar.

Pertunjukan ini didukung oleh 14 pemain tamu, yang memperkuat para pemain “asli” yang datang dari Amerika Serikat. Nyanyian-nyanyian dan teks dalam garapan ini diambil dari berbagai sumber antara lain: cerita Bali; Living in Two World, The Dancing Pig, The Crane Wife, Tibet Through the Red Box, Blossoms of Longing, dan Dammapada.

Rabu, 24 Juni 2009

Utsawa Dharma Gita, Olah Vokal Plus Keimanan

Dalam setiap penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali, acara Utsawa Dharma Gita tak pernah ketinggalan untuk diadakan. Utsawa Dharma Gita merupakan lomba pembacaan sloka-sloka yang diambil dari kitab-kitab Hindu. Utsawa Dharma Gita pertama kali dilaksanakan di Denpasar, pada 1978. Pembacaan sloka-sloka tersebut bukan asal membaca, melainkan melagukannya dengan tembang-tembang Bali yang pas.

Mengenai tembang, di Bali terdapat berbagai jenis tembang yang mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda-beda. Masyarakat Bali membedakan seni suara vokal ini menjadi empat kelompok yaitu Sekar Rare yang meliputi berbagai jenis lagu anak-anak yang bernuansa permainan; Sekar Alit atau tembang macapat yang menyakup jenis-jenis tembang yang diikat oleh hukum padalingsa (jumlah baris dan jumlah suku kata); Sekar Madya atau kekidungan yang meliputi jenis-jenis lagu pemujaan; dan Sekar Agung yang meliputi lagu-lagu berbahasa Kawi yang diikat oleh hukum guru-lagu (suara panjang-pendek).

Jika Sekar Rare dan Sekar Alit lebih banyak dinyanyikan untuk aktivitas pertunjukan, Sekar Madya dan Sekar Agung pada umumnya dinyanyikan dalam kaitan upacara, baik upacara adat maupun agama.

Sekar Rare
Tembang ini umumnya memakai bahasa Bali lumrah, bersifat dinamis dan gembira yang dalam melakukannya disertai dolanan (permainan). Kelompok tembang ini juga menyakup gegendingan (lagu-lagu rakyat) yang sederhana. Beberapa contoh jenis tembang ini antara lain: Meong-meong, Juru Pencar, Ongkek-ongkek Ongke, Indang-indang Sidi, Galang Bulan, Ucung-ucung Semanggi, dan Pul Sinoge. Bait-bait jenis tembang ini ada yang seluruhnya merupakan isi dan ada pula yang sebagian merupakan sampiran.


Sekar Alit
Tembang Sekar Alit dikenal juga dengan tembang macapat, geguritan, atau pupuh, sangat diikat oleh hukum padalingsa yang terdiri dari guru wilang dan guru dingdong. Guru Wilang adalah ketentuan yang mengikat jumlah baris pada setiap satu macam pupuh (lagu) serta banyaknya bilangan suku kata pada setiap barisnya. Bila terjadi pelanggaran pada guru wilang ini, maka kesalahan ini disebut elung. Sedangkan guru dingdong adalah uger-uger yang mengatur jatuhnya huruf (vokal) pada tiap-tiap akhir suku kata. Pelanggaran atas guru dingdong ini disebut ngandang.

Istilah macapat sesungguhnya sebuah istilah dari bahasa Jawa yang berarti sistem membaca empat-empat suku kata (ketukan). Jenis-jenis tembang macepat yang terdapat di Bali dan yang masih digemari oleh masyarakat adalah Pupuh Sinom, Pupuh Ginada , Pupuh Durma , Pupuh Dangdang , Pupuh Pangkur, Pupuh Ginanti, Pupuh Semaradana, Pupuh Pucung, Pupuh Mas Kumambang , Pupuh Mijil, Pupuh Megatruh, Pupuh Gambuh, Pupuh Demung, Pupuh Adri.

Masing-masing pupuh mempunyai ekspresi kejiwaan yang berbeda-beda. Untuk ekspresi aman, tenang, atau tenteram, dipergunakan pupuh-pupuh sinom, lawe, pucung, mijil, dan sinada candrawati; untuk membangun suasana gembira, roman, serta meriah dipergunakan pupuh seperti sinom lumrah, sinom genjek, sinom lawe, ginada basur, dan adi megatruh; untuk suasana sedih, kecewa, atau tertekan digunakan pupuh seperti sinom lumrah, sinom wug payangan, semaradana, ginada eman-eman, mas kumambang, dan demung; sedangkan untuk suasana marah, dan tegang dipergunakan pupuh durma dan sinom lumrah.

Sekalipun telah memiliki ekspresi tersendiri, namun cara melagukan dapat pula mengubah ekspresi yang ada pada pupuh tersebut.

Sekar Madya
Kelompok tembang yang tergolong sekar madya pada umumnya mempergunakan bahasa Jawa Tengahan, yaitu seperti bahasa yang dipergunakan dalam lontar cerita Panji atau Malat, dan tidak terikat dengan guru lagu maupun padalingsa. Yang ada adalah pembagian-pembagian seperti Pangawit (Pembuka), Pamawak (bagian yang pendek), Panawa (bagian yang panjang, dan Pangawak (bagian utama dari tembang).

Tembang-tembang yang tergolong ke dalam kelompok ini di antaranya yang paling banyak adalah Kidung atau Kakidungan. Kidung diduga datang dari Jawa pada sekitar abad XVI sampai abad XIX, akan tetapi kemudian kebanyakan ditulis di Bali. Hal ini dapat dilihat dari struktur komposisinya terbukti dengan masuknya ide-ide yang terdiri dari Pangawit, Panawa, dan Pangawak yang merupakan istilah-istilah yang tidak asing lagi dalam tetabuhan Bali. Di Bali kidung-kidung selalu dimainkan bersama-sama dengan instrumen. Lagu-lagu kidung ini ditulis dalam lontar tabuh-tabuh Gambang dan oleh karena itulah laras dan namanya banyak sama dengan apa yang ada dalam Pegambangan, mempergunakan laras pelog (Pelog 7 nada) yang terdiri dari 5 nada pokok dan 2 nada pamero/tengahan. Modulasi yaitu perubahan tangga nada di tengah-tengah lagu sangat banyak digunakan.

Beberapa jenis kidung yang masih ada dan hidup di Bali antara lain: Aji Kembang, Kaki Tua, Sidapaksa, Ranggadoja, Rangga Lawe, Pamancangah, Wargasari, Pararaton, Dewaruci, Sudamala, Alis-alis Ijo, Bramara Sangut Pati, Caruk, Bhuksah.

Selain Kidung, ada pula jenis tembang lain yang dapat dimasukkan ke dalam kelompok Sekar Madya, yakni Wilet dengan jenis-jenisnya meliputi: Mayura, Jayendria, Manjangan Sluwang, Silih Asih, Sih Tan Pegat.

Sekar Agung
Jenis tembang Bali yang termasuk dalam kelompok Sekar Ageng ini adalah Kakawin. Kakawin adalah puisi Bali klasik yang berdasarkan puisi dan bahasa Jawa Kuna. Dilihat dari segi matra penggunaan bahasanya, Kakawin banyak mengambil dasar dari puisi Sanskerta yang kemudian distilisasikan dan disesuaikan, sehingga mempunyai kekhasan sendiri. Dapat diduga bahwa Kakawin ini diciptakan (dikomposisikan) di Jawa dari abad IX sampai XVI. Kakawin ini sangat diikat oleh hukum guru lagu. Di dalam Kakawin terdapat bagian-bagian seperti Pangawit (penyemak) yang artinya pembukaan, Panampi (pangisep), Pangumbang dan Pamalet.

Kakawin biasanya dimainkan dalam aktivitas Mabasan (pesantian) di mana Kakawin dilagukan dengan diselingi terjemahannya. Masyarakat Bali mengenal banyak kekawin seperti: Aswalalita, Watapatia, Wangeasta, Prtiwitala, Wasantatilaka, Sardulawikradita, Wirat, Girisa, Puspitagra, Tanukerti, Cekarini, Saronca.

Di samping tembang-tembang di atas, masih ada beberapa jenis untaian kata bertembang yang sukar untuk dimasukkan ke dalam kelompok-kelompok yang berkembang. Jenis-jenis kata bertembang yang dimaksud adalah:
1. Sasonggan: Kalimat kiasan yang dapat dipakai untuk menggambarkan suatu peristiwa;
2. Bladbadan: Kalimat yang mengandung arti kiasan;
3. Wawangsalan: Kalimat bersajak;
4. Sasawangan: Kalimat perbandingan;
5. Papindaan: Kalimat perbandingan;
6. Tandak: Kalimat yang dilagukan, melodinya diharmoniskan dengan nada yang diikutinya;
7. Panggalang: Tembang Pendahuluan;
8. Sasendon: Semacam tandak yang dipergunakan untuk menggarisbawahi suatu drama.

Untuk dapat menyanyikan tembang-tembang di atas dengan baik, seorang penembang harus memiliki: suara bagus dan tahu mengolahnya, nafas panjang serta tahu mengaturnya, mengerti masalah laras (slendro dan pelog), mengerti tetabuhan dan menguasai prihal matra, tahu hukum/uger-uger yang ada pada masing-masing kelompok tembang, dan memahami seni sastra. (sda/jjb/ berdasarkan tulisan Prof. Dr. I Wayan Dibia)

Selasa, 23 Juni 2009

Pentas "Diah Larasati": Semua Orang Sama Mulia

Ini pemandangan unik sekaligus mengharukan di arena Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-31. 15 penari penyandang tunadaksa (cacat anggota tubuh) yang tergabung dalam Yayasan Senang Hati, Tampaksiring, Gianyar memamerkan kebolehan di Kalangan Angsoka, Senin (22/06/09).

Kekurangan fisik tidak menyurutkan semangat mereka untuk mengekspresikan diri lewat kesenian. Kelompok yang dimotori Ni Putu Suriati itu tampil memukau lewat persembahan seni drama gong bertajuk 'Diah Larasati'.

Dengan penuh percaya diri, para penyandang tunadaksa tersebut melakonkan kisah perjuangan mereka untuk menuntut ilmu di sekolah formal. Mereka tampil ditopang dengan alat bantu sesuai dengan kecacatan mereka. Ada yang tampil dengan bantuan kursi, ada pula yang dengan tongkat penyangga.

Dengan segala keterbatasan fisik mereka mengekspresikan setiap lakon secara baik. Setiap karakter mereka mainkan dengan sangat natural. Hal itu disebabkan karena kisah yang mereka perankan tersebut diangkat dari pengalaman keseharian mereka sendiri. Di sinilah letak kelebihan Putu Suriati dan kawan-kawan. Mereka tak memilih cerita yang muluk-muluk, melainkan cerita yang mereka kenal dan mereka hayati dengan baik.

Dalam cerita tersebut, Diah Larasati (diperankan oleh Sang Ayu Nyoman Puspa) melambungkan impiannya untuk menuntut ilmu di sekolah formal. Namun impian tersebut dihalangi oleh ibunya, Permaisuri Dinarwati (diperankan oleh Dewa Ayu Sasih). Alasan Sang Ibu, Diah Larasati adalah seorang anak yang cacat. Mendapati hambatan tersebut, putri Kerajaan Nangun Cipta itu sempat larut dalam kesedihan yang dalam. Namun, semangatnya yang besar membuat dia mendorong dia untuk tak terbenam dalam kesedihan dan keputusasaan. Dengan tekad yang teguh Diah Larasati memberontaki keadaan itu. Dia melarikan diri dari istana untuk meraih impiannya di Sekolah Senang Hati…

Selain drama gong 'Diah Larasati', siang itu Yayasan Senang Hati juga menampilkan Janger, sebuah seni pergaulan yang didukung sepuluh penari Janger (perempuan) dan delapan penari Kecak (laki-laki). Seluruh persembahan tersebut diiringi gamelan gong kebyar yang sebagian penabuhnya juga penyandang cacat. (abe/jjb)

Foto-foto: I Nyoman Wija - Radar Bali

Senin, 22 Juni 2009

The Lokha, Hotel Murah di Jantung Legian

Terletak hanya 200 meter dari pantai Legian, merupakan kebanggaan bagi hotel ini. Dengan menempati lokasi tersebut menjadikan The Lokha sebagai hotel yang ideal bagi pelancong yang hendak menikmati degup jantung kawasan yang dikenal sebagai area yang tidak pernah tidur ini. Meski begitu, The Lokha menambahi keunggulannya dengan menyediakan suasana yang nyaman dan layanan yang ramah.

Dari Bandara Ngurah Rai, kamu hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk mencapai hotel berdesain perpaduan antara modern dan tradisional Bali ini. Sebaliknya, dari hotel ini kamu hanya membutuhkan waktu 10 menit ke Pantai Kuta, 20 menit ke Pelabuhan Benoa, 30 menit ke Nusa Dua, Uluwatu atau Sanur. Tapi jika hendak ke Ubud, kamu perlu waktu sedikitnya satu jam.

Hotel ini memiliki dua buah kolam renang yang asri. Satu di antara kolam renang tersebut dilengkapi dengan pool bar yang menyediakan berbagai makanan ringan dan minuman eksotik sejak pukul 10 pagi hingga pukul 07 malam. Hotel menyediakan tenaga pijat tradisional yang cakap jika kamu ingin di pijat di sisi kolam.

Fasilitas lain di hotel ini antara lain Lokha Corner yang terletak dekat reception desk. Lokha Corner ini adalah sebuah restauran yang melayani pesanan menu Indonesia hingga Continental dan Western. Restoran ini tampung 80 orang. Buka pukul 07 pagi hingga 10.30 malam. Tersedia juga Lobby Bar yang terletak di dekat lobby hotel yang buka setiap hari dari pukul 10 pagi hingga 01 malam.

Di hotel ini juga tersedia cabled hot spot, televisi satelit, laundry, pijat tradisional, tempat duduk bayi (atas permintaan), indoor check in, dokter panggilan.

Sedangkan fasilitas yang tersedia dalam setiap kamar di hotel ini antara lain: wardrobe, safety box, TV, peralatan pembuatan teh dan kopi, IDD Line, refrigerator, AC, hanger, AC/TV remote control, hair dryer, pembuka tutup botol, kotak tissue, air panas/dingin, bath tub/shower dan hot spot.

Di hotel ini juga tersedia Candle Light Dinner. Makan malam spesial ini digelar di sisi kolam renang dengan taburan cahaya lilin, hiasan meja yang anggun dan taburan beragam bunga di
sisi kolam tersebut. Hidangannya, tentu saja hidangan spesial yang memanjakan lidah dan perasaan. Untuk dapat menikmati makan mala mini kamu dikenai bayaran sebesar sekitar U$ 35 per orang. Harga ini sudah termasuk sajian romantic cocktail.

Kalau kamu tertarik menginap di hotel ini, datang saja langsung ke Jl. Padma, Legian telepon (0361) 767 601 (Hunting). Bias juga memesannya melalui e-mail : reservation@ thelokhalegian.com atau sales@thelokhalegian.com.

Harga kamar:

Superior
Single $ 120
Double $ 120





Deluxe

Single $ 140
Double $ 140





Super Deluxe

Single $ 170
Double $ 170





Waktu Check in di hotel ini pukul 2 siang, waktu check out jam 12 siang.