Jumat, 08 Januari 2010

Gelombang di Perairan Selatan Bali Capai 2,5 Meter

Dari analisa angin (streamline) selama 24 jam terakhir, Balai Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BKMG) mencermati adanya daerah belokan angin dari Sumatera bagian utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, perairan Halmahera hingga Papua. Untuk daerah Bali dan Nusa Tenggara, terjadi daerah belokan angin yang diakibatkan pembentukan daerah tekanan rendah di sekitar benua Australia, hal ini dapat menyebabkan pembentukan awan-awan hujan yang berpeluang memberikan hujan dengan intensitas ringan - sedang terkadang lebat.

Pola angin rata - rata di wilayah Bali dan Nusa Tenggara 05 - 28 km/jam. Tinggi gelombang laut di perairan utara Bali adalah 0,5 – 1,5 meter; perairan selatan Bali adalah 0,75 - 2,5 meter; Selat Bali adalah 0,75 - 2,0 meter; dan Selat Lombok adalah 0,5 – 2,0 meter.

Berdasarkan kondisi di atas, hingga hari Minggu (10/1), BKMD tetap mengimbau masyarakat untuk mewaspadai terjadinya hujan dengan intensitas sedang disertai badai petir dan angin kencang secara tiba-tiba yang bersifat lokal terutama di wilayah Bali bagian tengah dan selatan. Namun, menurut perkiraan, hujan berpetir tersebut hanya akan berlangsung dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Puting Beliung Hantam Bali Utara, Bali Selatan diimbau Waspada

Hujan deras disertai badai puting beliung menghantam kabupeten Buleleng Selasa (5/1) lalu. Sore itu, pukul 18.30 wita, amukan badai itu mengobrak-abrik kabupaten yang terletak di bagian utara Pulau Bali itu. Kantor Bupati Buleleng di Jalan Pahlawan No 1 Singaraja, pun tidak luput amukannya. Sebuah bangunan yang berada di parkir timur kantor tersebut hancur tertimpa pohon yang tercerabut dan tumbang. Kerusakan lain terjadi di Desa Tegalinggah, Kecamatan Sukasada. Badai yang bergerak dari laut menjalar ke arah barat melintasi daya desa itu dan menghancurkan 12 rumah.

Cuaca buruk itu juga mempengaruhi pelabuhan penyeberangan Gilimanuk sejak Selasa (5/1) lalu. Hari itu aktivitas pelayaran di selat Bali sempat terhenti sekitar setengah jam akibat hujan deras disertai angin kencang. Cuaca buruk membuat jarak pandang sangat terbatas. Selain itu, kuatnya hembusan angin juga bisa menyeret kapal yang sedang berlayar.

Menurut data di Balai Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BKMG) Denpasar, hujan deras yang menganggu jarak pandang nahkoda kapal sewaktu-waktu masih akan terjadi di selat Bali. Begitupula aging kencang dengan kecepatan 0,3 sampai 18 knot dan gelombang dengan ketinggian 0,5 sampai 1,5 meter. Menurut perkiraan, pola angin rata - rata wilayah Bali Baratdaya – Barat 05 - 26 km/jam. Suhu muka laut di perairan selatan dan utara Jawa berkisar 30°C.

Pantauan terakhir Citra Satelit Cuaca menunjukkan sebaran awan masih dominan di sekitar wilayah equator yang berpotensi hujan sedang - lebat umumnya terjadi di wilayah Indonesia bagian barat. Cuaca di Jatim, Bali, NTB dan NTT umumnya hujan ringan - lebat.

Meski kondisi cuaca tiga hari terakhir di Bali berawan dan hujan ringan hingga sedang, adanya aktivitas konvektif atmosfer berskala lokal dan suhu udara yang cukup panas dapat menyebabkan pertumbuhan awan - awan hujan di sebagian wilayah Indonesia. Hal ini perlu diwaspadai karena berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang disertai badai petir dan angin kencang secara tiba-tiba yang bersifat lokal yang tidak terlalu lama terutama di wilayah Bali bagian tengah dan selatan, umumnya pada malam hingga dini hari.

Kamis, 07 Januari 2010

Pura Meduwe Karang

Secara harfiah, kata “Pura Meduwe Karang” dapat diterjemahkan dengan “Pura Pemilik Lahan”. Pura ini terletak di Desa Kubutambahan, sekitar 12 kilometer dari kota Singaraja, lebih kurang satu kilometer dari pertigaan Singaraja, Kubutambahan dan Kintamani. Sesuai dengan namanya, pura ini merupakan tempat memohon kesuburan agar tanaman di tegalan berhasil baik. Lahan di kawasan Kubutambahan memang didominasi oleh tegalan untuk bertanam kelapa, kopi, atau jeruk. Tanaman semusim yang biasa dibudidayakan di sana adalah ubi kayu dan jagung.

Tata letak dan arsitektural pura ini khas Bali Utara. Gugusan tangga, areal yang luas dan lapang, detil ornamen serta deretan patung-patungnya, sulit ditemukan pada pura-pura di Bali Selatan. Jumlah patung di pura ini tak kurang dari 34 buah. Semuanya merupakan karakter yang diambil epos Ramayana.

Pura ini terdiri dari tiga bagian yang semakin ke dalam semakin meninggi. Areal teringgi merupakan areal tersuci di mana terdapat sebuah bangunan padmasana dari padas yang diapit oleh sepasang bangunan beratap limas. Di situlah persembahyangan di lakukan. Jika diperhatikan dari kejauhan, susunan bati padas dari dasar hingga puncak padmasana, tampak seperti susunan piramid.

Ada lagi hal lain yang unik di pura ini. Pada dindning sebelah utara terdapat ukiran setinggi satu meter yang melukiskan seorang pegawai Pemerintah Belanda tengah mengendarai sepeda dari tumbuhan. Beberapa catatan mengatakan bahwa ukiran ini merupakan hasil reproduksi dari ukiran yang dibuat pada tahun 1904 yang sempat hancur akibat gempa bumi. Konon pengendara sepeda dalam ukiran tersebut adalah W.O.J. Nieuwenkamp, pelukis Belanda yang terkenal pada saat itu yang berkeliling Bali dengan mengendarai sepeda pada awal tahun 1900 an. Nieuwenkamp selalu melukiskan tempat-tempat yang sempat ia kunjungi. Pada saat restorasi, bentuk sepeda diubah menjadi sepeda dengan roda berbentuk bunga teratai, Nieuwenkamp diubah menjadi mengenakan sarung dan ditambahkan dengan pattern tumbuhan dan bunga-bunga sebagai latar belakang. Di antara kaki dan roda sepeda terdapat sosok anjing dan tikus, kumis tebal Nieuwenkamp dan inisialnya tidak terdapat lagi.

Ingin mengunjungi pura ini? Karena kawasan bali Utara terletak cukup jauh dari Kuta, agar waktumu efektif buatlah pejalanan satu hari atau lebih untuk mengunjungi Bali Utara. (abe/"Bali Handbook" Bill Dalton)