Jumat, 07 Agustus 2009

Megibung dan Plecing Gonda di Warung Mina

Megibung adalah makan bersama dalam sebuah lingkaran dimana hidangan berupa nasi dan lauk pauknya ditempatkan dalam satu nampan. Makan cara ini merupakan tradisi masyarakat Karangasem, yang dimulai sejak tahun 1614 Caka (atau 1692 Masehi), saat Raja Karangasem, I Gusti Anglurah Ktut Karangasem, melakukan ekspansi ke Sasak (Lombok). Kini tradisi tersebut dilakukan pada hari-hari dan dalam rangkaian upacara tertentu. Namun, jika ingin merasakan suasana dan semangat megibung bersama keluarga atau teman-temanmu, datanglah ke Warung Mina dan pesanlah Paket Megibung.

Paket Megibung di Warung ini disiapkan untuk empat orang. Untuk menemani sebakul nasi, paket ini terdiri dari gurami bakar/goreng, dua pepes lele, empat potong tempe, tahu, dan terong bakar; dilengkapi dengan sayur asem, lalapan sambal, dan plecing kangkung. Sebagai hidangan penutup, tersaji sepiring buah segar.

Di samping menu paket Megibung, di Warung Mina terdapat beberapa paket asyik lainnya seperti Paket Gurami Santan Kemangi, Paket Gurami Asam Manis, dan Paket Pepes Ikan Mas. Seperti namanya yang berarti “ikan”, Warung Mina memang didominasi menu serba ikan segar yang dilengkapi dengan Plecing Kangkung dan Plecing Gonda
(sayuran sejenis Kangkung yang tumbuh di persawahan) yang tak kalah segarnya. Dan, kesegaran masakan tersebut semakin terasa nikmat karena suasana yang nyaman dan asri warung tersebut.

Warung Mina terletak di Jalan Astasura No. 91 Peguyangan, Denpasar Utara. Jalan ini merupakan jalan alternatif yang dapat kamu lalui bila hendak melancong ke Sangeh. Dari perempatan Jalan Nangka dan Jalan Gatoto Subroto, letak warung yang kerap dikunjungi oleh pejabat-pejabat pusat dan daerah ini sekitar tiga kilometer. Jika tak bisa ke sana, kamu bisa mendatangi cabangnya di Jalan Tukad Gangga No. 1, Renon, Denpasar dan di Jalan Nusa Kambangan No. 160 A, Denpasar (di halaman Toko Oleh-Oleh Krisna). Bisa juga kamu kunjungi yang di Jalan Gunung Sari No. 2 Banjar Ambengan, Peliatan, Ubud, Gianyar. (abe/jjb)




16 Agustus, "Denpasar Car Free Day" Diberlakukan

Tingkat kepemilikan kendaraan di Kota Denpasar dari tahun ke tahun terus meningkat. Pertumbuhannya, tak kurang dari 15 persen setiap tahunnya. Menurut data di Dinas Perhubungan Kota Denpasar, pada siang hari jalan-jalan di kota Denpasar dipadati tak kurang dari 800.000 kendaraan. Kendaraan-kendaran tersebut selain berasal dari masyarakat kota Denpasar sendiri, juga dari masyarakat Badung, Tabanan, dan Gianyar yang bekerja di kota Denpasar. Akibatnya, asap kendaraan tersebut membuat udara kota Denpasar terpolusi. Dalam sebuah penelitian di tahun 2001, diketahui bahwa tingkat pencemaran udara di kota Denpasar sempat melewati ambang batas.

Untuk mengurangi tingkat polusi udara yang semakin parah, Pemerintah Kota Denpasar berencana akan memberlakukan "Car Free Day" (hari bebas kendaraan bermotor) di jalan-jalan utama kota tersebut. Hari khusus yang memberi keleluasaan bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda ini akan mulai diperlakukan pada tanggal 16 Agustus 2009. Ruas jalan yang akan dinyatakan bebas kendaraan bermotor pada Car Free Day tersebut adalah di Jalan Raya Puputan, Jalan Cuk Nyak Dien, Jalan Basuki Rahmat dan Jalan Juanda Renon.

“Ini bukan hal yang baru. Saya hanya melanjutkan semangat Tri Hita Karana yang telah lama dikenal oleh orang Bali. Satu hal yang penting dalam ajaran tersebut adalah menyelaraskan diri dengan lingkungan. Semangat ini saya bangkitkan kembali demi kesejeahteraan anak-cucu kita,” papar Walikota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra, dalam sebuah perbincangan menyangkut program yang digagasnya itu.

Rencananya, Sabtu (15 Agustus 2009) mendatang, sehari menjelang Car Free Day diberlakukan, Rai Mantra akan mendeklarasikan “Denpasar Go Green” sekaligus mengukuhkan Brigade Bersepeda Siaga Bencana yaitu kelompok bersepeda yang dilatih khusus untuk melakukan penanganan bencana. Deklarasi tersebut akan digelar di Lapangan Puputan Badung, di jantung kota Denpasar. Selanjutnya, Car Free Day akan dilaksanakan setiap hari minggu. (abe/jjb)

Senin, 03 Agustus 2009

480 Layang-layang Buatan Anak & Remaja di Pitik

Ratusan anak dan remaja usia antara 9-14 tahun, berterik-terik di hamparan persawahan Banjar Pitik, Desa Pedungan, Denpasar Selatan. Sengatan cahaya matahari tak sedikit pun melelehkan semangat mereka untuk mengudarakan layang-layang buatan mereka sendiri dalam Lomba Layang-layang yang di selenggarakan oleh banjar tersebut pada Sabtu dan Minggu (1-2 Agustus) lalu. Anak-anak tersebut terbagi menjadi puluhan kelompok berdasarkan asal banjar mereka masing-masing. Banjar adalah lembaga kemasyarakatan di bawah Desa, setingkat dengan Rukun Retangga (RT). Tak kurang dari 25 banjar yang terlibat dalam lomba untuk menyambut HUT kemerdekaan RI ke-64 ini. Setiap banjar mengikutkan beberapa kelompok berdasarkan jenis layang-layang yang mereka sertakan dalam lomba. Keruan saja, dua hari itu kangit di atas Denpasar Selatan ditaburi 480 buah layang-layang milik peserta.

Dalam lomba ini jenis layang-layang yang dilombakan adalah pecukan, bebean, janggan. Pecukan adalah jenis layang-layang yang bentuknya menyerupai daun dan bebean menyerupai ikan. Sedangkan janggan menyerupai burung yang berekor panjang. Lebar layang-layang yang dilombakan tersebut paling kecil 150 centimeter.

Selain dari kawasan Kota Denpasar, peserta yang turut meramaikan lomba ini jug aberasa dari Ubud (Gianyar), Buduk, Ungasan, Tanjung Benoa (Badung), Seraya (Karangasem), Penebel (Tabanan), dan Nusa Penida (klungkung). Para juara dalam lomba ini akan diumumkan melalui di media massa lokal (koran dan radio). Sementara penyerahan hadiahnya akan dilakukan pada perayaan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2009.(abe/jjb)

Berita terkait:

Juni-Juli, Dewa Rare Angon Mengitari Langit Bali

Galero foto: