Rabu, 19 Agustus 2009

Mampir Menikmati Lawar Kuwir

Oleh: Agung Bawantara

Sudah pernah tahu lawar, kan? Ya, lawar adalah satu di antara sekian banyak makanan khas Bali. Bahannya terdiri dari sayuran yang dicincang, lalu diurap bumbu Bali yang khas dengan terasi dan rempah- rempahnya. Adonan itu dilengkapi dengan campuran daging dan kelapa yang diparut gobed (lebar). Ada banyak jenis lawar berdasarkan olahan dan bahannya. Satu diantaranya adalah lawar kuwir.

Dinamakan lawar kuwir karena lawar ini mengandung daging kuwir (mentok). Dulu, lawar jenis ini lebih banyak dijumpai pada sajian pesta-pesta pernikahan atau pesta kegembiraan yang lain. Sekarang, menu ini dapat ditemukan di banyak tempat makan di Bali. Salah satu penyedia menu lawar kuwir yang paling kondang di Bali adalah Warung Lawar Kuwir “Kasiku” yang terletak di Bypass Prof. Dr. Ida Bagus Mantra. Dari arah Denpasar, warung ini berada sekitar 50 meter setelah Jembatan Air yang melintas di atas jalan bypass, di sisi kiri jalan. Dari arah timur, (Karang Asem atau Klungkung) letaknya sekitar 50 meter setelah traffic light perempatan Losan-Pantai Batu Lepang, di sisi kanan jalan. Posisi warung yang berada 1,5 meter lebih tinggi dari badan jalan membuat suasana warung terasa santai saat beristirahat sejenak sebelum meneruskan perjalanan.

Hidangan lawar kuwir di warung Kasiku ini sangat enak. Rasa bumbunya meresap ke dalam daging kuwir. Dagingnya yang gurih dan kenyal jauh dari aroma amis. Jika tak mengetahui sejak awal dari daging apa lawar tersebut di buat, kamu sulit mengetahui bahwa daging dalam lawar tersebut adalah daging kuwir.

Paket yang dihidangkan oleh warung Kasiku terdiri dari nasi putih, lawar kuwir dengan kelapa, lawar kuwir dengan nangka, sate kuwir lilit dan sate kuwir pusut serta semangkuk jukut ares (sayur dari batang pisang muda yang dikuwahi dengan kaldu kuwir). Harga untuk satu paket tersebut hanya Rp 12 ribu!

Minum? Tinggal pilih mau yang panas, hangat atau dingin. Mau yang segar atau kemasan.

Menurut Ibu Nyoman, pemilik warung, setiap hari “Kasiku” diserbu puluhan pelanggan. Untuk mereka itu, Ibu Nyoman menyediakan sedikitnya 15 ekor kuwir jantan. Kuwir-kuwir tersebut ia dapatkan dari para petani peternak di wilayah kabupaten Klungkung.

Mengapa jantan?

“Soalnya,” kata Ibu Nyoman, “...dagingnya lebih banyak dibandingkan dengan yang betina. Rasanya juga lebih gurih dan kesat.”

Warung Lawar Kuwir “Kasiku” buka pukul 08.00 - 17.00 Wita. (abe/jjb)


Informasi terkait:
Lawar

Minggu, 16 Agustus 2009

Tumpek Landep, Harley dan Pistol pun Diberi Sesaji

Sabtu (15/8/2009), umat Hindu di Bali merayakan hari Tumpek Landep yakni hari khusus untuk melakukan ritual bagi segala jenis benda berbahan baku logam. Dalam bahasa Bali, kata landep berarti tajam. Kerena itu, secara turun temurun pada hari Tumpek Landep penganut Hindu di Bali, menghaturkan sesajian di atas berbagai jenis alat berbahan logam yang tajam seperti keris, pisau, cangkul, atau sabit. Belakangan, mereka juga menghaturkan sesaji di atas peralatan mesin, kendaraan bermotor, komputer dan televisi. Bahkan, para anggota TNI dan Polri juga menghaturkan sesaji pada pistol dan senapan mereka.

Pada hari itu, hampir semua mobil dan sepeda motor yang melintas di jalan-jalan digelayuti sesaji berupa ceniga, sampian gangtung, dan tamiang. Ketiganya adalah bagian dari sesaji, bentuknya menyerupai "hiasan" yang terbuat dari janur. Tidak hanya mobil dan motor biasa, bahkan jenis motor gede macam Harley Davidson pun di beri sesaji.

Secara sederhana, Tumpek Landep ini dapat dimaknai sebagai semacam hari "ulang tahun"dari benda-benda yang terbuat dari besi (khusunya yang tajam). Pada saat itulah sepatutnya para pengguna mengucapkan rasa syukur ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena telah memberikan kemuliaan hidup melalui alat-alat tersebut. Ini adalah salah satu bentuk terapan ajaran "Tri Hita Karana", yang mengajarkan untuk selalu menjaga hubungan harmonis dengan Tuhan, dengan alam, dan sesama manusia.

Secara lebih mendalam, hari Tumpek Landep yang berulang setiap 210 hari tersebut merupakan hari penting untuk mensyukuri sekaligus memohon agar senjata kehidupan tetap landep (tajam). Yang dimaksudkan dengan "senjata kehidupan" adalah pikiran dan nurani. Pikiran dan nurani yang tajam manusia akan mampu menghadapi musuh-musuh dalam diri mereka sepereti kemiskinan, kebodohan, kemunafikan, dan sebagainya. (abe/jjb)

Foto-foto oleh: Adrian Suwanto dan Miftahhudin (Radar Bali)