Kamis, 16 Juni 2011

AWSB Hotel Bali, Nyaman untuk Menginap atau Meeting

Oleh : Maria Ekaristi

Ini merupakan hotel dengan kombinasi ideal antara fasilitas modern dan suasana alam Bali yang memesona. Namanya, Aerowisata Sanur Beach Hotel Bali. Di dalam kawasan resor ini terdapat bagungan megah berlantai empat, namun tetap terkesan ramah. Seluruh bangunan itu memiliki 428 kamar, terdiri dari 238 Kamar Superior, 124 kamar Deluxe Garden, 40 kamar Deluxe Sea View, 24 Studios & Suites dan dua Pool Villas.

Suasana kamar-kamar itu sungguh nyaman. Semuanya dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi dengan shower atau bak mandi, lantai karpet elegan dan balkon yang menghadap ke taman, kolam renang atau laut. Setiap kamar juga dilengkapi dengan AC yang dapat dikontorl secara individual, TV satelit dengan berbagai saluran film, minibar, pengering rambut, telepon IDD, fasilitas pembuatan kopi & teh dan kotak safety deposit.

Ada beberapa resto di kawasan hotel ini. Tirta Poolside Restaurant menawarkan makanan favorit internasional, khususnya makanan Asia dan aneka hidangan laut, Pepper Latino Bar & Grill khusus menyediakan khusus makanan Amerika Latin, Basilico Italia Pavilion yang terletak di sepanjang pantai menyediakan aneka makanan Italia, sedangkan Pantai Bambu Bar merupakan tempat yang sangat nyaman untuk menikmati koktail.

Fasilitas lainnya, dua kolam renang yang luas dan nyaman, lapangan tenis, pusat kebugaran dan pusat olahraga air, dan Spa Odiseus.


MICE
Hotel Sanur Beach Bali merupakan tempat cukup ideal untuk konferensi, rapat dan pertemuan lainnya. Di hotel ini terdapat tiga meeting room, sebuah teater alam terbuka, dan sebuah convention center yang diberi nama “Wantilan”. Wantilan Convention Center berkapasitas 1000 orang untuk resepsi atau 800 orang untuk theater style.

Jika pertemuan yang anda selenggarakan memerlukan beberapa tempat terpisah namun tetap mudah dikoordinasikan, wantilan ini dapat dipecah menjadi empat ruangan yang masing-masing berkapasitas antara 60 hingga 120 orang.

Tempat pertemuan lainnya adalah Garuda Room berkapasitas 125 orang, Jauk Room berkapasitas 40 orang, dan Blue Sky Room yang berkapasitas 20 orang. Semua ruang pertemuan tersebut dilengkapi dengan fasilitas audio-visual yang canggih.

Jika anda memerlukan teater terbuka untuk acara hiburan, peluncuran produk baru, pameran, pesta, pertemuan atau diskusi anda dapat menggunakan Bima Stage. Tempat ini cukup luas dan nyaman untuk acara-acara tersebut.

Terletak tepat di bibir pantai berpasir Sanur, resor memiliki tujuh hektar halaman yang ditumbuhi ratusan pohon kelapa dan pohon-pohon tropis yang rindang. Dengan penataan taman yang apik, hotel yang berjarak sekitar 25 menit dari Bandar Udara Internasional Ngurah Rai International terasa begitu nyaman untuk dijadikan tempat menginap bersam keluarga mau pun tempat mengadakan pertemuan.

Alamat kontak:
Jalan Danau Tamblingan
PO BOX 3279, Denpasar 80032, Bali
Telp. : 62-361-288 011
Fax: 62-361-287 566

Rabu, 15 Juni 2011

Belajar Autocad | Belajar Dunia Oil and Gas untuk Offshore

Sejak jum'at kemarin saya tidak bisa mengupdate blog ini secara reguler alias setiap hari, dikarenakan saya harus pindah ngantor untuk sementara. Untung belajar autocad yang pernah saya sampaikan di blog ini tentang oil and gas ternyata memberikan sedikit banyak ilmu yang saya pakai di tempat baru, karena di tempat baru ini saya berhadapan dengan gambar-gambar seputar oil and gas untuk offshore alias pengeboran gas lepas pantai, wah seru banget nih, dapat ilmu baru

Waktu pertama kali datang, saya dihadapkan pada versi autocad terbaru yaitu autocad LT versi 2011, wadohh...saya baru banget sama program yang satu ini, tapi it's oke, saya coba untuk mendapatkan menu application load alias upload aplikasi buatan sendiri yaitu autoLisp, namun ternyata tidak bisa saya temukan, walhasil saya menggunakan menu standar saja, hiks..

Untuk gambar yang saya hadapi kali ini, berbeda dengan gambar sehari-hari yang saya kerjakan, yaitu offshore alias lepas pantai, ada beberapa istilah yang saya dapatkan dari belajar autocad oil and gas offshore kali ini, antara lain Flowline, Riser, Mooring, Umbilicals, Rigs, FLNG, Subsea Umbilicals, Manifold dan masih banyak lagi.

Pada intinya untuk pengeboran gas lepas pantai, sebuah rigs ditempatkan diatas sumur gas yang akan diboring, untuk rigs diperlukan beberapa angkur agar tidak lepas dari titik sumur tersebut.

Jarak antara angkur dengan rigs secara horizontal berkisar antara 2500 meter lebih dan memakai pipa flexibel berdiameter 10 inch.

Awalnya gambar yang saya dapat, koordinat antara FLNG dan manifold masih salah dan harus direvisi sesuai koordinat yang didapatkan dari survey lapangan, jadi mau ga mau saya harus posisikan pada koordinat yang baru dan membuat flowline baru. Flowline terdiri dari 3 jalur yang diapit oleh 2 jalur umbilicals ( yang jelas saya belum tahu apa itu umbilicals..hehe.).

Sekian dulu ah sharing pekerjaan di oil and gas offshore, besok saya harus ngantor pagi-pagi lagi, karena kantor ini banyak orang bule nya, jadi komunikasi kudu pake bahasa ribet dulu, hiks..

Semoga bermanfaat.

Senin, 13 Juni 2011

Membludak Peserta Festival Film Dokumenter Bali (FFDB) 2011

Festival Film Dokumenter Bali (FFDB) 2011 rupanya dianggap sebagai ajang yang cukup penting untuk diikuti oleh para pembuat film dokumenter di Indonesia. Terbukti pada festival yang merupakan bagian dari Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-33 itu, jumlah sineas yang mengikutkan karyanya cukup besar. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali sendiri. Seluruhnya ada 34 karya. Jumlah tersebut jauh melebihi target yang dipatok hanya 20 karya saja. Target tersebut dibuat berdasarkan jumlah karya yang masuk pada acara yang sama tahun lalu, yakni 14 karya.

Karena jumlahnya di atas jumlah yang perkirakan, maka waktu pemutaran karya-karya tersebut di PKB pun menjadi berubah. Waktu penayangan yang disediakan hanya dua jam dalam setiap kali pemutaran, diperpanjang menjadi tiga jam.

Tingginya animo para pembuat film dokumenter untuk menyertakan karyanya dalam festival ini kemungkinan besar disebabkan oleh terlibatnya nama-nama penting dalam perfilman dokumenter menjadi juri. Mereka adalah Dr. Lawrence Blair, Slamet Rahardjo Djarot, Rio Helmi, Prof. Dr. I Wayan Dibia, dan Hadiartomo.

Dr. Lawrence Blair adalah antropolog yang menggeluti film dokumenter sejak awal 1970-an. Dialah salah satu orang yang banyak memperkenalkan Bali dan Indonesia ke seluruh dunia. Karya pentingnya adalah ‘Ring of Fire’. Film ini meraih Emmy Award, sebuah penghargaan bergengsi di dunia pertelevisian sebagai film dokumenter terbaik. Pada tahun 1989, film ini juga memenangi National Educational Film and Video Festival Silver Apple Awards.

Karya-karya Lawrence yang lain adalah Beyond the Ring of Fire, Seas, Snakes, Myths, Magic & Monsters, Bali Island of The Dogs.

Rio Helmi adalah fotografer kondang. Karya-karyanya banyak dimuat di majalah National Geographic. Di dunia fotografi Indonesia dia dikenal sebagai “ the living legend”. Rio mulai bekerja sebagai fotografer profesional semenjak tahun 1978. Ia pernah bekerja sebagai wartawan foto dan penulis pada Sunday Bali Post, Mutiara, dan Tempo. Sebagian besar liputan tersebut berkisar tentang masyarakat terasing yang mulai bersentuhan dengan dunia modern.

Rio beberapa kali terlibat dalam beberapa produksi film documenter. Satu di antaranya adalah Lempad of Bali. Sejak 1983 hingga kini Rio bekerja sebagai freelance untuk berbagai majalah regional membuat reportase dan foto di berbagai negara seperti Brunei, Malaysia, Singapore, Thailand, Filipina, India, Mongolia, Cambodia.

Prof. Dr. I Wayan Dibia adalah budayawan dan guru besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Kelahiran Singapadu tahun 1948 ini adalah budayawan yang telah mahir menari dan menabuh sejak ia berusia sepuluh tahun. Setelah menamatkan studi di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar pada tahun 1973, ia melanjutkan kuliahnya di ASTI Yogyakarta di mana ia meraih gelar sarjananya. Tahun 1984 Dibia mendapat gelar Master of Art dari Universitas California of Los Angeles. Tahun 1992, di universitas yang sama, Dibia dikukuhkan sebagai Doktor setelah sukses mempertahankan disertasi yang berjudul Arja a Sung Dance Drama of Bali: a Study of Change and Transformation.

Prof. Dibia dikenal sangat intens mengamati dan memberi sumbangan pemikiran untuk pengembangan budaya Bali (Indonesia).

Slamet Rahardjo Djarot adalah seorang aktor senior Indonesia. Ia memulai debutnya pada tahun 1968 di bawah arahan Sutradara Teguh Karya. Keterlibatan Slamet dalam film baik sebagai actor maupun sebagai sutradara antara lain pada film: Ranjang Pengantin (1974), Badai Pasti Berlalu (1977), November 1828 (1978), Rembulan dan Matahari (1980), Seputih Hatinya Semerah Bibirnya(1982), Ponirah Terpidana (1983), Kembang Kertas (1985), Kodrat (1986), Kasmaran (1987), Tjoet Nja' Dhien (1988), Langitku Rumahku (1990), Fatamorgana (1992), Anak Hilang (1993), Telegram (2000), Pasir Berbisik (2001), Putri Gunung Ledang (2004), Banyu Biru (2005), Ruang (2006), Badai Pasti Berlalu (2007), Namaku Dick (2008), Laskar Pelangi (2008), Cinta Setaman (2008), dan Sang Pencerah (2010).

Penghargaan yang diperoleh Slamet antara lain: Piala Citra sebagai Aktor Terbaik dalam film Ranjang Pengantin (1974) dan Badai Pasti Berlalu (1977); Piala Citra sebagai film terbaik untuk karyanya yang berjudul Rembulan dan Matahari (1980).

Hadiartomo, Pengajar Fakultas Film dan Televisi Istitut Kesenian Jakarta. Ia adalah alumni Akademi Senimatografi-LPKJ (1977) yang kemudian memperoleh gelar sarjana dari alma mater yang sama yang sudah beralih status menjadi Institut Kesenian Jakarta. Pertama kali terjun ke dunia film dengan menjadi juru kamera dalam film “Kejamnya Ibu Tiri, Tak Sekejam Ibu Kota” (1981). Belakangan, ia juga menjadi juru suara. Saat menjadi juru suara di film “Naga Bonar” (1986), ia menyabet Piala Citra pada FFI 1987 sebagai Penata Suara Terbaik. Film Dokumenternya “Lereng Tambora” meraih Piala Vidya pada FFI 1991. Selain sebagai dosen di Institut Kesenian Jakarta, dia juga mengajar di Kursus Sinematografi yang diselenggarakan oleh Yayasan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Jakarta.

Festival Film Dokumenter Bali (FFDB) 2011 merupakan salah satu mata acara unggulan dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-33.

Minggu, 12 Juni 2011

Meriah Pawai Pesta Kesenian Bali ke-33

Setelah dibuka secara resmi oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, acara pertama Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-33 adalah pawai kesenian. Pelepasan pawai yang diikuti oleh seluruh kontingen peserta PKB tersebut digelar di depan rumah jabatan Gubernur Bali gedung Jayasabha, Jl Surapati, Denpasar, Sabtu (11/6/2011). Pawai disaksikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, Gubernur Bali Made Mangku Pastika, para bupati/walikota, dan pejabat daerah lainnya. Ini adalah untuk pertama kalinya pawai kesenian PKB dilakukan pada hari kedua. Pada tahun-tahun sebelumnya pawai kesenian dilakukan menjelang acara pembukaan.

Pawai berlangsung sangat meriah. Ribuan masyarakat berduyun-duyun datang ke lokasi pawai untuk melihat kemeriahan tersebut. Mereka berjajar di pinggir jalan sepanjang jalur pawai sekitar dua kilometer jauhnya.

Begitu pemukulan gong oleh Gubernur Pastika dilakukan, silih berganti tampil barisan peserta PKB dari sembilan kabupaten/kota dan peserta partisipan dari berbagai daerah di Nusantara dan mancanegara. Mereka tampil dengan ciri khas masing-masing. Setiap daerah menampilkan pakaian adat, ritual pernikahan, taria khas hingga gamelan.

Meski meriah, Gubernur Pastika merasa penyelenggaraan acara pawai tersebut masih jauh dari sempurna. Kepada wartawan dia mengatakan bahwa akan memperbaiki pengaturan pawai di tahun berikutnya sehingga memberikan kenyamanan kepada masyarakat dan wisatawan yang menyaksikannya.

"Tahun depan akan kita perbaiki lagi sehingga lebih teratur," tegasnya.

Sebelumnya, dalam pidato sambutan saat acara pembukaan PKB di Panggung Ardha Chandra Taman Budaya Denpasar, Mangku Pastika mengataan bahwa pawai PKB tersebut diikuti 334 sekeha (sanggar seni) dengan 15 ribu seniman. Juga diikuti oleh 24 kotingen dari 16 Provinsi dan tujuh kontingen dari Jepang, Amerika Serikat, India, Malaysia dan Australia.