Sabtu, 05 Desember 2009

Cafe untuk Orang-orang "Sok Tahu"

Oleh : Maria Ekaristi & Agung Bawantara

Ya, di café ini siapa pun boleh sok tahu. Soalnya, seluruh menu yang ditawarkan di sini memang serba tahu. Lihat saja daftar menunya. Ada Tahu Gimbal, Tahu Gejrot, Tahu Tek, Sapo Tahu, Steam Tofu, Tahu Guling, Tahu Asam Manis, Tahu Mie Kepyok, Tahu Bum, Tahu Campur, Tahu Sayur Asin, Tahu Gembrot, dan banyak lagi. Seluruhnya tak kurang dari 60 menu berbahan tahu! Nama cafe ini adalah "Cafe Tahu"

Selain makanan, di café ini juga tersedia penganan berbahan tahu seperti Tahu Kipas, Kripik Tahu, dan Snack Tahu. Juga minuman berbahan serupa tahu, yakni Sari Kedelai. Singkat cerita, café milik Zakaria ini menarik untuk kamu kunjungi jika melakukan peralanan ke arah Bedugul atau Lovina (Singaraja). Di café yang beroperasi dari pukul 09.00 hingga 19.00 Wita ini terdapat sepuluh balai-balai beratap alang-alang (berlapis mika). Di sana kamu dapat menikmati hidangan dengan santai dan nyaman.

Yang istimewa, selain rasanya lezat, harga hidangan di café ini juga bersahabat. Harga seporsi makanan bermula dari Rp 5 ribu. Menu termahal, berharga Rp 25 ribu, yakni Steam Tofu Salmon. Dan, dengan pengolahan tahu yang dimiliki sendiri, “Café Tahu” menjamin rasa dan kebersihan tahu yang dihidangkan.

“Selain enak, kami jamin menu-menu di sini sehat, dan murah,” ucap Zakaria.

Mau tahu tempatnya? Cafe Tahu ini berada di Jl. Raya Denpasar – Bedugul Km 37, Luwus, Baturiti, Tabanan. Sangat mudah menemukannya. Sebab cafe ini berada di sisi jalan raya dan di depannya terdapat sebuah caravan putih bertuliskan "Cafe Tahu". Pemesanan bisa melalui telepon nomor (0361) 7459953, 0811392334.

Kamis, 03 Desember 2009

Selancar Malam di Ombak Kuta

Berselancar adalah olahraga air yang mengasyikan. Sensasi mengendarai papan di atas deburan dan liukan ombak membawa kamu pada kesenangan yang lain. Karena itu, para pehobi selancar sampai keranjingan memburu ombak-ombak tinggi di berbagai pantai di seluruh dunia. Bahkan, ada komunitas peselancar yang menjajal untuk melakukan ‘tarian ombak’ itu di malam hari, seperti yang dilakukan di pantai Kuta Selasa (1/12) yang lalu. Dalam acara Surfing at Night yang digelar di depan Mercure Hotel itu, belasan peselancar laki dan perempuan turun ke laut setelah matahari surup, untuk menjajal deburan ombak pantai Kuta di malam hari. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, berbaur dengan para peselancar dari manca negara.

Apa menariknya berselancar malam hari?
Menurut Yuli, peserta yang berasal dari Pangandaran, Jawa Barat, berselancar malam hari memberikan pengalaman yang luar biasa. "Sama seperti (berselancar pada) siang (hari), tapi tantangannya berbeda. Konsentrasi harus terfokus pada areal cahaya yang berasal dari lampu sorot untuk melihat ombak yang datang. Itu memerlukan konsentrasi yang baik," paparnya.

Dedi Santosa, peserta lain, menambahkan bahwa take off di malam hari sangat susah. “Lihat ombaknya saja susah apalagi mencari ombak bagus," tuturnya.

Dedi Santosa adalah peselancar yang menduduki peringkat 4 Indonesia Surfing Championshin (ISC) 2009. Sebagai peselancar, ia sudah pernah menjajal berbagai spot (ombak bagus) di luar negeri. Mulai dari Pantai Gold Coast di Queensland, Australia, Pantai Chiba Jepang, dan California Amerika Serikat. Baginya, sensasi menaklukkan ombak di siang hari dan malam hari sangat berbeda.

Di Kuta, malam itu, Dedi hanya 30 menit menjelajahi ombak. Ia keluar setelah bergelut menggeluti ombak di kegelapan malam. Selama itu, dia hanya berhasil menaklukkan beberpa kecil ombak saja. "Mungkin dua atau lima ombak saja," terangnya. Padahal, jika siang hari, dengan waktu yang sama, ia mampu mengendarai belasan bahkan puluhan ombak dengan mudah.

Yang menarik, justru karena kesulitan tersebut para peselancar jadi penasaran. Menurut mereka yang menjadi tantangan utama adalah cara mengenali datangnya ombak, serta membedakan kedatangan ombak besar dengan ombak kecil.

“Soal rasa dingin, sama sekali tidak ada masalah. Justru pada malam hari air laut terasa hangat,” terang
Piping, salah satu pelaksana kegiataan ini.

Menurut Piping, di Indonesia kegiataan itu baru pertama kali diselenggarakan. “Tapi, di luar negeri sudah biasa,” ungkapnya sembari menerangkan bahwa di beberapa negara sering digelar kejuaraan surfing di malam hari.

Malam itu, lebih dari 75 peselancar yang turun ke pantai. “Padahal, rencana awal hanya 50 surfer saja," ucap Piping.

Hingga waktu menunjukkan pukul 21.45, para peselancar yang berusaha menaklukkan ombak pantai Kuta itu tetap banyak. Beberapa di antaranya sempat berjumpalitan diterjang ombak. Namun tetap saja mereka bersemangat untuk meniti ombak di malam bulan purnama itu.

Untuk menerangi para peselancar, tiga unit lampu sorot berkekuatan besar dipasang di bibir pantai. Dan, untuk memeriahkan suasana, tak jauh dari lampu tersebut didirikan sebuah panggung di mana seorang DJ beraksi dengan atraktifnya. (abe/jjb-radar bali)

Foto-foto: Piping, Agung Bawantara

Senin, 30 November 2009

Ekowisata Kiadan, Berwisata Sembari Mengakrabi Alam

Ini adalah satu di antara sedikit wahana Ekowisata (Ecotourism) yang ada di Bali. Wahana ini berupa perkebunan kopi yang dikelola oleh masyarakat setempat. Lokasinya di Banjar Kiadan, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Di banjar terebut, masyarakat mengelola kebun kopi dan memproduksi bubuk kopi dengan merek dagang “Ijo Bang”. Pada areal perkebunan kopi seluas 243 hektar tersebutlah ekowisata ini dilaksanakan. Bentuknya adalah wisata trekking menyusuri areal perkebunan dan beberapa tempat menarik antara lain air terjun Nungnung.

Ada dua jalur trekking yang ditawarkan, yakni “Jalur Panjang” yang menghabiskan waktu sekitar tiga jam, dan “Jalur Pendek” yang memutuhkan waktu hanya satu jam saja. Dalam perjalanan tersebut, kamu akan dipandu oleh seorang atau beberapa orang pemandu yang akan menjelaskan secara mendetil tentang berbagai macam tumbuhan, perdu, semak dan pohon yang ada di sepanjang perjalanan, lengkap dengan kegunaannya masing-masing.

Ketika Jalan-jalan Bali bertandang ke sana, kami disambut dengan hangat oleh pengelola di Balai Subak Sari Boga, Br. Kiadan, Pelaga, Badung Utara. Balai Subak tersebut adalah sebuah wantilan (aula) yang tampak unik karena plafonnya yang terbuat dari bambu batangan. Hampir semua mebel dan perabotannya pun terbuat dari bambu.

Di wantilan tersebut, kami disuguhi kopi Kiadan yang rasanya begitu khas. Sebelum disuguhkan, kopi itu yang direbus dengan kuali yang terbuat dari tanah di tungku dengan bara api yang terukur sedemikian rupa. Sebagai teman kopi, kami mendapat suguhan penganan yang terbuat dari ketan dan ketela rambat yang di kukus. Keduanya diurap dengan parutan kelapa dan, bila suka, disirami cairan gula merah.

Setelah itu, barulah kami berkeliling menelusuri perkebunan kopi sembari mengenal lebih dekat tanaman bambu, tanaman-tanaman obat, serta kehidupan masyarakat yang ada di wilayah itu. Seorang pemandu yang berpengalaman sejak 1999 mengantarkan kami untuk mengenal banyak hal yang tadinya tampak biasa-biasa saja menjadi terasa luar biasa. Di Kiadan, selain pemandu tadi, ada 11 pemandu lain yang bisa melakukan hal yang sama.

Untuk rombongan trekking yang besar dan berniat menginap di kawasan ini, tersedia sarana akomodasi berupa home stay yang mampu menampung sebanyak 30 orang tamu.

6 Kota Yang Penuh 'Dosa'

Agak berlebihan memang jika mengategorikan enam kota berikut sebagai wilayah penuh dosa. Namun, julukan nakal itu bakal menjadi pertimbangan bila melihat apa yang ditawarkan bagi para pengunjungnya. Terlepas dari setuju atau tidak, seperti dilansir AskMen.com, tempat-tempat ini masuk dalam daftar wisata dengan "dosa" terbanyak.

Pattaya Kota Seks

Pattaya adalah surga seks ternyaman di dunia. Wajar saja, pertunjukan seks dan kabaret transeksual merupakan pemancing turis yang legal di kota yang terletak di pesisir Teluk Thailand, sebelah tenggara Bangkok ini. Tidak harus menunggu malam jika ingin menghabiskan waktu dengan pelacur.

Mereka 24 jam bisa ditemui dan diajak berkencan. Ada juga para waria cantik jelita yang beredar di sepanjang jalur wisata. Bosan dengan seks, tonton saja Thai Boxing di sejumlah bar. wahh!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!



Manama Kota Pesta

Selamat datang di Pesta Oasis Timur Tengah. Ungkapan itu yang bakal Anda terima begitu tiba di Manama, Bahrain, sebuah kawasan yang berdekatan dengan Arab Saudi. Kalau selama ini aturan Pemerintah Arab Saudi sangat ketat mengekang warga negara dan pengunjungnya, di Manama semua bisa dinegosiasikan.

Ingin clubbing seharian, atau berpesta seks? Di Manama sah-sah saja. Memang kota ini dikenal sebagai salah satu yang berpenduduk Muslim terbesar di kawasan padang pasir itu. Namun pada 2001 kota ini bersikap lebih liberal. Penduduknya juga mulai membuka mata terhadap pergaulan dunia Barat.

Las Vegas Kota Judi

Las Vegas surga penjudi. Semua orang bisa berjudi siang dan malam, bahkan saat sedang berada di bandar udara. Hampir seluruh wilayah di Las Vegas menyediakan lokasi perjudian. Walau belum legal sepenuhnya, prostitusi juga sudah lama menjadi daya tarik yang menemani aktivitas di kasino.

Bagian terbaik dari kota ini, tak peduli latar belakang budaya pendatangnya, Las Vegas tetap menjadi tempat singgah terbaik di Amerika Serikat. "Go On and Sin", itulah industri yang dikelola di sini.

Rio de Janeiro Kota Topless

Wanita-wanita Brazil memiliki pesona kecantikan luar biasa. Tak heran supermodel top dunia berasal dari sini. Rio de Janeiro salah satu kota yang menyimpan kemolekan tubuh tersebut. Coba saja kunjungi pantai-pantai di sana, tak sedikit wanita bertelanjang dada alias topless lalu-lalang sambil bercanda ria.

Suasana tersebut makin liar ketika matahari terbenam di sudut pantai. Sejumlah rumah pelacuran di tepi pantai siap memanjakan nafsu kaum Adam. Jangan heran, prostitusi legal di kota ini. Jika musim karnaval tiba, musik dan wanita akan membawa Anda lebih jauh berfantasi.


Moskow Kota Clubbing

Apa jadinya ketika negara komunal berganti wajah? Masyarakatnya bakal mengalami histeria. Itu yang kini terjadi di Moskow, Rusia. Setiap klub malam di sana memutar musik tekno hardcore hingga rock. Hampir seluruh anak muda Moskow menghabiskan waktu di klub.


Jika ingin mendapat teman kencan ekspres, hampir semua klub menyediakan pelayanan ini. Coba saja ke klub striptis di dekat Red Square. Ada juga The Hungry Duck, bar yang menyelenggarakan ladies' night tiga kali dalam sepekan serta penari telanjang pria selama 24 jam. Prostitusi memang dilarang di Moskow, namun masih bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi.


Amsterdam Kota Mariyuana

Amsterdam, Belanda, memiliki puluhan kafe mariyuana, salah satu jenis obat-obatan terlarang. Mariyuana, rokok, dan sejenisnya memang legal di negeri kincir angin ini. Tidak ada aturan yang menyebutkan benda-benda itu harus digunakan dengan prosedur tertentu.

Ingin berkencan dengan pelacur? Cukup datangi distrik di salah satu bagian kota. Di sana, Anda bisa melihat dan memilih wanita yang diinginkan dari jendela kaca. Para pelacur akan bergaya dengan atau tanpa busana bak boneka pajangan. Kemenangan juga dirasakan para pecinta sesama jenis. Mereka bisa dengan bebas mengikrarkan hubungan tersebut, karena tak ada larangan untuk cinta semacam ini. Bagi mereka yang tak menyakini Tuhan, tidak ada yang mempersoalkan hal itu di Amsterdam.