Sabtu, 04 Juli 2009

Suasana Pedesaan di Puri Dewa Bharata Village

Satu dari sekian pilihan menarik untuk tempat menginap di kawasan Legian adalah Puri Dewa Bharata Village. Hotel ini akan memanjakan kamu dengan kamar yang nyaman dan suasana yang menyenangkan. Di hotel dengan 48 bangunan bergaya Bali ini kamu dapat merasakan suasana pedesaan Bali yang tenang dan teduh.

Di hotel ini, taman-taman dipadati oleh berbagai tanaman tropis yang ditata apik sehingga menyejukkan mata. Bagi kamu yang doyan bermandi cahaya, kamu dapat dengan leluasa menikmati siraman sinar matahari di tepi kolam renang yang juga tertata baik.

Keunggulan lainnya, Puri Dewa Bharata Village ini terletak di kawasan Legian yang sangat populer sebagai kawasan perbelanjaan, restauran, dan hiburan malam. Dari Bandara Internasional Ngurah Rai, hanya dibutuhkan tak kurang 20 menit saja. Jika hendak melancong ke pantai Kuta, kamu hanya perlu waktu 15 menit dengan kendaraan. Dan, hotel menyediakan kendaraan antar-jemput gratis untuk menjangkau rute-rute di kawasan Kuta. Namun, jika kamu hendak menikmati suasana nyaman pantai Double Six, kamu hanya perlu 10 menit berjalan kaki.

Selain kamar dan kolam renang yang menyenangkan, fasilitas lain yang terdapat di hotel ini antara lain Saraswati Restaurant yang selalu siap meladeni kamu untuk sarapan, makan siang atau makan malam. Tersedia juga safe deposit box, dan layanan laundry. Semua itu dilengkapi dengan servis transfer gratis ke bandara, antar-jemput di kawasan Kuta, penyewaan mobil dan sepeda motor, pengaturan perjalanan wisata, dokter panggilan, money changer, dan body massage.

Harga kamar:

Superior Room
Langsung : US$ 60
Via Internet : US$ 40

Deluxe Room
Langsung US$ 70
Via Internet US$ 45

Villa Upstairs
Langsung US$ 70
Via Internet US$ 45

Villa Downstairs
Langsung US$ 90
Via Internet US$ 55

Family Villa (2 Bedrooms)
Langsung US$ 150
Via Internet US$ 90

Extra Bed
Langsung US$ 20
Via Internet US$ 15

Semua harga tersebut sudah termasuk continental breakfast untuk dua orang, pajak dan servis sebesar 21%. Waktu check in adalah pukul 14:00, dan check out pukul 12:00

Pada saat hari-hari padat kunjungan (high season) yakni pada 1 Agustus – 30 September harga-harga hotel akan dikenakan biaya tambahan sebesar US$ 10 per kamar per malam. Sedangkan untuk kurun 21 Desember – 10 Januari, tambahannya sebesar US$ 15 per kamar per malam.

Pembayaran sebaiknya kamu lakukan dengan tunai, kecuali jika kamu tidak memasalahkan tambahan biaya sebesar tiga persen untuk pembayaran menggunakan kartu kredit.

Tertarik? Datang saja langsung ke Jalan Nakula 11 Legian, atau kontak dulu via telepon (0361) 730425, e-mail: contactus@puridewata.com, puridb@telkom.net.

Jumat, 03 Juli 2009

Mamimu, Makan-Minum Seperti di Rumah Ibumu

Nama warung ini, sungguh unik: Mamimu. Sebagai kata, Mamimu bermakna mamamu atau ibumu yang memberi kesan semua makanan di rumah ini adalah makanan buatan ibumu yang selain jago memasak juga mengenal betul selera lidahmu. Memang, menu yang tersedia di Mamimu adalah menu-menu rumahan yang begitu akrab dengan lidah orang Indonesia seperti sayur bening, sayur asem, sup sayur, dan kare terong.

Bagi pemilik rumah makan yang dicat serba kuning dan dihias dengan puluhan kartun dan karikatur yang jenaka ini, Mamimu merupakan singkatan dari “makan-minum murah”. Maksudnya sangat jelas, semua hidangan di warung ini sangat bersahabat bagi kantong kamu. Bayangkan harga paket nasi + rawon + krupuk udang + tempe goreng + sambal terasi, hanyaRp.10 ribu. Harga yang sama berlaku untuk paket soto ayam, dank are terong.

Yang lebih murah lagi, paket nasi putih + sayur bening + dadar jagung + sambal terasi, hanya Rp. 5 ribu. Harga tersebut berlaku untuk paket-paket nasi sayur lainnya.

Bagaimana dengan rasa? Dijamin makanan-makanan tersebut lezat dan pas dengan lidah pecinta masakan Indonesia. Apalagi suasana warungnya nyaman dan sejuk, menjadikan menikmati makan dan minum murah di warung ini terasa lebih menyenangkan. Tersedianya fasilitas free WiFi di warung ini pun semakin melengkapi kenikmatan bersantap di warung ini.

Tertarik ingin menjajalnya? Warung dua lantai ini terleletak di belakang food court Istana Kuta Galeria.

Rabu, 01 Juli 2009

KPK Bebaskan 137 Anak Penyu

Ratusan pelancong pantai Kuta dari berbagai daerah dan negara Selasa (30/7/2009) lalu berbaur untuk melepas-bebas 137 tukik (anak penyu) ke laut. Tukik-tukik yang dilepas tersebut adalah anak-anak penyu yang menetas di bak penampungan milik Konservasi Penyu Kuta (KPK). Telur-telur penyu tersebut adalah telur-telur yang ditemukan di pesisir pantai Kuta dan pantai lain di Bali selatan sekitar sebulan yang lalu, dan ditampung di bak milik KPK.

Sudah menjadi tradisi KPK untuk menampung telur-telur penyu yang ditemukan di pantai mana saja di Bali dan mengupayakan agar telur-telur tersebut menetas dengan baik. Setelah menetas, dalam waktu tak lebih dari 24 jam tukik-tukik tersebut langsung dilepas ke laut bebas untuk menemukan habitatnya yang tepat. Biasanya, tukik-tukik tersebut dilepas ke laut pada saat menjelang matahari terbenam. Alasannya, untuk menghindari serangan burung dan predator lain yang memangsa tukik.

“Soalnya,
sebab tukik-tukik itu belum bisa berenang di bawah permukaan air. Pada umur sehari, tukik-tkik itu baru berenang di atas permukaan,” papar I Gst Ngurah Tresna, sesepuh Unit Pengelola Pantai Desa Adat Kuta yang memayungi kegiatan KPK.

Selain pertimbangan itu, pelepasan tukik juga memperkirakan kuatnya arus.

“Jika arus terlalu kuat, pelepasan ditunda,” imbuh Tresna.

Saat ini di bak penampungan milik KPK terdapat 39 sarang yang berisi 4300 telur penyu. Dari jumlah tersebut, empat sarang berisi 487 butir telur telah menetas dan langsung dilepas ke laut bebas beberapa jam kemudian. Ratusan telur di beberapa sarang diperkirakan akan menetas sekitar tanggal 3-5 Juli 2009.


Selasa, 30 Juni 2009

Maulid Nabi di Pegayaman: Ekspresi Bali, Hati Islami

Pegayaman adalah nama sebuah desa tua di pedalaman Bali utara. Letaknya sekitar 75 kilometer dari Kuta.Sebagian besar penduduknya adalah Muslim. Mereka instens menerapkan budaya Bali dalam kehidupan sehari-hari sembari tetap menjaga kemurnian ajaran agamanya: Islam. Penduduk desa ini sekitar 3 ribu jiwa. Sebagian besar penduduk bertani dan berkebun (kopi dan cengkeh).

Memahami masyarakat Desa Pegayaman sebaiknya dimulai dengan menyaksikan perayaan Maulid Nabi di kampung itu. Perayaan maulid di sana merupakan pesta budaya. Sepekan penuh masyarakat di sana bergembira menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dimulai dengan membuat tape, membuat jaje uli (penganan dari ketan), lalu mempersiapkan sokok base dan sokok taluh, mengarak sokok dan pawai keliling desa, dilanjutkan dengan pegelaran pencak silat setiap sore.

Perayaan Maulid di Pegayaman di awali dengan Muludan Base (Maulid Sirih) pada 12 Rabiul Awal, tepat hari kelahiran Nabi Muhammad. Perayaan ini dilakukan dengan membuat sokok base, yaitu rangkaian dauh sirih, kembang, dan buah-buahan.

Kata sokok diduga berasal dari Bahasa Jawa, soko, yang berarti tiang. Memang rangkaian ini terdiri dari tiang utama yang terbuat dari batang pisang yang didirikan di atas sebuah dulang. Pada tiang tersebut ditancapkan beberapa batang bilah bambu. Pada bilah bambu itulah sirih, kembang, dan buah-buahan dirangkai. Sokok base sangat mirip dengan pajegan yang dibuat masyarakat Hindu di Bali saat berupacara di pura pada hari-hari tertentu.

Puluhan sokok base yang dibuat masyarakat itu dibawa ke masjid, dideretkan di tengah-tengah lingkaran orang yang akan membacakan barzanji (karya sastra Arab klasik yang berisi riwayat dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad).

Usai membaca barzanji, rangkaian sokok base dibongkar. Kembang dan daun sirih dibawa pulang, diletakkan di dinding rumah atau di sawah. Konon rangkaian daun sirih dan kembang bekas sokok base itu dapat mendatangkan berkah untuk rumah atau sawah.

Pada hari kedua, Desa Pegayaman benar-benar berada dalam pesta besar. Seluruh masyarakat sibuk dengan kegiatan maulid itu. Laki-perempuan, besar-kecil bersuka ria dalam perayaan yang mereka sebut dengan Muludan Taluh (Maulid Telur). Pada hari itu puluhan sokok taluh, yaitu rangkaian serupa sokok base namun dilengkapi dengan telur, diusung ke masjid. Di sepanjang jalan, masyarakat berjejal menyaksikan iring-iringan sokok keliling desa. Iring-iringan itu dimeriahkan oleh tabuhan rebana dari sekehe (kelompok) Hadrah yang begitu meriah. Tabuhan burde (sebangsa rebana besar yang terbuat dari bungkil pokok pohon kelapa) yang ditabuh sejak pagi hingga sore, membuat suasana perayaan semakin gempita.

Ketut Syahruardi Abbas (50), putra Pegayaman yang kini menetap di Denpasar dan berprofesi sebagai penulis, sangat bangga dengan tradisi ini. "Dalam konteks kebudayaan dan ibadah ini, tradisi ini pantas diacungi jempol. Pendiri desa Pegayaman mampu memasukkan berbagai unsur kebudayaan tanpa mengingkari esensi keberagamaan,” ucapnya.

Menurut Abbas, yang pernah memimpin berbagai media di Bali, masyarakat Pegayaman sama sekali tidak merasa risih mengarak sokok base dengan mengenakan pakaian khas Bali. Bagi mereka perayaan ini hanyalah sebuah ekspresi budaya. Ini sangat berbeda dengan perayaan Idul Fitri dan Idul Adha. Pada kedua hari raya itu masyarakat Pegayaman, hanya datang ke Masjid menyelenggarakan shalat Ied, sama dengan masyarakat Muslim lainnya. Memang mereka menambahkan rangkaian hari-hari menjelang hari-H, yakni penapean (hari membuat tape pada hari H-3), penyajaan (hari membuat jajan pada hari H-2), penampahan (hari memotong hewan pada hari H-1), dan manis lebaran (sehari setelah hari H), sama seperti yang dilakukan umat Hindu menjelang hari Galungan. ”Tapi, semua itu sama sekali tidak masuk ke masjid, tidak merupakan bentuk ibadah,” tandas Abbas.

Jogging Track Sanur dilengkapi AMO

Masyarakat dan Pelancong yang bertandang ke Pantai Segara Ayu, Sanur, Denpasar, kini dapat menikmati fasilitas baru di kawasan itu. Sejak Minggu (28/6/2009) lalu, jalur jogging pantai itu telah dilengkapi dengan anjungan Air Minum Otomatis (AMO), sarana penyediaan air siap minum untuk umum. Dengan memasukkan koin Rp 500 ke alat itu, kamu dapat menikmati air segar yang lansung dapat kamu minum.

Layanan ini diprakarsai oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Denpasar yang rencananya akan dikembangkan di tempat-tempat umum dan kawasan wisata. Pengoperasian perdana AMO dilakukan oleh Walikota Denpasar, IB. Rai Dharmawijaya Mantra, yang kemudian mengundang masyarakat dan wisatawan (lokal dan asing) yang kebetulan berada di sekitar situ untuk berbaur dan menikmati air siap minum.

Mi Hangat di Cafe Me

Seperti namanya, "Café Me" menjadikan berbagai olahan mi sebagai menu andalannya. Menu-menu andalan tersebut antara lain pangsit goreng yang renyah dengan baluran saos yang pas. Ada juga bakmie ayam (chicken noodle) dengan campuran sup ayam, jamur dan sawi hijau, dengan racikan bumbu yang juga pas. Cafe ini terletak di Jl. Pulau Kawe No 33B Denpasar, 200 meter di sebelah selatan simpang enam Teuku Umar. Tempat dan layout ruangannya cukup menyenangkan dan memanjakan. Ada 200 kursi nyaman, sofa, AC, LCD TV dengan puluhan saluran international, serta fasilitas Free Wifi.

Selain mi, "Cafe Me" juga menyediakan menu Nusantara dan Eropa. Juga beragam pilihan minuman dari yang tradisional hingga cocktail. Soal harga? Tidak mahal, kok! Harga seporsi makanan di Cafe Me berkisar antara Rp. 15 ribu hingga Rp 42 ribu. Mau coba? Datang saja langsung ke Jl. Pulau Kawe No. 33B, Denpasar, telp. (0361) 243333 atau 7424653 (ek/jjb)