Selasa, 06 Januari 2009

Pura Tirta Empul Tampaksiring

Tirta Empul bermakna air suci yang menyembur dari dalam tanah. Memang, di pura ini terdapat banyak air yang menyembul dari mata air yang sangat besar. Pura ini terletak di Tampaksiring sebelah timur kawasan Istana Tampaksiring, sebuah istana milik negara tempat di mana presiden RI berisitirahat jika berkunjung ke Bali.

Prasasti Batu yang masih tersimpan di desa Manukkaya menyebutkan pura Tirta Empul dibangun oleh Sang Ratu Sri Candra Bhayasingha Warmadewa di daerah Manukaya. Prasasti ini memuat angka tahun 882 caka (960 masehi)..

Layaknya pura-pura lain di Bali, pura ini memiliki tiga bagian yang merupakan jaba pura (halaman muka), jaba tengah (halaman tengah), dan jeroan (bagian dalam). Pada Jaba Tengah terdapat dua buah kolam persegi empat panjang, dan kolam tersebut mempunyai 30 buah pancuran yang berderet dari timur ke barat menghadap ke arah selatan. Masing-masing pancuran itu menurut tradisi mempunyai nama tersendiri. Satu di antaranya adalah pancuran pengelukatan, pebersihan sudamala, dan pancuran cetik.

Pancuran cetik (racun) dan nama Tirta Empul ada hubungannya dengan mitologi, yaitu pertempuran Mayadenawa, raja Batu Anyar (Bedulu) dengan Dewa Indra. Dalam mitologi itu diceritakan bahwa raja Mayadenawa bersikap sewenang-wenang dan tidak mengizinkan rakyat untuk melaksanakan upacara-upacara keagamaan untuk memohon keselamatan pada Tuhan. Begitu perbuatan itu diketahui oleh para dewa, maka para dewa yang dipimpin oleh dewa Indra menyerang Mayadenawa.

Akhirnya Mayadenawa dapat dikalahkan dan melarikan diri. Ketika pelariannya sampai di utara desa Tampaksiring. Dengan kesaktiannya, Mayadenawa menciptakan mata air cetik yang mengakibatkan banyak para laskar Dewa Indra gugur akibat meminum air tersebut. Melihat hal ini maka Dewa Indra segera menancapkan tombak ke tanah. Dari lubang bekas tancapan itu muncul air (tirta empul) yang berkhasiat memunahkan racun yang diciptakan oleh Mayadenawa.

Mitologi ini mungkin ada hubungannya dengan kedatangan raja Majapahit ke Bali. Ekspedisi Patih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit yang datang ke Bali pada tahun 1314 digambarkan sebagai Dewa Indra, sedangkan Sri Astasura Bhumi Banten yang memerintah dan berkedudukan di Bedulu digambarkan sebagai raja Mayadenawa. Menurut cerita rakyat setempat, mitologi Mayadenawa juga dihubungkan dengan hari raya Galungan, hari terbesar umat Hindu di Bali. Galungan adalah lambang perjuangan antara kebenaran melawan kejahatan.

Bertepatan dengan hari raya Galungan semua barong sakral dari desa-desa yang ada di wilayah kabupaten Gianyar dimandikan dengan air suci Tirta Empul. Barong adalah lambang dari kebaikan. Hingga sekarang, banyak pengunjung Pura Tirta Empul mengambil air salah satu pancuran di sana dengan keyakinan bahwa air tersebut dapat membuat mereka sehat dan awet muda.

Akses
Tampaksiring terletak 41 kilometer dari Kuta. Sekitar 1,5 jam perjalanan dengan mobil berkecepatan normal. Jalan menuju obyek wisata ini sangat bagus. Terlebih obyek ini berdekatan dengan istana negera. Kamu dapat menjangkau obyek ini dengan mudah.

Tiket

Rp 6 ribu per orang.

Pasar Seni

Di depan pura Tirta Empul terdapat pelataran parkir yang sangat luas. Di dekat pelataran tersebut terdapat pasar seni yang menjual beraneka barang kerajinan dan baju-baju bermotif dan bercorak Bali. Selalulah menawar jika kamu hendak membeli sesuatu. Mungkin kamu akan mendapat setengah dari harga barang yang ditawarkan pertama kali.

◄ Newer Post Older Post ►