Sabtu, 25 Juli 2009

Untuk Hentikan Hama, Warga Tabanan Ngaben Tikus

Tak kurang dari 112.670 ekor tikus diaben atau dikremasi menurut adat Bali, Jumat (17/7) lalu di Kabupaten Tabanan. Upacara pembakaran mayat tikus-tikus ini dilaksanakan layaknya upacara ngaben yang dilakukan terhadap jenazah manusia. Upacara yang disebut Prateka Merana itu lengkap dengan sesajen dan bade (usungan jenazah) yang megah.

Ngaben tikus ini adalah tata cara orang Bali untuk menyetop hama tikus yang menyerang lahan pertanian mereka. Seperti telah banyak diberitakan di media local, beberapa waktu lalu ratusan hektar lahan pertanian di kabupaten Tabanan diserang hama tikus. Ribuan binatang pengerat tersebut menggasak ludas padi-padi yang tengah di tanam menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi petani di wilayah yang dikenal sebagai lumbung padinya Bali itu. Untuk mengatasi hama tersebut, masyarakat setempat bahu-membahu berperang melawan sang penyerbu. Bersenjatakan tongkat kayu mereka turun ke areal persawahan membunuhi tikus-tikus itu. Maka melayanglah ratusan ribu nyawa tikus dalam operasi gabungan tersebut.

Selanjutnya, untuk membersihkan dan menyucikan areal persawahan yang telah berubah menjadi medan pertumpahan darah, tak kurang dari sepuluh ribu warga setempat membakar bangkai-bangkai tikus itu dengan upacara ngaben atau Mrateka Merana. Upacara ini diselenggarakan di depan Pura Puseh Bedha, Desa Bongan.

Oleh warga, bangkai ratusan ribu tikus yang oleh masyarakat Bali dijuluki Jro Ketut itu dimasukkan ke dalam lima bade. Di belakang setiap bade tersebut terpampang foto tikus sesuai dengan warnanya, yakni merah, putih, kuning, hitam dan belang (hitam-putih). Kelima bade tersebut diarak menuju Segara Yeh Gangga, Desa Sudimara, sekitar empat kilometer dari Desa Bongan. Arak-arakan tersebut diiringi tetabuhan baleganjur.

Setiba di Yeh Gangga, sebelum melakukan prosesi pembakaran bade, seluruh masyarakat melakukan persembahyangan terlebih dahulu. Setelah semua bade berisi ratusan ribu tikus itu ludas terlalap api, abu tikus dikumpulkan dan dihanyutkan ke laut sebagaimana yang dilakukan pada upacara pengabenan manusia.

Pelaksanaan upacara Mrateka Merana ini didasari oleh petunjuk-petunjuk yang tertulis pada Babad Arya Tabanan, Babad Dukuh Jumpungan, Lontar Sri Purana Tatwa, dan Lontar Darma Pemaculan. Semua kitab dan lontar tersebut memberi petunjuk tentang bagaimana mengendalikan hama tikus secara spiritual. Sebelum ini, upacara serupa diselenggarakan pada tahun 2002. (abe/jjb-radarbali)

Foto-foto repro : Yoyo Raharyo - Radar Bali.

Kamis, 23 Juli 2009

Kehidupan Bahari di Sanur Village Festival 2009

Pertengahan Agustus nanti, Sanur bakal marak dengan berbagai kegiatan menarik. Selama lima hari, dari tanggal 12 hingga tanggal 16 bulan itu, di kawasan wisata di Kota Denpasar tersebut akan digelar Sanur Village Festival, sebuah acara tahunan yang diprakarsai oleh Yayasan Pembangunan Sanur. Tahun ini perhelatan kebanggaan masyarakat Sanur yang akan digelar di Pantai Mertasari ini mengusung tema “Marine Life” (Kehidupan Bahari).

Lebih marak dari penyelenggaraan sebelumnya, dalam Sanur Village Festival tahun ini akan diselenggarakan lebih banyak kegiatan dan melibatkan lebih banyak partisipasi dari dalam dan luar negeri. Beberapa kegiatan yang sudah dipastikan antara lain Pameran Kartun Internasional, Pameran Bonsai dan Adenium, Sepeda Santai, Lomba Masak Tahunan-International Chefs Association, Parade Budaya, Olahraga Air (Wind Surfing), Parade Jukung, Turnamen Golf, Penanaman Terumbu Karang, Pemeran Lukisan, Bazar, Festival
Jazz, Kontes Fotografi , Lomba Layang-Layang, Yoga Massal, Fun Games, Fashion Show, Body & Face Painting, Pecha Kucha Night, Pameran Anggrek, Pentas Tari Kolaborasi, Festival Makanan dan Pasar Murah, Pagelaran Musik dan eksebisi Layang-layang dari 27 negara.

Sedangkan untuk peserta asing yang akan terlibat, panitia telah memastikan kehadiran beberapa partisipan pada acara yang akan dibuka pada Rabu, 12 Agustus 2009 pukul 17.00 Wita tersebut. Mereka datang dari Bangladesh, Srilanka, Mozambik, Jepang, India, China, Turki dan Mesir. Dari dalam negeri, panitia sudah menerima kepastian partisipan dari Papua, Jawa Timur, Riau dan Sulsel. (abe/jjb)

Rabu, 22 Juli 2009

Pasca Bom Marriott, Hunian Hotel di Bali Tetap Padat

Ledakan bom di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton Jakarta (17/7) lalu, tidak mempengaruhi kunjungan wisatawan ke Bali. Sejauh ini, belum ada laporan pelancong yang melakukan early check out (pulang lebih awal) sebagai reaksi terhadap peristiwa tersebut. Travel warning dari beberapa negara yang biasanya mempengaruhi tingkat kunjungan, kali ini tak memberi pengaruh signifikan terhadap tingkat hunian hotel-hotel di Bali. Data beberapa hotel di Nusa Dua, Tanjung Benoa, Jimbaran, Sanur hingga Ubud menunjukkan bahwa tingkat hunian di atas 80 persen. Bahkan ada yang mencapai 100 persen.

Namun begitu, bukan berarti hal ini menjadi alasan untuk lengah. Untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang berkaitan dengan keamanan pasca ledakan bom di Jakarta itu,Persatuan Hotel Republik Indonesia (PHRI) Bali telah mengintensifkan koordinasi dengan aparat keamanan dan meminta manajemen hotel untuk meyakinkan para pelancong bahwa Bali tetap dalam kondisi aman. (abe/jjb dari Radar Bali)