Senin, 28 Maret 2011

Lagi, Setelah 380 Tahun Tidak Diselenggarakan di Taro

Oleh: Agung Bawantara

Upacara ini berlangsung setiap sepuluh tahun sekali. Namanya Panca Bali Krama. Yang kerap diberitakan, di Bali, upacara ini diselenggarakan di Pura Agung Besakih (Karangasem) dan Pura Agung Ulun Danu Batur (Bangli). Namun kali ini, Panca Bali Krama diselenggarakan di Pura Agung Gunung Raung, Taro, Tegallalang, Gianyar. Rangkaian upacara ini berlangsung selama hampir sebulan penuh. Diawali dengan prosesi nunas tirta (mohon air suci) di tiga gunung di Jawa Timur yakni Gunung Semeru, Gunung Bromo dan Gunung Raung (9/3), Melasti ke pantai Purnama Sukawati, Gianyar (13/3), Tawur Agung (20/3), Pucak Karya atau upacara puncak (23/3) hingga Nyineb Karya atau penutupan upacara pada Rabu, 4 April 2011.

Tentang Pura Gunung Raung, ini adalah pura yang dibangun oleh Rsi Markandya pendiri ashram di Damalung, Jawa Timur, yang kemudian datang ke Bali pada abad ke-8 untuk menyebarkan ajaran Sanatana Dharma (Kebenaran Abadi) yang kini dikenal dengan sebutan Hindu Dharma.

Setelah mengawali langkahnya dengan mendirikan Pura Basukian di Besakih, Rsi Markandya membangun pasraman (semacam pesantrian) di Taro. Pasraman inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal berdirinya Pura Gunung Raung di Desa Taro tersebut.

Di desa Taro, Pura Gunung Raung ini terletak persis di tengah-tengah desa dan menjadi pembatas Banjar Taro Kaja (utara) dan Banjar Taro Kelod (selatan). Ini adalah sesuatu yang unik, sebab pada umumnya letak pura di Desa Kuno di Bali adalah di daerah hulu dan di daerah hilir desa. Riwayat perjalanan Sang Rsi hingga mendirikan Pura Gunung Raung ini tercatat dalam lontar Bali Tatwa yang sudah mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.



Dipadati Umat

Selama sebulan, setiap hari ratusan umat Hindu dari seluruh Bali datang untuk bersembahyang. Ada yang datang pagi hari bersamaan dengan upacara Penganyar yang diselenggarakan setiap pagi, ada pula yang datang pada siang, sore bahkan malam hari.

Pada Pucak Karya atau upacara puncak yang digelar pada Rabu (23/3) yang lalu, prosesi upacara dan persembahyangan dipimpin oleh lima sulinggih yakni Ida Pedanda Gede Putra Tembau (Griya Gede Aan), Ida Pedanda Gede Putra Bajing (Griya Tegal Jingga Denpasar), Ida Pedanda Gede Jelantik Karang (Griya Buda Keling, Karangasem), Ida Pedanda Made Gunung (Blahbatuh), dan Ida Pedanda Nyoman Jelantik Dwija (Griya Buda Keling, Karangasem).

Sebelum upacara penutupan pada 3 April 2011 yang ditandai dengan prosesi Rsi Bujana dan Nyineb Ida Bhatara, pada tanggal 30 Maret diselenggarakan beberapa upacara terkait yakni Nyenuk, Nangun Ayu, dan Pengusaban ring Bale Agung. Sedangkan pada tanggal 10 April akan diselenggarakan upacara Nyegara Gunung sebagai rangkaian akhir dari upacara Panca Bali Krama.

Di Pura Gunung Raung Taro, terakhir kali upacara serupa diselenggarakan 380 tahun yang lalu. Hingga saat ini belum ada penjelasan resmi mengapa upacara ini begitu lama tidak diselenggarakan di pura tersebut.

Catatan: Foto-foto karya I Made Widnyana Sudibia

Tulisan Terkait:
Pura Gunung Raung, Dari Sebuah Pohon Bercahaya
Upacara Sepuluh Tahunan di Pura Besakih
Panca Bali Krama, Bangun Keharmonisan Jagat
◄ Newer Post Older Post ►