Sabtu, 10 Maret 2012

Promo Cerdas, Wisata Indonesia Di Auto Salon Geneva

promo cerdas wisata genewaStrategi Promosi wisata indonesia yang sangat cerdas yang disisipkan pada acara Auto Salon di genewa ini patut di acungi jempol. Pasalnya walau tidak memiliki gerai dalam pameran bergengsi taraf internasional tersebut, namun iklan tentang keindahan pariwisata indonesia dipasang di tram-tram yang menjadi sarana transportasi umum di kedua lokasi pameran tersebut.

Kedutaan Besar Indonesia di Bern, Swiss, seperti yag dikutip situs tips wisata murah dari Antara News menjelaskan. Jumlah wisatawan Swiss yang berkunjung ke Indonesia pada 2011 meningkat, sebesar 9.5 persen dari penduduk yang hanya sekitar 7,4 juta membuat Iklan Wisata Indonesia harus terus berkelanjutan agar tidak kehilangan momentum

Acara Auto Salon Geneva ke-82 di Kota Jenewa yang digelar mulai 8-18 Maret ini dibarengkan dengan The Basel World sebuah industri jam tangan papan atas dunia. yang diperkirakan akan di hadiri sekitar 100.000 pengunjung dari pengemar produk jam mewah dan masyarakat biasa.. tentu ini akan menjadi sesuatu banget bagi kehidupan pariwisata Indonesia. Solusi cerdas memang untuk kelangsungan masa depan pariwisata Indonesia. Yupz salam wisata keluarga indonesia


Foto: hofele.com

Pantai Ngobaran seperti pantai Bali

Kalau anda di pantai ngobaran gunung kidul yogyakarta, disisi barat anda akan menemukan bangunan dengan puluhan patung, dan disisi timur anda akan melihat sebuah tempat yang biasa digunakan oleh umat agama hindu merayakan hari keagamaan, . Dan menurut beberapa pengunjung yang berhasil dikorek kesannya oleh Admin situs tips wisata murah mengatakan. Pantai ngobaran ini memiliki keindahan dan tradisi seperti pulau bali. Di pantai ngobaran ini kita bisa menjumpai dua buah bangunan pura yang mirip seperti yang ada di pulau bali, nuansa etnik bali sangat kental dengan semua pernik perniknya

Secara geografis, pantai ngobaran ini sangat unik, karena berada diantara pegunungan dan pantai. Pemandangan alamnyapun sangat menarik, sayang ya kalau anda pergi ke jogja tapi tidak nyempetin mampir ke pantai ngobaran gunung kidul.Pada bulan bulan tertentu (seperti hari Rabu 7/3/2012 kemarin) di pantai ngobaran ini juga dilakukan upacara pelarungan sesajen oleh umat hindu. suasana ritual serasa di pulau bali. Dan pantai ngobaran ini adalah salah satu pantai di jogja yang eksotis

Menurut pemimpin upacara tersebut mengatakan. upacara pelarungan sesaji ke laut, merupakan wujud dari dibuangnya enam sifat buruk manusia yakni Kama atau nafsu biologis, rakus, kemarahan; Madha atau kemabukan, kebingungan, serta dan sikap iri hati. Banyak anak kecil, dan warga yang berebut sesaji, yang dilarung di laut.. Betulkan Pantai ngobaran seperti di bali

Asal mula garam Sepang (kalteng)

Alkisah pada zaman dahulu kala, di Desa Sepang (sekarang Kecamatan Sepang), Kalimantan Tengah, hiduplah seorang janda yang bernama Emas. Ia hidup bersama dengan putrinya yang bernama Tumbai. Tumbai adalah gadis yang cantik nan rupawan. Ia juga baik hati dan sangat ramah kepada setiap orang. Setiap pemuda yang melihatnya berkeinginan untuk menjadi pendamping hidupnya. Oleh karena itu, banyak pemuda yang datang untuk meminangnya. Namun, Tumbai selalu menolak setiap pinangan yang datang kepadanya. Ibunya sangat gelisah melihat sikap Tumbai. Meskipun ibunya sudah berusaha membujuk Tumbai agar menerima salah satu pinangan, Tumbai tetap saja menolak.

Tumbai sangat mengerti kerisauan ibunya. Akan tetapi, apa yang pernah ia ucapkan tidak mungkin ditariknya kembali. Tumbai sudah bertekad keras mengajukan syarat kepada setiap pemuda yang meminangnya. Syarat itu sangat berat dan terasa mustahil untuk diwujudkan, yaitu mengubah sumber air tawar Sepang menjadi asin seperti air laut. Ibunya tidak habis pikir, bagaimana mungkin hal itu diwujudkan? Oleh karena itu, ia meminta kepada Tumbai agar syarat itu dihilangkan. “Anakku, sebaiknya kamu pikirkan lagi syarat-syaratmu itu,” kata ibunya. “Mana ada yang bisa memenuhi permintaanmu itu?” tambah ibunya mendesak. “Tidak, Ibu. Saya sudah memikirkannya siang dan malam. Begitulah petunjuk yang saya peroleh melalui mimpi. Pasti ada yang dapat memenuhi permintaan saya. Siapapun pemuda itu, dialah yang akan menjadi suami saya,” tegas Tumbai kepada ibunya.

Melihat keteguhan hati anaknya, ibu Tumbai tidak pernah menyinggung hal itu lagi. Akan tetapi hatinya tetap menyimpan kecemasan yang luar biasa. Ia khawatir anaknya tidak memperoleh jodoh, karena tidak ada pemuda yang sanggup memenuhi persyaratannya. Meskipun demikian, ibunya tidak pernah putus asa. Setiap malam ia selalu berdoa kepada Tuhan agar keinginan anaknya itu segera terkabul. “Ya Tuhan! Kabulkanlah keinginan putriku, semoga ada pemuda yang mampu memenuhi persyaratannya!” doa ibu Tumbai.

Rupanya doa ibu Tumbai dikabulkan oleh Tuhan. Pada suatu hari, datanglah seorang pemuda tampan dari daerah hilir Sungai Barito menemui Tumbai dan ibunya. Kedatangannya disambut dengan baik oleh Tumbai dan ibunya. Pemuda tampan itu kemudian mengutarakan maksud kedatangannya yaitu untuk meminang Tumbai. “Maaf, Ibu. Saya datang ke sini bermaksud untuk meminang putri ibu,” kata pemuda itu. “Wahai Tuan yang budiman, anakku tidak meminta maskawin yang mahal, tetapi ia hanya mengajukan syarat yang harus dipenuhi sebagai maskawinnya. Apakah Tuan sudah pernah mendengarnya?” tanya ibu Tumbai. “Sudah, Ibu. Bukankah putri Ibu menginginkan sumber air Sepang yang tawar itu menjadi air asin seperti air laut?” tanya pemuda itu dengan ramah. “Betul Tuan! Memang itulah yang diinginkan oleh putri saya. Apakah Tuan bersedia memenuhi syarat itu?” tanya ibu Tumbai. Pertanyaan itu membuat pemuda itu merasa tertantang. Ia pun segera menyanggupi persyaratan Tumbai. “Baiklah! Saya akan mencobanya, Ibu. Mohon doa restu Ibu agar saya dapat memenuhi permintaan putri Ibu,” kata pemuda tampan itu dengan rendah hati.

Ibu Tumbai pun mengizinkan pemuda yang terlihat baik itu untuk mencoba memenuhi persyaratan yang diajukan anaknya. “Semoga dia dapat memenuhi permintaan anakku,” kata ibu Tumbai dalam hati saat mengantar pemuda tampan itu keluar dari rumahnya. Orang-orang yang ada di kampung itu menganggapnya sebagai orang gila. Menurut mereka, mustahil ia mampu mengubah sumber air tawar di sungai menjadi sumber air asin seperti air laut. Pemuda tampan itu tidak peduli terhadap omongan orang-orang tersebut. Dengan kesaktian yang dimilikinya, ia bertekad untuk memenuhi persyaratan gadis cantik itu.

Pemuda tampan itu pun berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Ia duduk bersila di atas lempengan batu di sekitar sumber air tawar Sepang itu. Setelah ia berhari-hari berdoa, atas kekuasaan Tuhan, sumber air tawar di Sepang tiba-tiba berubah menjadi sumber air asin, seperti air laut. Semua orang yang tadinya meragukan kemampuan pemuda itu datang untuk membuktikannya. Setelah mereka mencicipi air tawar di Sepang itu, ternyata memang rasanya telah berubah menjadi asin. Kini, mereka mengakui kehebatan pemuda tampan itu yang mampu mengubah sumber air tawar di Sepang menjadi sumber air asin, seperti air laut.

Dengan demikian, terpenuhilah syarat yang telah diajukan Tumbai. Pinangan pemuda tampan itu pun diterima. Sesuai janji Tumbai, pemuda itu dibebaskan dari pembayaran maskawin. Ibu Tumbai sangat senang sekali. Kerisauannya terhadap anaknya tidak mendapat jodoh, telah hilang. Ia sangat bangga terhadap calon menantunya yang tampan itu. Kemudian, ibu Tumbai pun mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menggelar pesta pernikahan anaknya. Tidak ketinggalan pula, para tetangga Tumbai ikut sibuk membantunya.

Akhirnya, Tumbai dan suaminya hidup bahagia dan sejahtera. Mereka hidup dengan mengusahakan sumber air asin menjadi garam. Mereka menjadi kaya-raya. Penduduk di sekitarnya juga melakukan usaha yang sama, sehingga mereka pun turut menjadi kaya-raya. Seluruh penduduk Sepang menjadi makmur dan berkecukupan.

Hingga kini, masyarakat Kahayan Hulu menganggap cerita di atas benar-benar pernah terjadi, karena air di Sungai Kahayan itu sebagian memang ada yang terasa asin.

http://www.ziddu.com/download/18823505/asalmulagaramsepang.doc.html

Legenda Ikan Patin (kalteng)


Pada suatu hari, seorang pemuda tampan dan kaya yang bernama Awangku Usop lewat di depan rumah Dayang Kumunah. Pemuda itu melihatnya sedang menjemur pakaian. Saat itu pula, Awangku Usop langsung jatuh hati kepada Dayang Kumunah dan berniat memperistrinya. Beberapa hari kemudian, Awangku Usop datang ke rumah Dayang Kumunah untuk meminangnya. Dayang Kumunah bersedia menerima pinangan Awang Usop, asalkan ia juga bersedia memenuhi syaratnya. Syarat apa yang akan diajukan Dayang Kumunah kepada Awang Usop? Mampukah Awang Usop memenuhi syarat itu? Ingin tahu kisah selengkapnya? Ikuti kisahnya dalam cerita Legenda Ikan Patin berikut ini.


Alkisah, pada zaman dahulu kala, di Tanah Melayu hiduplah seorang nelayan tua yang bernama Awang Gading. Ia tinggal seorang diri di tepi sebuah sungai yang luas dan jernih. Walaupun hidup seorang diri, Awang Gading selalu merasa bahagia. Ia mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya. Pekerajaan sehari-harinya adalah menangkap ikan di sungai dan mencari kayu di hutan.

Suatu sore, sepulang dari hutan, Awang Gading pergi mengail di sungai. “Ah, semoga hari ini aku mendapat ikan besar,” gumam Awang Gading. Usai melemparkan kailnya ke dalam air, ia berdendang sambil menunggu kailnya. Berapa saat kemudian, umpannya pun di makan ikan. Dengan hati-hati disentakkannya kail itu. Apa yang terjadi? Ternyata ikannya terlepas. Lalu dipasangnya lagi umpan pada mata kailnya. Berkali-kali umpannya di makan ikan, namun saat kailnya ditarik, ikannya terlepas lagi.

“Air pasang telan ke insang
Air surut telan ke perut
Renggutlah…!
Biar putus jangan rabut,”

terdengar dendang Awang Gading sambil melempar pancingnya kembali.

Hari sudah mulai gelap. Namun, tak seekor ikan pun yang diperolehnya. “Rupanya, aku belum beruntung hari ini,” gumam Awang Gading. Usai bergumam, Awang Gading pun bergegas pulang. Namun, baru saja melangkah, tiba-tiba ia mendegar tangisan bayi. Dengan perasaan takut, Awang Gading mencari asal suara itu. Tak lama mencari, ia pun menemukan bayi perempuan yang mungil tergolek di atas batu. Tampaknya bayi itu baru saja dilahirkan oleh ibunya. Anak siapa gerangan? Kasihan, ditinggal seorang diri di tepi sungai,” Ucap Awang Gading dalam hati. Oleh karena merasa iba, dibawanya bayi itu pulang ke gubuknya.

Malam itu juga Awang Gading membawa bayi ke rumah tetua kampung. “Awang, berbahagialah, karena kamu dipercaya raja penghuni sungai untuk memelihara anaknya. Rawatlah ia dengan baik,” Tetua Kampung berpesan. “Terima kasih, Tetua! Saya akan merawat bayi ini dengan baik. Semoga kelak menjadi anak yang cerdas dan berbudi pekerti yang baik,” jawab Awang Gading mengharap.

Keesokan harinya, Awang Gading mengadakan selamatan atas hadirnya bayi di tengah kehidupannya. Ia mengundang seluruh tetangganya. Awang Gading memberi nama bayi itu Dayang Kumunah. Usai acara tersebut, Awang Gading menimang-nimang sang bayi sambil mendendang, “Dayang sayang, anakku seorang…Cepatlah besar menjadi gadis dambaan.”

Kehadiran Dayang Kumunah dalam kehidupannya, membuat Awang Gading semakin giat bekerja. Ia sangat sayang dan perhatian terhadap Dayang. Awang Gading juga membekali Dayang Kumunah berbagai ilmu pengetuhan dan pelajaran budi pekerti. Setiap hari ia juga mengajak Dayang pergi mengail atau mencari kayu di hutan untuk mengenal kehidupan alam lebih dekat.

Waktu terus berjalan. Dayang Kumunah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan berbudi pekerti luhur. Ia juga sangat rajin membantu ayahnya. Namun sayang, Dayang Kumunah tidak pernah tertawa.

Suatu hari, seorang pemuda tampan dan kaya lewat di depan rumah Dayang. Pemuda itu bernama Awangku Usop. Saat melihat Dayang Kumunah sedang menjemur pakaian, Awangku Usop langsung jatuh hati kepadanya dan berniat untuk segera meminangnya.

Beberapa hari kemudian, Awangku Usop meminang Dayang Kumunah pada Awang Gading.

“Maaf, Tuan! Nama saya Awangku Usop. Saya dari desa sebelah,” kata Usop memperkenalkan diri.

“Ada apa gerangan, Ananda Awangku Usop?” tanya Awang Gading.

“Saya ke mari hendak meminang putri Tuan” pinang Awangku Usop.

Awang Gading tidak langsung memberikan jawaban. Keputusannya ada pada Dayang Kumunah. Lalu ia meminta pendapat Dayang Kumunah. “Anakku, Dayang! Bagaimana pendapatmu tentang pinangan Awangku Usop?” tanya Awang Gading pada Dayang yang sedang duduk di sampingya. Dayang Kumunah langsung menanggapi pinangan pemuda itu. “Kanda Usop, sebenarnya kita berasal dari dua dunia yang berbeda. Saya berasal dari sungai dan mempunyai kebiasaan yang berlainan dengan manusia. Saya bersedia menjadi istri kanda Usop, tetapi dengan syarat, jangan pernah meminta saya untuk tertawa,” pinta Dayang Kumunah. Awangku Usop menyanggupi syarat itu. “Baiklah! Saya berjanji untuk memenuhi syarat itu,” kata Awangku Usop.

Seminggu kemudian, mereka pun menikah. Pesta pernikahan mereka berlangsung meriah. Semua kerabat dan tetangga kedua mempelai diundang. Para undangan turut gembira menyaksikan kedua pasangan yang serasi tersebut. Dayang Kumunah gadis yang sangat cantik dan Awangku Usop seorang pemuda yang sangat tampan. Mereka pun hidup berbahagia, saling mencintai dan saling menyayangi.

Namun, kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Beberapa minggu setelah mereka menikah, Awang Gading meninggal dunia karena sakit. Dayang Kumunah sangat sedih kehilangan ayah yang telah mendidik dan membesarkannya, meskipun bukan ayah kandungnya sendiri. Hingga berbulan-bulan lamanya, hati Dayang Kumunah diselimuti perasaan sedih. Untungnya, kesedihan itu segera terobati dengan kelahiran anak-anaknya yang berjumlah lima orang. Kehadiran mereka telah menghapus ingatan Dayang Kumunah kepada “ayahnya”. Ia pun kembali bahagia hidup bersama suami dan kelima anaknya.

Namun, Awang Usop merasa kebahagiaan mereka kurang lengkap sebelum melihat Dayang Kumunah tertawa. Memang, sejak pertama kali bertemu hingga kini, Awang Usop belum pernah melihat istrinya tertawa.

Suatu sore, Dayang Kumunah berkumpul bersama keluarganya di teras rumah. Saat itu, si Bungsu mulai dapat berjalan dengan tertatih-tatih. Semua anggota keluarga tertawa bahagia melihatnya, kecuali Dayang Kumunah. Awang Usop meminta istrinya ikut tertawa. Dayang Kumunah menolaknya, namun suaminya terus mendesak. Akhirnya ia pun menuruti keinginan suaminya. Saat tertawa itulah, tiba-tiba tampak insang ikan di mulutnya. Menyadari hal itu, Dayang Kumunah segera berlari ke arah sungai. Awangku Usop beserta anak-anaknya heran dan mengikutinya.

Sesampainya di tepi sungai, perlahan-lahan tubuh Dayang Kumunah menjelma menjadi ikan dan segera melompat ke dalam air. Awang Usop pun baru menyadari kekhilafannya. “Maafkan aku, istriku! Aku sangat menyesal telah melanggar janjiku sendiri, karena memintamu untuk tertawa. Kembalilah ke rumah, istriku!” bujuk Awangku Usop.

Namun, semua sudah terlambat. Dayang Kumunah telah terjun ke sungai. Ia telah menjadi ikan dengan bentuk badan cantik dan kulit mengilat tanpa sisik. Mukanya menyerupai raut wajah manusia. Ekornya seolah-olah sepasang kaki manusia yang bersilang. Orang-orang menyebutnya ikan patin.

Sebelum menyelam ke dalam air, Dayang Kumunah berpesan kepada suaminya, “Kanda, peliharalah anak-anak kita dengan baik.”

Awangku Usop dan anak-anaknya sangat bersedih melihat Dayang Kumunah yang sangat mereka cintai itu telah menjadi ikan. Mereka pun berjanji tidak akan makan ikan patin, karena dianggap sebagai keluarga mereka. Itulah sebabnya sebagian orang Melayu tidak makan ikan patin.

* * *

Cerita rakyat di atas termasuk ke dalam cerita teladan yang mengandung nilai-nilai moral. Nilai-nilai tersebut di antaranya kewajiban mendidik anak, berbudi pekerti luhur, dan pantangan melanggar janji. Sifat kewajiban mendidik anak tercermin pada sifat Awang Gading yang telah mendidik dan membekali berbagai ilmu pengetahuan dan budi pekerti pada Dayang Kumunah. Sifat berbudi pekerti luhur tercermin pada sifat Dayang Kumunah. Meskipun cantik, ia tetap tidak sombong. Sementara itu pantangan yang dilanggar oleh Awangku Usop adalah melanggar janji. Ia telah mengingkari janjinya untuk tidak meminta Dayang Kumunah tertawa.

Mendidik anak dengan baik dan budi pekerti luhur patut untuk dijadikan sebagai suri teladan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi orang Melayu, mendidik anak adalah kewajiban orang tua, karena telah menjadi perintah ajaran agama dan adat lembaga. Mendidik dan memelihara anak tidak boleh diabaikan, karena kewajiban orang tua dalam mendidik anak tidak hanya dipertanggungjawabkan di dunia, tetapi juga di akhirat kelak. Oleh karena itu, sifat ini sangat diutamakan dalam kehidupan orang-orang Melayu. Banyak petuah amanah yang berkaitan dengan mendidik anak yang diwariskan dalam budaya Melayu, salah satu di antaranya adalah seperti berikut:

anak dididik sejak kecil
anak diajar sejak terpancar
anak dibela selamanya

Sementara sifat suka mengingkari janji sangat dipantangkan dalam kehidupan orang-orang Melayu, karena sifat ini termasuk salah satu ciri orang munafik. Petuah amanah tentang sifat munafik juga banyak diwariskan dalam budaya Melayu, di antaranya seperti berikut:

apa tanda orang munafik,
lidah bercabang, akal berbalik
http://www.ziddu.com/download/18823475/legendaikanpatin.doc.html

Palui (kalteng)



Alkisah, di sebuah kampung di daerah
Kalimantan Tengah, hiduplah sepasang
suami-istri bersama empat orang anaknya
yang masih berumur belasan tahun. Untuk
memenuhi kebutuhan keluarganya, sang
Suami mencari ikan di sungai. Dalam
mencari ikan, Sang Ayah biasanya dibantu
oleh anak sulungnya yang bernama Palui.
Pada suatu hari, sang Ayah sakit, sehingga untuk mencari ikan Palui harus
berangkat sendiri ke sungai. Sesampainya di sungai, Palui segera memasang
jaringnya. Setelah itu, ia duduk di tepi sungai sambil menunggu ikan-ikan
terperangkap jaringnya. Setelah beberapa lama menunggu, ia turun ke sungai
untuk memeriksa jaringnya. Usai diperiksa, ternyata jaringnya masih tetap
kosong. Palui memasang kembali jaringnya dan kemudian duduk di tepi sungai
sambil bersiul-siul. Kali ini, ia membiarkan jaringnya terpasang agak lama
dengan harapan bisa memperoleh ikan yang banyak. Namun, Palui benar-
benar sial hari itu, di jaringnya tak seekor ikan pun yang terperangka.
“Aneh, kenapa tak seekor ikan pun yang terperangkap? Jangan-jangan jaring
ini robek,” pikirnya.

Setelah diteliti secara seksama, tak satu pun lubang yang ia temukan. Oleh
karena kesal dan kecewa, akhirnya Palui memutuskan untuk berhenti
memancing dan ingin beristirahat sejenak di bawah sebuah pohon beringin
yang berada di tepi sungai. Tengah asyik menikmati sejuknya hawa dingin di
bawah pohon itu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah benda kecil berwarna
merah menimpa dirinya. Ketika menengadahkan wajahnya ke atas pohon, ia
melihat buah beringin yang sangat lebat. Ada yang berwarna kuning dan ada
pula yang merah. Saat akan mengalihkan pandangannya, tiba-tiba ranting-
ranting pohon itu bergerak-gerak.

“Hai, ada apa di balik ranting itu?” gumamnya.

Setelah diamati dengan seksama, ia melihat beraneka ragam burung seperti
baliang, tingang, punai dan murai sedang makan buah beringin. Melihat
kawanan burung itu, rasa sedih dan kecewanya sedikit terobati dan berniat
untuk menangkapnya. Pohon beringin itu cukup tinggi. Namun hal itu tidak
membuat Palui mengurungkan niatnya untuk menangkap burung-burung
tersebut. Ketika akan naik ke atas pohon, tiba-tiba ada sesuatu yang
mengganjal di pikirannya.

“Ah, tidak mungkin aku bisa menangkap kawanan burung itu dengan tangan
kosong. Tapi, dengan apa aku bisa menangkap mereka?” tanya Palui dalam
hati bingung.

Setelah berpikir sejenak, Palui langsung teringat pada jaring ikannya.

“Ahah, kalau begitu, jaring ini akan kugunakan sebagai perangkap untuk
menangkap kawanan burung itu,” gumamnya.

Dengan penuh semangat, Palui pun segera memanjat pohon itu sambil
membawa jaring ikannya. Melihat kedatangan Palui, kawanan burung yang
sedang berpesta makan itu merasa terusik dan langsung beterbangan
meninggalkan pohon. Sementara Palui terus saja naik tinggi ke atas pohon
dan segera memasang jaringnya mengintari ranting-ranting yang berbuah
lebat. Ia mengingkatkan tali jaringnya pada batang bohon beringin dengan
kuat. Setelah yakin benar bahwa jaring yang telah dipasangnya sudah kuat,
ia pun segera turun dari pohon dan segera menuju ke jukungnya yang sedang
ditambatkan di tepi sungai. Palui bermaksud pulang ke rumahnya dan
membiarkan jaringnya di atas pohon itu. Ia mengayuh jukungnya sambil
bersiul-siul membayangkan burung-burung itu terperangkap di dalam
jaringnya.

Setelah dua hari, ia pergi memeriksa jaring perangkapnya. Dengan penuh
harapan, ia mengayuh perahunya dengan cepat ke arah tepi sungai tempat
pohon beringin itu berada. Sesampainya di bawah pohon beringin, ia pun
menambatkan jukungnya pada sebuah batang kayu dan segera melompat ke
darat. Dari bawah pohon beringin itu, ia melihat jaring perangkapnya sedang
bergerak-gerak. Setelah diamati, ternyata banyak sekali burung yang
terperangkap di dalam jaringnya. Tanpa menunggu lama, ia pun langsung naik
ke atas pohon. Sesampainya di atas, ia berdecak kagum melihat beraneka
burung yang bulunya berwarna-warni, berukuran besar mapun kecil
menggelepar-gelepar di dalam jaringnya.

“Waaah, indah sekali warna bulu burung-burung ini,” ucapnya.

Usai mengungkapkan rasa kagumnya, tiba-tiba Palui dihinggapi rasa bingung.

“Mau diapakan burung sebanyak ini?” gumam Palui.

Pada mulanya, Palui berniat untuk membunuh kawanan burung itu. Tapi
karena sayang pada burung-burung tersebut, akhirnya ia mengurungkan
niatnya. Setelah itu, ia kembali berpikir bahwa seandainya burung-burung itu
dibawa pulang, ia akan kesulitan membawanya. Akhirnya, ia memutuskan
untuk memeliharanya. Ia kemudian memotong-motong tali panjang yang
dibawanya dari rumah, lalu mengikat kaki burung-burung tersebut satu per
satu dan mengikatkannya pada pinggangnya. Setelah sekeliling pinggangnya
penuh, ia mengikatkannya pada anggota badannya yang lain.

Sementara mengikat burung yang lain, beberapa burung yang sudah terikat
mulai mengepak-ngepakkan sayapnya hendak terbang. Ketika sedang
mengikat burung yang terakhir, tiba-tiba Palui merasa tubuhnya menjadi
ringan. Makin lama makin ringan. Tubuhnya kian mengambang dan terus
meninggi. Ia baru sadar bahwa dirinya diterbangkan burung ketika tubuhnya
sedang melayang-layang di udara. Kawanan burung tersebut terbang menuju
ke arah kampung tempat tinggal Palui.

Betapa senang dan gembiranya hati Palui. Ia tertawa bangga diterbangkan
oleh kawanan burung tersebut.

“Kalian baik sekali, burung! Aku tidak perlu lagi mengeluarkan tenaga untuk
mengayuh jukungku pulang ke rumah,” kata Palui kepada burung-burung itu.

Semakin lama, Palu bersama kawanan burung itu terbang semakin tinggi.
Palui sangat gembira bisa melihat pemandangan baru. Ia bisa melihat danau
dan sungai yang terbentang dan berliku-liku.

Tidak jauh dari depannya, Palui melihat kampung tempat tinggalnya.

“Hai, itu kampungku!” seru Palui.

Saat berada di atas perkampungan, Palui kembali berteriak, “Itu rumahku!”

Dalam hati, Palui berkata bahwa pasti ayah, ibu, dan adik-adiknya akan
senang melihat dirinya terbang bersama burung-burung itu. Ketika kawanan
burung itu terbang mendekat ke atas rumahnya, Palui melihat adik-adiknya
sedang bermain-main di halaman rumah.

“Adik! Aku Terbang!” teriak Palui menarik perhatian adik-adiknya.

Melihat kakaknya terbang bersama kawanan burung itu, salah seorang
adiknya berteriak, “Kak Palui! Aku ikut terbang!”

“Tidak usah adikku! Kakak sudah mau turun!” teriak Palui.
Palui kemudian menyuruh kawanan burung itu agar menurunkannya di
halaman rumah. Namun kawanan burung itu tetap membawanya terbang
berputar-putar di atas rumah-rumah penduduk. Palui pun mulai panik dan
takut kalau-kalau kawanan burung itu membawanya terbang ke mana-mana.

“Tolong... Tolong...! Tolong aku, Ibu!” teriak Palui ketakutan.

Ibunya yang mendengar terikannya itu segera keluar dari rumah. Alangkah
terkejutnya saat ia melihat Palui diterbangkan burung dan berteriak meminta
tolong.

“Ibu... Tolong aku!” Palui kembali berteriak.

“Palui! Lepaskan ikatan burung itu satu-satu!” teriak Ibunya.

Palui pun menuruti saran ibunya. Ia segera melepaskan ikatan burung itu dari
pinggangnya satu per satu. Setelah melepaskan ikatan beberapa ekor burung,
ia pun mulai terbang merendah. Melihat hal itu, hati Pulai mulai lega.
Kemudian ia melepaskan lagi ikatan beberapa ekor burung yang terikat pada
anggota badannya. Akhirnya, Palui beserta beberapa burung yang masih
tersisa jatuh di halaman rumahnya. Meskipun dirinya selamat, tapi jantung
Palui masih berdetak kencang karena panik. Adik-adiknya pun segera
menghampirinya.

“Hore... Hore... Kak Palui selamat!” teriak adik-adiknya dengan riang
gembira.

Tak berapa lama, ibunya pun datang dan mendekatinya.

“Palui... Palui...! Kamu ini aneh-aneh saja kelakuanmu. Untuk apa burung-
burung itu kamu ikatkan di tubuhmu. Untungnya kamu tidak dibawa pergi
jauh oleh burung-burung itu. Makanya, kalau mau bertindak dipikir dulu
akibatnya!” ujar ibunya.

Palui hanya diam sambil menunduk, karena merasa ia memang bersalah dan
telah bertindak ceroboh.

“Maafkan Palui, Bu! Palui sangat menyesal dan berjanji untuk tidak
mengulanginya lagi,’ kata Palui.

Setelah itu, Palui minta minum karena merasa haus sekali setelah dilanda
kepanikan. Usai minum, Palui meminta izin kepada ibunya untuk memanggang
beberapa ekor burung hasil tangkapannya yang masih tersisa. Kemudian, ia
segera menyembelih dan membersihkan burung-burung itu, sedangkan ketiga
adiknya sibuk menyiapkan perapian. Setelah bersih dan perapian siap, Palui
dibantu adiknya segera memanggang burung-burung itu. Beberapa saat
kemudian, terciumlah aroma sedap yang membangkitkan selera makan.

Burung panggang pun siap untuk disantap. Palui bersama adik-adiknya segera
menggelar lampit. Keluarga Palui duduk melingkar. Mereka sudah tidak sabar
lagi ingin menikmati lezatnya burung panggang. Sang Ibu pun segera
menghidangkan burung pangang itu bersama sambal terong asam dan nasi
hangat. Mereka makan dengan lahap sekali. Meski demikian, tidak serta
merta lauk lezat itu langsung habis. Burung panggang itu masih banyak yang
tersisa, sehingga selama tiga hari Palui bersama keluarganya masih makan
lauk yang sama, yakni burung panggang.

http://www.ziddu.com/download/18823417/palui.doc.html

Dohong dan Tingang Dohong dan Tingang (kalteng)





Alkisah, pada zaman dahulu kala, di daerah Kalimantan Tengah ada sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Kalang. Raja yang memerintah kerajaan tersebut mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Putri Intan. Selain cantik, Putri Intan adalah seorang gadis yang berperangai baik, santun dalam berbicara, sopan dalam bergaul, dan hormat kepada yang tua. Tak heran, jika seluruh rakyat negeri itu sayang dan hormat kepadanya, kecuali seorang dayang istana. Setiap kali Putri Intan mendapat pujian dari rakyatnya, dayang yang satu ini selalu menunjukkan sikap tidak senang dan iri hati kepada sang Putri.

“Awas kau Putri! Suatu saat nanti aku akan menyingkirkanmu dari istana ini!” ucap dayang itu geram.

“Tapi, bagaimana caranya?” gumamnya bingung.

Setelah sekian lama berpikir, dayang itu pun menemukan sebuah cara untuk menyingkirkan Putri Intan dari istana.

“Hmmm... aku tahu caranya. Aku akan menyebarkan fitnah dengan menceritakan kepada semua orang bahwa Putri Intan selalu memperlakukanku secara semena-semana. Aku juga akan melaporkan kepada Raja bahwa ia selalu memeras rakyat,” pikirnya.

Keesokan harinya, dayang itu melaksanakan tipu muslihatnya. Dalam waktu tidak terlalu lama, fitnah tersebut telah menyebar hingga ke seluruh penjuru negeri. Seluruh rakyat pun terhasut oleh cerita yang dibuat-buat oleh dayang tersebut, sehingga mereka berubah sikap terhadap Putri Intan. Setelah berhasil menghasut seluruh rakyat negeri, dayang itu pun mencoba untuk menghasut sang Raja.

“Ampun, Baginda Raja! Perilaku putri Baginda benar-benar sudah keterlaluan. Ia telah membuat aib bagi keluarga istana. Sebagai seorang putri Raja, tidak sepantasnya ia berperilaku demikian. Untuk menjaga martabat kerajaan ini, sebaiknya Putri Intan dikeluarkan dari istana,” hasut dayang itu.

Tipu muslihat dan hasutan dayang itu berhasil memengaruhi Raja, sehingga ia pun menjadi benci kepada putrinya sendiri. Putri Intan pun mulai bingung melihat sikap orang-orang di sekitarnya, termasuk ayahandanya, yang tiba-tiba membencinya. Suatu hari, Putri Intan bertanya kepada ibundanya.

“Bunda! Apa salah Ananda hingga orang-orang membenci Ananda?”

“Putriku, barangkali ada ucapan atau perilaku Nanda yang kurang baik terhadap orang lain yang tidak Nanda sadari. Mulai sekarang, Nanda harus lebih berhati-hati dalam berucap dan bertindak,” ujar permaisuri.

Putri Intan semakin bingung, karena ia merasa bahwa selama ini tidak pernah menghina apalagi menganiaya orang lain. Oleh karena penasaran ingin mengetahui penyebabnya, ia pun bertanya kepada dayang-dayang dan inang pengasuhnya. Namun, tak satu pun di antara mereka yang mengetahuinya.

Sementara itu, si dayang yang iri hati tersebut terus menghasut sang Raja, sehingga kebencian sang Raja semakin menjadi-jadi. Berkali-kali sang Putri menghadap untuk menanyakan kesalahannya, namun sang Raja tidak menghiraukannya. Ia lebih percaya pada ucapan dayangnya tersebut. Akhirnya, suatu ketika sang Raja pun mengusir putrinya dari istana.

“Dasar, anak tidak tahu diri! Kamu tidak pantas menjadi putri kerajaan ini. Pergi dari istana ini!” usir sang Raja.

Dengan perasaan sedih dan deraian air mata, Putri Intan pergi meninggalkan istana. Ia berjalan terhuyung-huyung sambil berdoa kepada Tuhan.

“Ya Tuhan Yang Maha Adil tunjukkanlah keadilan-Mu kepada hamba! Siapakah yang menyebarkan fitnah ini?” ucap Putri Intan.

Sejak itu, Putri Intan menjadi rakyat biasa. Ia tinggal di pinggir hutan seorang diri karena semua warga telah membencinya. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia mencari buah-buahan dan berburu binatang di hutan sekitarnya. Ia menjalani hidupnya dengan pasrah dan tidak dendam kepada orang yang telah memfitnahnya. Namun, ia yakin bahwa cepat atau lambat keadilan pasti akan datang.

Suatu hari, Putri Intan sedang berburu binatang di hutan itu. Sudah setengah hari ia berburu namun belum juga mendapatkan binatang buruan. Ia pun memutuskan untuk berburu hingga ke tengah-tengah hutan. Setelah beberapa jauh berjalan, sampailah ia di tengah hutan yang sangat lebat. Di sekelilingnya terdapat banyak pohon besar yang daunnya sangat rindang. Suasana tempat itu agak gelap karena sinar matahari terlindung oleh lebatnya dedaunan. Saat mengamati keadaan di sekitarnya, tiba-tiba Putri Intan dikejutkan oleh suara tawa yang sangat menyeramkan.

“Hi... hi... hi... hi....!!!”

Mendengar suara itu, jantung Putri Intan tiba-tiba berdebar kencang. Ia pun mundur beberapa langkah sambil mengelus-elus dadanya karena ketakutan. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba seorang nenek berdiri tidak jauh di depannya sedang memegang sebuah tongkat. Wajah nenek itu sangat mengerikan dan rambutnya panjang acak-acakan. Rupanya nenek itu baru saja menyelesaikan pertapaannya.

“Hai, gadis cantik! Kamu siapa dan kenapa berada di tengah hutan ini?” tanya nenek sihir itu.

“Aku Putri Intan. Aku diusir oleh ayahandaku dari istana,” jawab Putri Intan.

“Wah... kebetulan sekali aku bertemu dengan gadis yang terbuang. Aku ingin mencoba ilmu yang baru kuperoleh dari pertapaanku. Aku akan menyihirmu menjadi seeokor binatang,” kata nenek itu.

“Ampun, Nek! Jangan sihir aku!” pinta Putri Intan mengiba.

Berkali-kali Putri Intan mengiba, namun nenek sihir itu tidak menghiraukannya. Nenek itu kemudian membaca mantra sambil mengacung-acungkan tongkatnya. Tak pelak lagi, Putri Intan pun terkena sihir nenek itu dan serta merta berubah menjadi seekor burung tingang.

“Sihir di tubuhmu akan hilang jika kamu bertemu dengan pemuda yang akan membawamu kembali ke istana,” kata nenek itu.

Usai menyihir Putri Intan, nenek itu tiba-tiba menghilang entah ke mana, dan burung tingang jelmaan Putri Intan terbang ke sana kemari sambil berkicau merdu. Sejak itu, burung tingang hidup di tengah hutan tersebut. Ia terbang dari satu pohon ke pohon lainnya mencari makanan.

Pada suatu hari, burung tingang itu hinggap di sebuah pohon yang berbuah lebat. Betapa terkejutnya ia ketika akan meninggalkan pohon itu, kakinya terikat oleh perangkap sehingga tidak dapat bergerak. Berkali-kali ia meronta-ronta sambil mengepak-ngepakkan sayapnya hendak melepaskan diri, namun usahanya tetap gagal. Akhirnya, ia pun pasrah sambil berharap ada orang yang akan menolongnya.

Tak berapa lama kemudian, burung tingang mendengar langkah seseorang yang mendekat. Ia pun cepat-cepat berkicau merdu sambil meronta-ronta untuk menarik perhatian orang yang lewat itu. Beberapa saat kemudian, muncullah seorang pemuda tampan bernama Dohong. Ia bermaksud memeriksa perangkap yang dipasangnya kemarin. Rupanya, perangkap yang menjerat kaki burung tingang itu adalah miliknya.

Pemuda itu sangat gembira saat melihat seekor burung tingang meronta-ronta terkena perangkapnya. Tanpa berpikir panjang, ia pun segera naik ke atas pohon untuk mengambil burung tangkapannya. Setelah memasang kembali perangkapnya, pemuda itu mengamati burung itu secara seksama.

“Wah, cantik sekali burung ini! Bulunya indah dan halus, matanya bening berbinar, kicauannya pun sangat merdu. Selama hidupku, baru kali ini aku memperoleh burung secantik ini,” ucap Dohong dengan kagum.

Dengan perasaan senang, Dohong segera membawa pulang burung itu untuk dipelihara. Setibanya di pondok, ia pun memasukkannya ke dalam sebuah sangkar yang terbuat dari rotan. Setiap hari ia merawat burung tingang itu dengan sangat teliti.

Keesokan harinya, Dohong kembali ke tengah hutan untuk memeriksa perangkapnya. Namun, sial nasib Dohong hari itu, karena tak seekor pun burung yang diperolehnya. Ketika hari menjelang siang, ia pun memutuskan untuk kembali ke pondoknya, karena tidak kuat lagi menahan rasa lapar.

Betapa terkejutnya ketika Dohong sampai di pondoknya. Ia melihat makanan lezat telah tersaji dan siap untuk disantap. Makanan tersebut benar-benar membangkitkan seleranya, apalagi perutnya dalam keadaan lapar, sehingga Dohong tidak memikirkan lagi siapa orang yang telah menyiapkan makanan tersebut. Ia pun segera menyantap makanan tersebut dengan lahapnya.

Keesokan harinya, sepulang dari hutan, Dohong kembali mendapati makanan lezat telah tersaji di pondoknya. Kejadian aneh tersebut terulang hingga tiga hari berturut-turut. Dohong pun mulai penasaran ingin mengetahui siapa sebenarnya yang melakukan semua itu.

Pada hari berikutnya, pemuda tampan itu berpura-pura hendak memeriksa perangkapnya. Sebelum hari menjelang siang, ia masuk ke pondoknya dengan langkah hati-hati. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat asap tebal keluar dari sangkar burungnya. Dalam sekejap, tiba-tiba seorang gadis cantik keluar dari asap itu. Ia sangat terpana melihat kencantikan gadis itu, dan kemudian menghampirinya.

“Hai, gadis cantik! Kamu siapa dan dari mana asalmu?” tanya Dohong.

“Ampun, Tuan! Aku adalah Putri Intan dari Kerajaan Kalang. Keberadaanku di sini karena nasib buruk telah menimpaku. Ayahandaku mengusirku dari istana. Setelah itu, seorang nenek menyihirku menjadi burung tingang saat aku berada di tengah hutan,” jelas Putri Intan.

“Maaf, Tuan Putri! Mengapa Tuan Putri diusir dari istana?” tanya Dohong ingin tahu.

Putri Intan pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya sampai ia berada di pondok pemuda itu. Setelah itu, ia meminta kepada Dohong agar mengantarnya kembali ke istana. Jika Dohong memenuhi permintaannya, maka sihir nenek itu akan hilang dengan sendirinya.

“Baiklah, Tuan Putri! Saya bersedia mengantar Tuan Putri ke istana,” kata Dohong.

Keesokan harinya, keduanya pun berangkat ke istana. Selama dalam perjalanan, Putri Intan pun tidak pernah lagi berubah wujud menjadi burung tingang. Pengaruh sihir nenek itu benar-benar telah hilang.

Sesampainya di istana, Dohong pun menceritakan semua yang dialami Putri Intan kepada Raja Kalang dan permaisuri. Akhirnya, Raja Kalang pun mengerti bahwa putrinya difitnah oleh seorang dayang istana. Seketika itu pula, ia mengumpulkan seluruh dayang-dayangnya. Setelah menanyai mereka satu persatu, akhirnya ia menemukan dayang yang telah memfitnah putrinya. Raja Kalang sangat menyesal karena lebih percaya pada kata-kata dayang itu daripada kata-kata putrinya.

“Maafkan Ayah, Putriku! Ayah telah membuatmu menderita, karena mengusirmu dari istana,” ucap Raja Kalang.

Setelah itu, Raja Kalang pun menghukum dayang itu dengan memasukkannya ke dalam penjara. Kemudian ia menikahkan Dohong dengan putrinya dan menobatkannya menjadi pewaris tahta Kerajaan Kalang. Dohong dan Putri Intan pun hidup berbahagia.
http://www.ziddu.com/download/18823383/dongongdantingang.doc.html

Asal Mula Danau Malawen (Kalteng)


Danau Malawen adalah sebuah danau yang terletak di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, Indonesia. Menurut cerita yang beredar di kalangan masyarakat setempat, danau yang di tepiannya terdapat beragam jenis anggrek ini dahulu merupakan sebuah aliran sungai yang di dalamnya hidup berbagai jenis ikan. Namun karena terjadi peristiwa yang mengerikan, sungai itu berubah menjadi danau. Peristiwa apakah yang menyebabkan sungai itu berubah menjadi danau? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Asal Mula Danau Malawen berikut ini.

Alkisah, di tepi sebuah hutan di daerah Kalimantan Tengah, Indonesia, hidup sepasang suami-istri miskin. Meskipun hidup serba pas-pasan, mereka senantiasa saling menyayangi dan mencintai. Sudah sepuluh tahun mereka berumah tangga, namun belum juga dikaruniai seorang anak. Sepasang suami-istri tersebut sangat merindukan kehadiran seorang buah hati belaian jiwa untuk melengkapi keluarga mereka. Untuk itu, hampir setiap malam mereka berdoa memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar impian tersebut dapat menjadi kenyataan.

Pada suatu malam, usai memanjatkan doa, sepasang suami istri pergi beristirahat. Malam itu, sang Istri bermimpi didatangi oleh seorang lelaki tua.

“Jika kalian menginginkan seorang keturunan, kalian harus rela pergi ke hutan untuk bertapa,” ujar lelaki tua dalam mimpinya itu.
Baru saja sang Istri akan menanyakan sesuatu, lelaki tua itu keburu hilang dari dalam mimpinya. Keesokan harinya, sang Istri pun menceritakan perihal mimpinya tersebut kepada suaminya.
“Bang! Benarkah yang dikatakan kakek itu?” tanya sang Istri.
“Entahlah, Dik! Tapi, barangkali ini merupakan petunjuk untuk kita mendapatkan keturunan,” jawab sang Suami.
‘Lalu, apa yang harus kita lakukan, Bang! Apakah kita harus melaksanakan petunjuk kakek itu?” sang Istri kembali bertanya.
“Iya, Istriku! Kita harus mencoba segala macam usaha. Siapa tahu apa yang dikatakan kakek itu benar,” jawab suaminya.

Keesokan harinya, usai menyiapkan bekal seadanya, sepasang suami-istri itu pun pergi ke sebuah hutan yang letaknya cukup jauh. Setelah setengah hari berjalan, sampailah mereka di sebuah hutan yang sangat lebat dan sunyi. Mereka pun membangun sebuah gubuk kecil untuk tempat bertapa.
Ketika hari mulai gelap, sepasang suami-istri itu pun memulai pertapaan mereka. Keduanya duduk bersila sambil memejamkan mata dan memusatkan konsentrasi kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Sudah berminggu-minggu mereka bertapa, namun belum juga memperoleh tanda-tanda maupun petunjuk. Meskipun harus menahan rasa lapar, haus dan kantuk, mereka tetap melanjutkan pertapaan hingga berbulan-bulan lamanya. Sampai pada hari kesembilan puluh sembilan pun mereka belum mendapatkan petunjuk. Rupanya, Tuhan Yang Mahakuasa sedang menguji kesabaran mereka.

Pada hari keseratus, kedua suami-istri itu benar-benar sudah tidak tahan lagi menahan rasa lapar, haus dan kantuk. Maka pada saat itulah, seorang lelaki tua menghampiri dan berdiri di belakang mereka.

“Hentikanlah pertapaan kalian! Kalian telah lulus ujian. Tunggulah saatnya, kalian akan mendapatkan apa yang kalian inginkan!” ujar kakek itu.

Mendengar seruan itu, sepasang suami-istri itu pun segera menghentikan pertapaan mereka. Alangkah terkejutnya mereka saat membuka mata dan menoleh ke belakang. Mereka sudah tidak melihat lagi kakek yang berseru itu. Akhirnya mereka pun memutuskan pulang ke rumah dengan berharap usaha mereka akan membuahkan hasil sesuai dengan yang diinginkan.
Sesampainya di rumah, suami-istri itu kembali melakukan pekerjaan sehari-hari mereka sambil menanti karunia dari Tuhan. Setelah melalui hari-hari penantian, akhirnya mereka pun mendapatkan sebuah tanda-tanda akan kehadiran si buah hati dalam keluarga mereka. Suatu sore, sang Istri merasa seluruh badannya tidak enak.

“Bang! Kenapa pinggangku terasa pegal-pegal dan perutku mual-mual?” tanya sang Istri mengeluh.
“Wah, itu pertanda baik, Istriku! Itu adalah tanda-tanda Adik hamil,” jawab sang Suami dengan wajah berseri-seri.
“Benarkah itu, Bang?” tanya sang Istri yang tidak mengerti hal itu, karena baru kali ini ia mengalami masa kehamilan.
“Benar, Istriku!” jawab sang Suami.

Sejak saat itu, sang Istri selalu ingin makan buah-buahan yang kecut dan makanan yang pedas-pedas. Melihat keadaan istrinya itu, maka semakin yakinlah sang Suami bahwa istrinya benar-benar sedang hamil.

“Oh, Tuhan terima kasih!” ucap sang Suami.
Usai mengucapkan syukur, sang Suami mendekati istrinya dan mengusap-usap perut sang Istri.
“Istriku! Tidak lama lagi kita akan memiliki anak. Jagalah baik-baik bayi yang ada di dalam perutmu ini!” ujar sang Suami.

Waktu terus berjalan. Usia kandungan sang Istri genap sembilan bulan, pada suatu malam sang Istri pun melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Kumbang Banaung. Alangkah senang dan bahagianya sepasang suami-istri itu, karena anak yang selama ini mereka idam-idamkan telah mereka dapatkan. Mereka pun merawat dan membesarkan Kumbang Banaung dengan penuh kasih sayang.

Ketika Kumbang Banaung berusia remaja dan sudah mengenal baik dan buruk, mereka memberinya petuah atau nasehat agar ia menjadi anak yang berbakti kepada orangtua dan selalu berlaku santun serta bertutur sopan ke mana pun pergi.

Wahai anak dengarlah petuah,

kini dirimu lah besar panjang
umpama burung lah dapat terbang
umpama kayu sudah berbatang
umpama ulat lah mengenal daun
umpama serai sudah berumpun

banyak amat belum kau dapat
banyak penganyar belum kau dengar
banyak petunjuk belum kau sauk
banyak kaji belum terisi

maka sebelum engkau melangkah
terimalah petuah dengan amanah
supaya tidak tersalah langkah
supaya tidak terlanjur lidah

pakai olehmu adat merantau
di mana bumi dipijak,
di sana langit dijunjung
di mana air disauk
di sana ranting dipatah
di mana badan berlabuh,
di sana adat dipatuh

apalah adat orang menumpang:

berkata jangan sebarang-barang
berbuat jangan main belakang
adat istiadat lembaga dituang
dalam bergaul tenggang menenggang

Selain itu, sang Ayah juga mengajari Kumbang Banaung cara berburu. Setiap hari ia mengajaknya ke hutan untuk berburu binatang dengan menggunakan sumpit.

Seiring berjalannya waktu, Kumbang Banaung pun tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan rupawan. Namun, harapan kedua orangtuanya agar ia menjadi anak yang berbakti tidak terwujud. Perilaku Kumbang Banaung semakin hari semakin buruk. Semua petuah dan nasehat sang Ayah tidak pernah ia hiraukan.

Pada suatu hari, sang Ayah sedang sakit keras. Kumbang Banaung memaksa ayahnya untuk menemaninya pergi berburu ke hutan.

“Maafkan Ayah, Anakku! Ayah tidak bisa menemanimu. Bukankah kamu tahu sendiri kalau Ayah sekarang sedang sakit,” kata sang Ayah dengan suara pelan.
“Benar, Anakku! Kalau pergi berburu, berangkatlah sendiri. Biar Ibu menyiapkan segala keperluanmu,” sahut sang Ibu.
“O iya, Anakku! Ini ada senjata pusaka untukmu. Namanya piring malawan. Piring pusaka ini dapat digunakan untuk keperluan apa saja,” kata sang Ayah sambil memberikan sebuah piring kecil kepada Kumbang Banaung.

Kumbang Banaung pun mengambil piring pusaka itu dan menyelipkan di pinggangnya. Setelah menyiapkan segala keperluannya, berangkatlah ia ke hutan seorang diri. Sesampainya di hutan, ia pun memulai perburuannya. Namun, hingga hari menjelang siang, ia belum juga mendapatkan seekor pun binatang buruan. Ia tidak ingin pulang ke rumah tanpa membawa hasil. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk melanjutkan perburuannya dengan menyusuri hutan tersebut. Tanpa disadarinya, ia telah berjalan jauh masuk ke dalam hutan dan tersesat di dalamnya.

Ketika mencari jalan keluar dari hutan, ternyata Kumbang Banaung sampai di sebuah desa bernama Sanggu. Desa itu tampak sangat ramai dan menarik perhatian Kumbang Banaung. Rupanya, di desa tersebut sedang diadakan upacara adat yang diselenggarakan oleh Kepala Desa untuk mengantarkan masa pingitan anak gadisnya yang bernama Intan menuju masa dewasa. Upacara adat itu diramaikan oleh pagelaran tari. Saat ia sedang asyik menyaksikan para gadis menari, tiba-tiba matanya tertuju kepada wajah seorang gadis yang duduk di atas kursi di atas panggung. Gadis itu tidak lain adalah Intan, putri Kepala Desa Sanggu. Mata Kumbang Banaung tidak berkedip sedikit pun melihat kecantikan wajah si Intan.

“Wow, cantik sekali gadis itu,” kata Kumbang Banaung dalam hati penuh takjub.
Tidak terasa, hari sudah hampir sore, Kumbang Banaung pulang. Ia berusaha mengingat-ingat jalan yang telah dilaluinya menuju ke rumahnya. Setelah berjalan menyusuri jalan di hutan itu, sampailah ia di rumah.
“Kamu dari mana, Anakku? Kenapa baru pulang?” tanya Ibunya yang cemas menunggu kedatangannya.

Kumbang Banaung pun bercerita bahwa ia sedang tersesat di tengah hutan. Namun, ia tidak menceritakan kepada orangtuanya perihal kedatangannya ke Desa Sanggu dan bertemu dengan gadis-gadis cantik. Pada malam harinya, Kumbang Banaung tidak bisa memejamkan matanya, karena teringat terus pada wajah Intan.

Keesokan harinya, Kumbang Banaung berpamitan kepada kedua orangtuanya ingin berburu ke hutan. Namun, secara diam-diam, ia kembali lagi ke Desa Sanggu ingin menemui si Intan. Setelah berkenalan dan mengetahui bahwa Intan adalah gadis cantik yang ramah dan sopan, maka ia pun jatuh hati kepadanya. Begitu pula si Intan, ia pun tertarik dan suka kepada Kumbang Banaung. Namun, keduanya masih menyimpan perasaan itu di dalam hati masing-masing.

Sejak saat itu, Kumbang Banaung sering pergi ke Desa Sanggu untuk menemui Intan. Namun tanpa disadari, gerak-geriknya diawasi dan menjadi pembicaraan penduduk setempat. Menurut mereka, perilaku Kumbang Banaung dan Intan telah melanggar adat di desa itu. Sebagai anak Kepala Desa, Intan seharusnya memberi contoh yang baik kepada gadis-gadis sebayanya. Oleh karena tidak ingin putrinya menjadi bahan pembicaraan masyarakat, ayah Intan pun menjodohkan Intan dengan seorang juragan rotan di desa itu.

Pada suatu hari, Kumbang Banaung mengungkapkan perasaannya kepada Intan.

“Intan, maukah Engkau menjadi kekasih, Abang?” tanya Kumbang Banaung.
Mendengar pertanyaan itu, Intan terdiam. Hatinya sedang diselimuti oleh perasaan bimbang. Di satu sisi, ia suka kepada Kumbang Banaung, tapi di sisi lain ia telah dijodohkan oleh ayahnya dengan juragan rotan. Ia sebenarnya tidak menerima perjodohan itu, karena juragan rotan itu telah memiliki tiga orang anak. Namun, karena watak ayahnya sangat keras, maka ia pun terpaksa menerimanya.
“Ma… maafkan Aku, Bang!” jawab Intan gugup.
“Ada apa Intan? Katakanlah!” desak Kumbang Banaung.

Setelah beberapa kali didesak oleh Kumbang Banaung, akhirnya Intan pun menceritakan keadaan yang sebenarnya. Intan juga mengakui bahwa ia juga suka kepadanya, namun takut dimarahi oleh ayahnya. Mengetahui keadaan Intan tersebut, Kumbang Banaung pun segera pulang ke rumahnya untuk menyampaikan niatnya kepada kedua orangtuanya agar segera melamar Intan.

“Kita ini orang miskin, Anakku! Tidak pantas melamar anak orang kaya,” ujar sang Ayah.
“Benar kata ayahmu, Nak! Lagi pula, tidak mungkin orangtua Intan akan menerima lamaran kita,” sahut ibunya.
“Tidak, Ibu! Aku dan Intan saling mencintai. Dia harus menjadi istriku,” tukas Kumbang Banaung.
“Jangan, Anakku! Urungkanlah niatmu itu! Nanti kamu dapat malapetaka. Mulai sekarang kamu tidak boleh menemui Intan lagi!” perintah ayahnya.

Kumbang Banaung tetap tidak menghiraukan nasehat kedua orangtuanya. Ia tetap bersikeras ingin menikahi Intan bagaimana pun caranya. Pada suatu malam, suasana terang bulan, diam-diam ia pergi ke Desa Sanggu untuk menemui Intan. Ia berniat mengajaknya kawin lari.

“Intan, bagaimana kalau kita kawin lari saja,” bujuk Kumbang Banaung.
“Iya Bang, aku setuju! Aku tidak mau menikah dengan orang yang sudah mempunyai anak,” kata Intan.

Setelah melihat keadaan di sekelilingnya aman, keduanya berjalan mengendap-endap ingin meninggalkan desa itu. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba beberapa orang warga yang sedang meronda melihat mereka.

“Hei, lihatlah! Bukankah itu Kumbang dan Intan,” kata salah seorang warga.
“Iya, Benar! Sepertinya si Kumbang akan membawa lari si Intan,” imbuh seorang warga lainnya.
Menyadari niatnya diketahui oleh warga, Kumbang dan Intan pun segera berlari ke arah sungai.
“Ayo, kita kejar mereka!” seru seorang warga.
Kumbang Banaung dan Intan pun semakin mempercepat langkahnya untuk menyelamatkan diri. Namun, ketika sampai di sungai, mereka tidak dapat menyeberang.
“Bang, apa yang harus kita lakukan! Orang-orang desa pasti akan menghukum kita,” kata Intan dengan nafas terengah-engah.

Dalam keadaan panik, Kumbang Banaung tiba-tiba teringat pada piring malawen pemberian ayahnya. Ia pun segera mengambil piring pusaka itu dan melemparkannya ke tepi sungai. Secara ajaib, piring itu tiba-tiba berubah menjadi besar. Mereka pun menaiki piring itu untuk menyebrangi sungai. Mereka tertawa gembira karena merasa selamat dari kejaran warga. Namun, ketika sampai di tengah sungai, cuaca yang semula terang, tiba-tiba menjadi gelap gulita. Beberapa saat berselang, hujan deras pun turun disertai hujan deras dan angin kecang. Suara guntur bergemuruh dan kilat menyambar-nyambar. Gelombang air sungai pun menghatam piring malawen yang mereka tumpangi hingga terbalik. Beberapa saat kemudian, sungai itu pun menjelma menjadi danau. Oleh masyarakat setempat, danau itu diberi nama Danau Malawen. Sementara Kumbang dan Intan menjelma menjadi dua ekor buaya putih. Konon, sepasang buaya putih tersebut menjadi penghuni abadi Danau Malawen.

Demikian cerita Asal Mula Danau Malawen dari daerah Kalimantan Tengah, Indonesia. Cerita di atas tergolong legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah akibat buruk dari sifat keras kepala dan tidak mau mendengar nasehat orangtua. Sifat ini tercermin pada perilaku Kumbang Banaung dan Intan yang tidak mau mendengar dan menuruti nasehat kedua orangtua mereka. Akibatnya, Tuhan pun murka dan menghukum mereka menjadi dua ekor buaya putih. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat keras kepala dan tidak mau mendengar nasehat merupakan sifat tercela.

Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:

kalau sifat keras kepala
di situlah tempat beroleh bala
kalau bapa ibu engkau sanggah
Tuhan murka, orang pun menyunggah

http://www.ziddu.com/download/18823301/AsalMulaDanauMalawen.doc.html


Jumat, 09 Maret 2012

Kapal Pesiar Cina Mulai Arungi Samodra

kapal pesiar cina

Kapal yang dijuluki "Satu-satunya kapal pesiar bintang enam" milik cina ini terlhat sangat kokoh dan anggun, menurut berita yang disebar oleh koran milik pemerintah cina mengabarkan bahwa, Kapal dengan panjang 131 meter, berat 295 ton ini akan membawa 200 penumpang dan 200 awak kapal dalam perjalanan dua hari satu malam ke Laut China Selatan. yang akan dimulai dari pelabuhan Hong Kong, Victoria pada 8 Maret 2012. Begitu info yang didapat admin situs tips wisata murah dari media cina

Konon Kapal ini awalnya di buat di Finlandia selama 20 tahun dan di danai oleh konglomerat taipan kasino Makau, Stanley Ho, sebesar USD45 juta dan mengeluarkan USD20 juta lagi untuk memolesnya. nilai yang fantastis ya dari juragan kasino ini
Dalam siarannya CNNGo yang mengutip ucapan Huang pada Kamis (8/3/2012) menyebutkan.
"Kami telah menambahkan balkon di kabin, dan memperluasnya hingga 24 meter persegi," Sidalam kapal pesiar mewah tersebut juga tersedia fasilitas lengkap dengan platform budaya China

didalam kapal tersebut sudah dilengkapi restoran yang menyajikan teh hijau dan kue ikan tradisional Wenzhou. Sedang untuk Fasilitas hiburan sudah tersedia teater, ruang karaoke, game center, sebuah ruang anggur dan bar cerutu, bar terbuka, perpustakaan, dua spa Cina, dan toko suvenir bebas pajak... wah wah kita akan dimanja kalau plesir naik kapal pesiar ini


Foto oleh: CNNGo

sedekah Jadi Wisata Hati Yang Menguntungkan

sedekah wisata hatiMungkin anda tidak percaya, kalau sedekah itu sebenarnya ber-investasi yang pasti menguntungkan dunia akhirat,sekaligus sedekah juga jadi wisata hati yang menguntungkan. Ini fakta, karena Admin situs tips wisata murah ini tidak sedang membual seperti kata kata gombal yang sedang marak dibicarakan di internet

Fakta kisahnya begini. Pada bulan januari lalu, Admin TWM ini di ikut sertakan jadi panitia pembebasan tanah wakaf untuk pesantren nurul falah. Mendekati akhir tanggal pelunasan seperti yang kita janjikan pada pemilik tanah, dana yang terkumpul dari donator (jamaah) tidak mencukupi. Menghadapi cobaan ini semua panitia hampir putus asa. Kemudian Pengasuh pondok (Ustd Abdul Fattah Utsman ) memutuskan untuk menjual sepeda motor pribadi yang biasa digunakan mondar mandir untuk transportasi dakwah. Jam 4 sore motor itu laku terjual, kemudian uang langsng disetorkan pada pemilik tanah

Sehabis sholat magrib. Ada salah satu jamaah yang datang kepondok dengan keperluan yang lucu, karena meminjam KTP ustd tersebut. Ketika di tanya untuk apa KTPnya, dijawab "saya punya nadar pak" . Singkat cerita KTP tersebut di berikan pada orang itu..

Subhanalloh, tahukah anda apa yang terjadi keesok harinya..? Jam 5 sore itu Ustd Abdul Fattah Ustman datang ke rumah saya. dengan mengendarai sepeda motor baru. Silaturahmi ini sengaja dilakukan, pertama untuk memberi tahukan bahwa jam 4 sore tadi orang yang minjam KTP semalam mengembalikan KTP sekaligus meyerahkan kunci motor baru plus BPKB pada pondok, dan kabar itu di utarakan hanya untuk mencegah fitnah semata, karena takut di bilang habis ngumpulin uang jamaah kok beli motor baru.

Dan tahukah anda, diluar logika seluruh panitia pembebasan tanah wakaf diatas. Bulan berikutnya disebelah timur tanah wakaf pondok yang barusan dilunasi itu juga dijual pada pondok, luasnya 1000 meter, dan harganya lebih mahal dari tanah yang pertama kita beli untuk tanah wakaf pondok, Tapi aneh bin ajaib, uang itu datangnya dari mana, tidak kurang dari satu bulan tanah itu lunas kembali. Dan Subhanalloh ditengah tanah 2000 meter itu sekarang sudah berdiri bangunan masjid yang menurut ukuran kami sangat megah untuk keperluan belajar anak anak ngaji. Semua tidak masuk akal. karena diawali dengan sedekah iklas. Dalam kurun waktu 3 bulan, kami diberi kemudahan mengumpulkan dana hampir 500 juta.

Pahala itu ternyata tidak hanya untuk akhirat ya, ternyata di dunia juga ada pahala langsung sebab dari sedekah, contohnya seperti kasus yang saya ceritakan diatas. Menjual motor karena Lillahita ala pada jam 4 sore, dan jam 4 sore pagi harinya di ganti dengan motor yang lebih bagus dan baru

Perhatikan tentang Janji Alloh SWT seperti yang di Firmankan di bawah berikut
"Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya." (QS. 34:39)
Dan perhatikan Sabda Rosululloh SAW berikut
Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah saw bersabda, Allah swt berfirman, "Wahai Anak Adam, berinfaklah maka Aku akan berinfak kepadamu." (HR Muslim)

Dalam riwayat Hadist yang lain juga di kabarkan sebagai berikut

Ibnu Katsir berkata, "Ya itu apapun yang kau infakkan di dalam hal yang diperintahkan kepadamu atau yang diperbolehkan, maka Dia (Allah) akan memberikan ganti kepadamu di dunia dan memberikan pahala dan balasan di akhirat kelak."
Perhatikan kata "Memberi ganti kepadamu di dunia dan akhirat di atas" itu seperti yang saya maksut dari kisah di atas. Dan satu Hal yang perlu kita ketahu. Ada sabda Rosul yang artinya kurang lebih begini "Jadikan sedekah bala tentaramu"
Semoga bermanfaat. Salam wisata keluarga Indonesia

Kamis, 08 Maret 2012

Menguak Sejarah Gerbang Majapahit

pintu gerbang majapahitArtikel sejarah situs gerbang majapahit yang ada di pati jawa tengah ini. terancam dihapus dalam halaman wikipedia , Karena memang terlihat masih belum sempurna dari penulisan riwayat, atau runtutan cerita sejarah yang pernah terjadi, Ketepatan Admin situs tips wisata murah beberapa waktu lalu pernah mendapat cerita dari salah seorang kawan waktu bertamu di daerah Puri yang berdekatan taman makam pahlawan pati jawa tengah, mengisahkan sejarah pintu gerbang majapahit sebagai berikut

Pada tahun 1479 Kerajaan Majapahit ambruk bertepatan berdiri Kerajaan Demak (masjid demak) yang dipimpin Raden Patah. Dalam masa awal pemerintahan kerajaan demak tersebut ada kisah rakyat yang menyebutkan bahwa. Suatu hari ada pemuda bernama Raden Bambang Kebo Nyabrang yang mencari ayahandanya yang diduga adalah sunan muria. Dalam kisah tersebut di padepoan sunan muria yang berada di gunug muria itu. R Bambang ketemu dengan Sunan muria. Singkat cerita R. bambang mengutarakan maksut tujuan dari kunjungannya ke gunung muira tersebut, namun Sunan muria tidak percaya begitu saja. Kemudian kalau memang R bambang itu memang benar keturunannya. Sunan muria memberi perintah, "kalau memang kamu anakku,kamu harus bisa memboyong gerbang pintu majapahit kemari" . Begitu pinta kanjeng sunan Muria dan sarat itu diterima R Bambang.

Kisah selanjutnya R.Bambang pergi ke desa trowulan bekas Kerajaan Majapahit. Dan diangkatlah pintu gerbang tersebut, untuk di bawa ke gunung muria. Tapi nahas baru sampai kota pati, gerbang tersebut di hentikan oleh Raden Ronggo yang tak lain adalah murid dari sunan ngerang yang berkeinginan memboyong gerbang tersebut kepadepokan sunan ngerang. Bentrok kepentingan ini terjadi karena Raden Ronggo harus bisa mendapatkan gerbang majapahit itu untuk memenuhi sarat lamaran yang diajukan oleh Roro Pujiwat putri dari sunan ngerang yang akan dipersunting.DIkisahkan konon putri pujiwat mau dipersunting asalkan Raden Ronggo bisa memboyong gerbang majapahit ke rumahnya ( sunan Ngerang). Kisak selanjutnya tidak diketahui tapi sampai sekarang pintu gerbang majapahit berbahan kayu itu masih berdiri kokoh di barat koto pati jawa tengah.

Tanda-tanda pasangan bosan dengan anda

dalam menjalin hubungan pastilah ada yang namanya rasa bosan denga pasanganya. akan tetapi terkadang kebisanan itu di tutupi supaya menjaga perasaan sang kekasih. namun pastilah itu ibarat bom waktu yang dapat meledak sewaktu waktu. begitu juga dengan perasaan bosan kepada pasanganya, di tahan sedemikian rupa pasti nantinya akan ketahuan juga. nah, selain itu ada tanda tanda pasangan bosan dengan anda, yang saya dapatkan dari situs yahoo.com.
berikut adalah tanda tanda pasangan bosang dengan anda :
Agar kebosanan pasangan bisa segera diatasi, Anda harus menyadari tanda-tanda kejenuhannya. Seperti dilansir dari eHow, ini dia tanda-tanda pria bosan dengan kekasihnya.
Menjadi Lebih Sibuk
Ini mungkin upaya dia untuk tidak menemui Anda. Jangan langsung menegurnya, cari tahu apakah pasangan benar-benar banyak pekerjaan atau sedang menghindar dari Anda.
Jarang Kontak Fisik
Jika perlakuan sayangnya, seperti memeluk, telah berkurang pada Anda dan dia menjauhkan diri dari kekasihnya, tampaknya dia sedang sangat jenuh dengan Anda.
Jarang Memberi Kabar
Ketika dia merasa memberi kabar bukan lagi hal yang penting untuk Anda ketahui, bisa jadi itu tanda kebosanannya terhadap hubungan.
Anda yang Meneleponnya Duluan
Jika Anda mulai merasa Anda yang selalu mencarinya dan saat ditelepon si dia berusaha mengakhiri percakapan, maka bisa menjadi indikasi yang jelas bahwa dia sedang jenuh.
Lebih Sering Bersama Temannya
Jika dia menjadi lebih sering pergi bersama teman-temannya kemungkinan dia bosan dengan Anda. Si dia mungkin membutuhkan suasana baru dan itu didapatnya dengan saling bercerita dan berkumpul bersama teman-teman.
Dia Tidak Mengajak Anda Pergi
Jika hal ini terjadi, bisa jadi karena tempat kencan yang didatangi sudah tidak menarik lagi baginya. Cobalah ajak si dia untuk menonton pertandingan olahraga favoritnya. Ini bisa membuat dia terkejut dengan ajakan Anda.
Membuat Janji yang Tidak Ditepati
Ketika dia berjanji akan menelepon Anda jam 7 malam, dia baru menelepon jam 9 atau malah keesokan harinya. Begitu pun ketika si dia menjanjikan untuk bertemu, si dia tiba-tiba membatalkannya.
Apakah pasangan Anda seperti ini?

Rabu, 07 Maret 2012

Wanita Berpayudara Terbesar Di Asia (PICS)

Berita Aneh - Jika sebelumnya kita telah membaca tentang 5 Wanita Berpayudara Tervesar Di Dunia, kali ini kita akan menyaksikan foto - foto wanita berpayudara terbesar di Asia.. Check this out
giant 01 Beban Hidup yang Berat
giant 02 Beban Hidup yang Berat
giant 03 Beban Hidup yang Berat
giant 05 Beban Hidup yang Berat
giant 06 Beban Hidup yang Berat
giant 07 Beban Hidup yang Berat
giant 08 Beban Hidup yang Berat
giant 09 Beban Hidup yang Berat
giant 10 Beban Hidup yang Berat
giant 11 Beban Hidup yang Berat
giant 12 Beban Hidup yang Berat
giant 13 Beban Hidup yang Berat
giant 14 Beban Hidup yang Berat
giant 15 Beban Hidup yang Berat

5 Musisi Top Dunia Meniggal Di Usia 27

Berita Aneh - Kematian Amy Winehouse mengingatkan kita pada musisi-musisi muda yang tewas di masa keemasaan mereka. Popularitas dan karir musik cemerlang tak lagi bisa menyelamatkan hidup mereka dari jeratan alkohol, drug, atau kebiasaan buruk yang kerap mereka lakoni di tengah spotlight dunia hiburan.

Selain Amy, ada sederet musisi-musisi dunia yang tewas di usia ke-27, yang semakin menambah mitos atas teori kebetulan yang dikenal dengan nama Club 27. Siapa saja mereka?

1. Amy Winehouse



London, Sabtu, 23 Juli 2011, musisi berbakat asal Inggris ini ditemukan tewas di rumahnya kawasan North London. Amy yang dikenal lekat dengan alkohol dan narkoba ini ditemukan tewas pukul 4.15 sore waktu setempat. Sampai saat ini penyebab kematian Amy masih simpang siur, meskipun pihak kepolisian mencurigai penyebabnya adalah overdosis obat-obatan. Di luar tampilannya yang urakan dan sering menghiasi media Inggris, dengan penampilan kacaunya, Amy adalah musisi jazz dan blues yang andal dan berkarakter. RIP Amy. We love you.

2. Kurt Cobain


Seattle, 4 April 1994, Kurt ditemukan tewas di rumahnya dengan kondisi mengenaskan, kepala hancur karena senapan yang ditembakkan ke mulut. Di samping mayatnya tergeletak selembar surat yang ditujukan kepada istrinya, Courtney Love. Hingga saat ini kematian Kurt masih jadi misteri meski diyakini dia meninggal karena overdosis, berhalusinasi dan menembak dirinya. Spekulasi lain menyebut Kurt tewas dibunuh. Terlepas dari misteri kematiannya, Kurt adalah musisi cerdas yang menandai perubahan besar dalam perkembangan musik di era 80-an dengan nafas Grunge dan alternative rock modern.

3. Jimi Hendrix



London, 18 September 1970, gitaris terbaik dalam sejarah musik rock ini menghembuskan nafas terakhir. Kematian Jimi masih menjadi misteri hingga kini mulai dari overdosis drug LDS dan alkohol, bunuh diri sampai dugaan pembunuhan. Terlepas dari misteri kematiannya, Jimi adalah musisi blues legendaris yang nama dan karyanya masih dikenang hingga kini.

4. Jim Morrison

Paris, 3 Juli 1971, Jim Morrison yang dikenal sebagai vokalis The Doors ini ditemukan tak bernyawa di bathtub apartemennya. Hingga kini penyebab kematiannya masih simpang siur karena tak pernah dilakukan otopsi. Dugaan saat itu adalah serangan jantung, meski sekitar tahun 2007 kembali muncul kabar bahwa Jim meninggal karena overdosis heroin. Jim memang dikenal sebagai vokalis yang dekat dengan seks, alkohol dan drug. Terlepas dari kehidupannya yang amburadul, Jim adalah salah satu dari 100 penyanyi terbesar sepanjang masa dengan wajah rupawan yang handal meramu musik, puisi, drama, dan theatrical stage persona menjadi karya besar. Jim memang abadi, dan satu quotes tentang kematian yang mewakili sosok Jim adalah `We`re reaching for death/on the end of a candle/We`re trying for something/that`s already found us.`

5. Janis Lyn Joplin


Los Angeles, 4 Oktober 1970, Janis Joplin ditemukan tewas di lantai kamar hotelnya pada usia 27 tahun karena overdosis heroin dan alkohol. Janis, adalah salah satu musisi wanita aliran rock-blues yang sangat populer di era 60-an. Majalah Rolling Stones bahkan menempatkannya di deretan Artis Terpopuler Sepanjang Masa. Karir Joplin memang singkat, tapi penganut antikemapanan ini meninggalkan warisan yang besar dalam dunia musik. Penggemar Blues akan mengingat Joplin sebagai orang yang meyakini soul blues itu dimiliki semua orang selama kita mau merasakannya.